Berita

Setidaknya ada 28 penyu yang mati di dekat PLTU Teluk Sepang, Bengkulu/Net

Nusantara

28 Penyu Mati Dalam Uji Coba PLTU Teluk Sepang, Keanekaragaman Hayati Terancam

RABU, 05 FEBRUARI 2020 | 10:40 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Teluk Sepang di Bengkulu masih terus dibayangi kontroversi. Bahkan, jadi ancaman serius bagi keanekargaman hayati yang ada di kawasan Teluk Sepang.

Faktanya, kematian massal dialami penyu yang termasuk hewan dilindungi di Teluk Sepang. Jumlah kematian penyu ini terus bertambah seiring selesainya uji coba PLTU Teluk Sepang.

Dalam waktu dekat, PLTU yang merupakan investasi China ini akan resmi beroperasi dengan segala kontroversi hukum dan kerusakan hayati. Karena itu, Presiden Jokowi harus menghentikan proyek berbahaya ini dan mendorong transisi energi ke sumber yang bersih dan berkeadilan.


Sejak awal, PLTU Teluk Sepang merupakan proyek bermasalah yang mendapat penolakan besar dari warga Bengkulu. Pasalnya, dokumen AMDAL PLTU Teluk Sepang tidak sesuai dengan fakta-fakta yang ada di lapangan.

Lokasi PLTU Teluk Sepang yang saat ini berada di Pulau Baai, Kota Bengkulu, juga tidak sama dengan isi dokumen RTRW Bengkulu yang menyatakan area pembangunannya berada di Napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara.

“Jika PLTU Teluk Sepang tetap diresmikan maka akan merusak biota laut. Sebab pantai Bengkulu merupakan bagian dari pantai barat Sumatra yang masuk dalam kategori laut yang kaya akan keanekaragaman hayati,” kata Jurubicara #BersihkanIndonesia dari Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER), Pius Ginting, Rabu (5/2).

Pius Ginting menyebutkan, Convention on Biological Diversity (CBD) menamai daerah ini sebagai Upwelling Zone of the Sumatra-Java Coast, dan dimasukkan ke dalam daerah Ecologically or Biologically Significant Marine Areas (EBSAs). EBSA memiliki signifikansi lebih tinggi terhadap satu atau lebih spesies dari ekosistem dibandingkan daerah lainnya.

Proyek PLTU yang masuk dalam program unggulan 35.000 Megawatt Presiden Joko Widodo ini didanai investor asal China, yakni Power China dan PT Intraco Penta Tbk. China merupakan salah satu investor terbesar untuk program berbasis energi kotor batu bara ini.

Padahal, di negerinya sendiri, China telah melakukan penghentian pembangunan PLTU batu bara dan beralih ke energi terbarukan.

Ironisnya lagi, pada Oktober 2020, China menjadi tuan rumah Konferensi Keragaman Hayati PBB ke-25. China seharusnya bisa menjadi teladan bagi dunia investasi agar peka terhadap keberagaman hayati.

“Sangat disayangkan, investasi langsung China di Indonesia belum memperhatikan daerah-daerah yang signifikan bagi keragaman hayati. Di antaranya pembangunan PLTU Teluk Sepang Bengkulu dan hingga saat ini telah terjadi kematian 28 penyu,” terang Pius.

Yayasan Kanopi Bengkulu pun mencatat, selama masa uji coba pada 19 September 2019 hingga 23 Januari 2020, limbah air bahang yang dikeluarkan PLTU Teluk Sepang diduga kuat menjadi penyebab kematian 28 penyu di perairan Bengkulu, terutama di wilayah Teluk Sepang. Penyu-penyu ini ditemukan mati tidak jauh dari saluran pembuangan limbah Teluk Sepang.

Namun, Pemerintah menyebut kematian penyu-penyu tersebut karena bakteri Salmonella sp dan Clostridium sp. Informasi ini jelas sangat diragukan kebenarannya. Sebab berdasarkan keterangan dari lembaga konservasi internasional, Lampedusa Sea Turtle Rescue Center Italia, kedua jenis bakteri ini umum terdapat di penyu laut tetapi daya patogenitasnya rendah.

“Kami meminta KLHK mengeluarkan surat rekomendasi untuk menunda operasi PLTU Teluk Sepang karena dampak yang telah ditimbulkannya. Pemerintah bisa menyelamatkan masa depan udara bersih bagi masyarakat Bengkulu dengan tidak melanjutkan operasi PLTU kotor tersebut,” tegas Ali Akbar, Jurubicara #BersihkanIndonesia dari Kanopi Bengkulu.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

PKS Minta Pemerintah Fokus Reformasi Kebencanaan, Bukan Merger Besar-Besaran

Kamis, 10 September 2026 | 10:25

Minyak Dunia Kembali Membara, Rupiah Tertekan ke Rp17.528 per Dolar AS

Kamis, 10 September 2026 | 10:10

Prabowo Bicara Masa Depan RI: 2050 Jadi Kekuatan Besar Dunia

Kamis, 10 September 2026 | 10:06

Usai Tiga Hari Ambruk, Harga Emas Antam Kembali Naik

Kamis, 10 September 2026 | 09:57

KPK Bidik Pemilik PT CMC dan Cara Dapat Proyek di Bengkulu

Kamis, 10 September 2026 | 09:39

Banding Kasus Penyiraman Air Keras, Imparsial: Status Tak Boleh Beri Jalur Hukum Khusus

Kamis, 10 September 2026 | 09:38

IHSG Dibuka Hijau, Investor Cermati Sentimen Global

Kamis, 10 September 2026 | 09:31

Mentan Amran Berduka, Tiga Petugas Pertanian Tewas Ditembak di Jayawijaya

Kamis, 10 September 2026 | 09:18

Prabowo Tekankan Pentingnya Persatuan dan Kerukunan dalam Demokrasi

Kamis, 10 September 2026 | 09:11

Bupati Lahat: Indonesia Terus Dukung Kemerdekaan Palestina

Kamis, 10 September 2026 | 09:04

Selengkapnya