Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Mengoreksi Graha

KAMIS, 09 JULI 2020 | 08:25 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

HASIL penelitian Pusat Studi Kelirumologi menyadarkan saya bahwa kata Graha merupakan kata bahasa Sansekerta bermakna “buaya”.

Koreksi

Maka saya memberanikan diri meluruskan kekeliruan penggunaan nama Bina Graha yang tentunya bukan dimaksud sebagai gedung di mana dilakukan pembinaan buaya secara harfiah mau pun kiasan.


Namun saya keliru memilih saat melakukan koreksi. Seharusnya saya jangan melakukan koreksi pada masa Orba, sehingga tidak terancam dijebloskan ke dalam penjara atas dugaan mengkritik penguasa.

Maka saya segera menarik kembali koreksi terhadap Bina Graha, meski secara diam-diam saya muat di dalam serial buku Kaleidoskopi Kelirumologi yang kemudian dipersatukan ke dalam Ensiklopedi Kelirumologi.

Orde Reformasi


Setelah masa Orde Baru lalu diganti Orde Reformasi, maka di suasana lingkungan yang seharusnya lebih aman untuk menyampaikan kritik, saya hidupkan kembali koreksi terhadap Bina Graha dilengkapi data-data komprehensif demi meyakinkan bahwa istilah tersebut sebenarnya memang keliru.

Memang saya tidak terancam dipolisikan karena menyampaikan kritik kepada penguasa pada masa (awal) Orde Reformasi, namun naga-naganya kritik saya mubazir analog gonggongan anjing yang tidak dipedulikan kafilah (bukan khilafah!) yang tetap santai melenggang berlalu.

Terbukti tidak ada pemaklumatan resmi pihak penguasa mengganti nama Bina Graha menjadi Bina Grha atau yang lebih benar lagi sesuai aturan tata bahasa yang tepat dan benar seharusnya adalah Grha Bina.

Grha

Dalam bahasa Sansekerta, kata “Grha” bermakna gedung. Kisah kegagalan koreksi saya terhadap Bina Graha merupakan bukti bahwa memang sebenarnya tidak mudah mengkritik pihak yang sudah merasa nyaman dengan kekeliruan yang sudah terkaprahkan. Apalagi jika pihak yang diktritik kebetulan sedang berkuasa.

Lalu masih ada lagi kesimpulan dari fakta kegagalan saya mengritik istilah Bina Graha yaitu bahwa mengkritik harus disampaikan secara benar dalam hal saat.

Mengritik penguasa pada saat penguasa sedang berkuasa pada hakikatnya bukan saat yang tepat. Sebaiknya tunggu sampai terjadi pergantian penguasa. Adalah lebih baik kritik diberikan kepada penguasa pada saat penguasa baru pada masa mulai berkuasa, sehingga kemungkinan kritik diterima jauh lebih besar.

Risiko


Apabila kritik disampaikan pada masa penguasa sudah terlalu lama berkuasa, lazimnya berdampak dua risiko. Pertama: risiko kritik diabaikan oleh penguasa. Kedua: risiko dipolisikan makin besar akibat dugaan mencemarkan nama baik penguasa.

Maka untuk sementara ini saya cukup menghibur diri sendiri dengan mensyukuri kenyataan bahwa pada masa kini sudah mulai cukup banyak gedung-gedung menggunakan istilah Grha seperti misalnya Grha Mandiri, Grha Unilever, Grha Sabda Pramana,  Grha Somaya Hotel, Grha Ciumbulueit Guest House, Grha Kedoya, Grha Ivana, Rumah Sakit Grha MM2100 dan lain-lainnya. Mungkin juga sebenarnya Bina Graha memang lembaga pembinaan buaya. Mungkin.

Penulis adalah pendiri Pusat Studi Kelirumologi

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Tumbuhkan Mimpi Puluhan Anak Nelayan Cilincing Lewat Nobar Film

Senin, 14 September 2026 | 03:18

Sejumlah Alutsista TNI Gercep Sisir Korban KM Virgo Transport 8

Senin, 14 September 2026 | 02:55

Kesehatan di Tepi Republik

Senin, 14 September 2026 | 02:29

Ekonomi Batam Tumbuh 7,28 Persen Bukti Kepercayaan Dunia Usaha Terus Menguat

Senin, 14 September 2026 | 01:54

Terpilih jadi Ketum HPK Kosgoro 1957, Eric Hermawan Langsung Tancap Gas Konsolidasi

Senin, 14 September 2026 | 01:24

Abu Vulkanik Berbahaya bagi Air dan Ikan, Begini Penjelasannya

Senin, 14 September 2026 | 00:55

KDM Dinilai Lebih Utamakan Pencitraan Ketimbang Solusi Defisit APBD Jabar

Senin, 14 September 2026 | 00:33

Menuju HUT ke-81, Panglima TNI Buka Rangkaian 72 Lomba Open Turnamen

Senin, 14 September 2026 | 00:11

SOKSI Siap Tempuh Jalur Hukum Gugat 'Bocor Alus Tempo'

Minggu, 13 September 2026 | 23:48

Asta Cita, Zakat, dan Jalan Baru Mengentaskan Kemiskinan

Minggu, 13 September 2026 | 23:24

Selengkapnya