Berita

Perairan Natuna Yang Diklaim China/Net

Nusantara

Pengamat China: Indonesia - China, Eskalasi Persaingan Yang Kompleks Dari Kekuatan Kawasan Lain

SELASA, 07 JANUARI 2020 | 11:30 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Hubungan ekonomi dan dagang China-Indonesia terus tumbuh. China menjadi salah satu tujuan ekspor terbesar Indonesia sekaligus importir bagi China. China juga menjadi negara terbesar ketiga investasi asing langsung ke Indonesia.

Pengamat dari Guangxi University for Nationalities (GUN) Nanning, China, Ge Hongliang, menyebut Indonesia dan China harusnya bisa meningkatkan kerja sama untuk mewujudkan cita-cita masing-masing.

"Seharusnya kedua negara ini memanfaatkan kemitraan strategis komperehensif untuk mewujudkan cita-citanya dengan memperkuat hubungan bilateral," ujarnya dalam artikel yang ditulis di China Daily, Senin (6/1).


Ge Hongliang yang juga adalah Wakil Dekan Fakultas ASEAN di salah satu perguruan ternama di Daerah Otonomi Guangxi itu mengamati bahwa cita-cita 100 tahun Indonesia dan cita-cita 200 tahun China memiliki arah tujuan pembangunan yang hampir sama. Seperti halnya pemerintah China, pemerintah Indonesia juga berkomitmen meningkatkan pembangunan ekonomi dan sosial.

"Setelah terpilih sebagai Presiden Indonesia, Joko Widodo melakukan pendekatan pragmatis untuk meningkatkan pembangunan. Beliau membangun kawasan industri dan berupaya menarik investor asing untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur. Hasilnya bisa dilihat, pembangunan selama kepemimpinan Joko Widodo pada periode pertama sangat bagus," ungkap Ge.

Ia mengutip data periode 2015-2018, pertumbuhan ekonomi Indonesia terus meningkat dari 4,88 persen, 5,03 persen, 5,07 persen, menjadi 5,17 persen.

Pada 2018 itu pertumbuhan ekonomi Indonesia menduduki peringkat ketiga di antara negara-negara kelompok 20 (G20).

Namun, Ge masih melihat adanya beberapa kendala dalam menyinergikan mimpi bersama kedua negara.

"Pertama, nilai perdagangan dan investasi yang tidak seimbang. Indonesia masih defisit 18,22 miliar dolar AS dalam neraca perdagangannya dengan China pada 2018, naik 40,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya," sebutnya.

"Kedua, sejumlah perusahaan China masih menghadapi beberapa kesulitan saat hendak membangun pabrik di Indonesia, seperti pembebasan lahan dan masa berlaku visa kerja yang sangat terbatas," lanjut Ge.

Yang ketiga, perbedaan budaya, khususnya faktor agama masih menjadi isu utama di kedua negara.

Ge pun mendorong penguatan dialog antara Beijing dan Jakarta, terutama dalam mengatasi isu Natuna.

Menurut Ge, China dan Indonesia sedang menghadapi eskalasi persaingan yang kompleks dari kekuatan kawasan lain seiring dengan cepatnya perubahan situasi global, terutama lanskap keamanan yang tidak stabil dan penyesuaian masalah ketenagakerjaan.

"Oleh karena itu, kedua negara perlu memperkuat dialog strategis dan menyinergikan kebijakan pembangunan bersama agar bisa beradaptasi dengan perubahan besar di kawasan dan global serta mendukung program pembangunan bersama," demikian Ge mengakhiri tulisannya di harian berpengaruh di China itu.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

UPDATE

Bahaya Tersembunyi Kerikil di Ban Mobil dan Cara Mengatasinya

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:15

PKS: Pemerintah harus Segera Tetapkan Aturan Pembatasan BBM Bersubsidi

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:14

Mengupas Bahaya Air Keras Menyusul Kasus Penyerangan Aktivis KontraS di Jakarta

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:52

Kemenhaj Tegaskan Komitmen Haji Inklusif bagi Lansia dan Disabilitas

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:47

Qatar Kutuk Serangan Brutal Israel di Lebanon

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Tembus 103 Dolar AS

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:10

AS Kirim Ribuan Marinir ke Timur Tengah, Iran Terancam Invasi Darat

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:41

Wall Street Rontok Menatap Kemungkinan Inflasi Global

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:23

Transformasi Kinerja BUKA: Dari Rugi Menjadi Laba Rp3,14 Triliun di 2025

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:08

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Selengkapnya