Berita

Pria yang diduga Harun Masiku/Net

Publika

Tersangka Atau Korban?

RABU, 22 JANUARI 2020 | 09:11 WIB

LIEUR saya sama anggota DPR ini. Kata dia, Harun itu korban iming-iming Wahyu. Bukan tersangka suap, seperti kata KPK.

Siapa itu korban? Kalau anda di tengah jalan digebuki preman, anda korban kekerasan. Kalau rumah anda kelelep, anda korban banjir. Kalau anda tertidur lelap dan ada maling sikat isi lemari anda, anda korban pencurian.

Dimana kesamaan dari semua korban ini? Kesamaannya, mereka semua tidak punya opsi (pilihan) atas perbuatan yang dilakukan preman, banjir dan pencuri. Mereka harus menerima penderitaan akibat perbuatan orang atau alam.


Kata Masinton, Harun korban iming-iming. Apakah Harun tidak punya opsi lain ketika diminta uang Rp 900 juta? Kalau ia yakin bahwa jabatan itu hak dia, permintaan tersebut adalah hinaan atas martabat dirinya.

Itu sama saja dengan anda diminta uang untuk masuk ke rumah sendiri. Semua orang yang bermartabat pasti akan tersinggung dan marah.

Harun juga punya banyak opsi. Ia tidak mati kalau permintaan Wahyu tidak ia penuhi. Ia bisa memperkarakan Wahyu, dan mengirim Wahyu ke jebakan polisi atau KPK. Ia bisa membuka perkara hukum dengan KPU kalau ia betul yakin bahwa ia benar.

Ia bisa juga minta DPP PDIP memecat orang yang menduduki kursinya. Setelah orang itu dipecat, sesuai hukum KPU pasti melakukan PAW. Nah, pada saat itu ia bisa menduduki kursi yang dianggap miliknya. Presedennya sudah ada, Gerindra melakukan cara di atas untuk mendudukkan orang-orang tertentu.

Artinya, ada banyak pilihan bagi Harun Masiku untuk memperoleh keinginannya tanpa melakukan suap. Ia jelas bukan korban.

Kenyataan bahwa Harun memberikan suap yang diminta Wahyu, lebih bisa dipahami bila menggunakan perspektif KPK.

Menurut kacamata KPK inisiasi “permainan” bukan dari Wahyu, tetapi dari pihak Harun sendiri. Harun melalui orang-orangnya melakukan pendekatan kepada Wahyu. Pendekatan itu memperoleh sambutan positif, seperti pesan balasan Wahyu, "Siap mainkan!" Maksud bersambut menyepakati biaya Rp 900 juta. Namun maksud bersambut itu berujung petaka ketika OTT KPK mengintersep transaksi.

Apa yang terjadi sudah jelas, namun politikus-politikus masih berupaya membengkokkan kebenaran.

Pantas negara ini nggak pernah lurus! Segala macam malah jadi bengkok!

Radhar Tribaskoro

Pemerhati sosial politik dan mantan Komisioner KPUD Jabar


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Bripda Nopandri Anggota Polres Katingan Ditemukan Wafat Usai Gerebek Bandar Narkoba

Sabtu, 04 Juli 2026 | 22:06

GreenBus Pertamina, Ajak Generasi Muda Belajar dari Kampung Hijau Cemara

Sabtu, 04 Juli 2026 | 21:46

Aipda Endang Karyana Gugur usai Tertabrak Tugas di Tol Joglo

Sabtu, 04 Juli 2026 | 21:39

Bank Mandiri Taspen Gelar Appreciation Night Bersama Media di Pantai Sanur

Sabtu, 04 Juli 2026 | 21:10

Kapolri Pimpin Sertijab Enam Kapolda dan PJU Mabes

Sabtu, 04 Juli 2026 | 20:34

Ulang Tahun, Dasco Ucapkan Selamat untuk Nadiem Makarim

Sabtu, 04 Juli 2026 | 20:08

Terus Ada, Ada Terus, BNI Hadirkan Ragam Promo Spesial 80 Tahun Pengabdian

Sabtu, 04 Juli 2026 | 19:44

Partai Demokrat Ajak Publik Terlibat Tentukan Logo HUT ke-25

Sabtu, 04 Juli 2026 | 18:52

Pertamina Buka Rekrutmen Internship bagi Fresh Graduate, Ini Jadwalnya

Sabtu, 04 Juli 2026 | 18:25

KAI Group Angkut 258,99 Juta Penumpang di Semester I 2026

Sabtu, 04 Juli 2026 | 17:57

Selengkapnya