Berita

Walikota Surabaya Tri Rismaharini saat sujud di hadapan dokter pengurus IDI/Net

Jaya Suprana

Kejujuran dan Kerendahan Hati

JUMAT, 03 JULI 2020 | 09:00 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

29 Juni 2020, di Balai Kota Surabaya ketika menghadiri pertemuan dengan para dokter yang tergabung IDI Jatim dan IDI Surabaya, mendadak walikota Surabaya, Tri Rismamaharini yang akrab dipanggil Risma bersujud sambil menyatakan “Saya memang goblok. Saya tak pantas jadi wali kota”.

Viral

Sujud dan pernyataan Risma menjadi viral sebagai topik perguncingan di medsos. Ada yang menghakimi Risma lebay dan drama.


Ada yang menganggap Risma lemah mental maka mengalami mental breakdown akibat terlalu distressed putus asa menghadapi pageblug Corona.

Ada yang menganggap sujud dan pernyataan merupakan pengakuan Risma bahwa dirinya memang goblok maka tidak pantas menjadi walikota.

Maka ada pula yang langsung minta Risma mengundurkan diri dari jabatan walikota. Bahkan para dokter yang menyebabkan Risma bersujud dan menyatakan dirinya tidak pantas menjadi walikota tidak semuanya simpati terhadap perilaku dan ucapan Risma.

Pada hakikatnya, memang wajar di alam yang (terkesan) demokratis bahwa tidak semua orang memiliki pendapat yang sama.

Langka


Saya pribadi melihat peristiwa walikota  sebagai suatu peristiwa yang langka. Pada kenyataan memang sebenarnya tidak ada manusia yang sempurna, termasuk manusia yang menduduki suatu jabatan tinggi seperti walikota Surabaya sebagai Kota Pahlawan yang dibanggakan oleh bangsa Indonesia.

Akibat tidak ada manusia yang sempurna maka sebenarnya Nelson Mandella, Mahatma Gandhi, Sun Yat Sen, Franklin Dellano Roosevelt, Winston Churchill, Soekarno, Hatta, apalagi Donald Trump, Xi Ying Ping, Vladimir Putin, Mao, Stalin, Hitler atau siapa pun juga pasti tidak sempurna.

Wajar jika Tri Rismamaharini juga tidak sempurna. Namun Risma melakukan sesuatu yang langka dan jarang dilakukan oleh para pemimpin di planet bumi ini, yaitu mengakui bahwa dirinya goblok maka tidak pantas menjadi pemimpin.

Dapat dipastikan bahwa Trump, Xi, Putin tidak pernah berjusud sambil mengakui bahwa diri mereka goblok maka tidak pantas memimpin bangsa mereka masing-masing.

Setahu saya, hanya Mahatma Gandhi yang akibat terlalu sedih melihat negara dan bangsanya terpecah-belah, secara eksplisit mengakui bahwa dirinya gagal memimpin negara dan bangsa yang dicintainya dengan jatuh sakit cukup berat.

Meski jatuh sakitnya Mahatma Gandhi ternyata tidak berbuah apa pun sebab terbukti negara dan bangsa yang dicintainya terpecah belah menjadi India dan Pakistan bahkan kemudian disusul Bangladesh.

Sementara Aung San Suu Kyi yang memperoleh anugrah Nobel untuk Perdamaian yang membiarkan kaum Rohingnya ditindas dan diusir dari bumi Myanmar juga tidak pernah bersujud sambil mengakui dirinya goblok maka gagal membela perdamaian dan kemanusiaan di dalam negeri Myanmar yang sangat memuja putri pahlawan nasional legendaris Myanmar, Aung San.

Jujur dan Rendah Hati


Sadar bahwa diri saya sama sekali tidak mampu berbuat lebih baik ketimbang Risma, saya tidak berani mencemooh sujud dan pengakuan Risma.

Selama berpendapat belum dilarang secara konstitusional di persada Nusantara tercinta ini, saya pribadi berpendapat bahwa sujud dan pengakuan diri goblok maka tidak pantas menjadi walikota Surabaya merupakan suatu perilaku dan ucapan yang pantas diteladani oleh para beliau yang sudah duduk di tahta kekuasaan di negeri kita ini.

Mengakui diri goblog dan tidak pantas menduduki jabatan yang sedang diduduki bagi saya sama sekali bukan citra kelemahan namun justru kekuatan lahir-batin untuk bersikap jujur dan rendah hati.

Kejujuran dan kerendahan hati memang sudah melangka di persada Nusantara masa kini yang tampaknya sudah terlanjur mapan, nyaman dan aman berada di suasana ketidakjujuran dan ketinggian hati. Justru mereka yang jujur dan rendah-hati malah ditafsirkan sebagai lemah plus goblok.

Maka dengan penuh kerendahan hati saya memberanikan diri untuk menyampaikan penghormatan dan penghargaan kepada Tri Rismamaharini yang telah mengajak kita semua termasuk saya untuk senantiasa berupaya menjunjung tinggi harkat dan martabat kejujuran dan kerendahan hati sebagai pedoman peradaban umat manusia dalam menempuh perjalanan hidup sarat kemelut deru campur debu berpercik keringat, air mata dan darah ini. Merdeka!

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya