Berita

Menhan Prabowo Subianto dalam kunjungan ke Beijing, China, Desember 2019/Ist

Publika

Andai Konflik Dengan China

MINGGU, 05 JANUARI 2020 | 10:36 WIB

PELANGGARAN kedaulatan Negara RI oleh China dengan klaim kepemilikan perairan Kepulauan Natuna menyentak publik. Berbagai komentar sebagai respon cukup beragam. Sikap pejabat publik juga macam macam. Akan tetapi di samping basa basi ketegasan sikap RI bahkan dengan pengerahan "ala kadarnya" pasukan ke  Kepulauan Natuna, nyatanya terasa ada kelemahan nyali menghadapi manuver China tersebut. Para petinggi negeri agak gemetaran mengomentari.

Memang dipastikan kekuatan angkatan perang China jauh lebih unggul daripada Indonesia. Tentara China aktif, cadangan, dan para militer berjumlah 4,5 Juta sementara Indonesia maksimal 1 juta saja. Total aset Angkatan Laut China 714 sedang Indonesia 221 dengan kapal selam 76 berbanding 5. Pesawat tempur 3.187 kita hanya 451. Hampir di semua elemen alat perang kita kalah jauh dari pasukan China.

Di samping pasukan, China juga punya kekuatan lain di Indonesia yaitu potensi kekuatan dalam negeri baik jumlah banyak bangsa China warga negara Indonesia yang tersebar di seluruh daerah, juga para taipan penguasa duit di negeri ini. Mereka potensial menjadi penghianat dalam konflik atau perang seperti ini.


Meski demikian perang sebagai konsekuensi konflik senantiasa tidak hanya bilateral. Ada kepentingan global yang menyertainya. Oleh karenanya keterlibatan pihak ketiga juga tidak terhindarkan. Meski negara yang berperang biasanya harus  "habis habisan" mengorbankan miliknya sebagai konsesi atau kompensasi dari keterlibatan pihak ketiga tersebut.

Jika suasana semakin memanas, maka Presiden dan jajaran Pemerintah akan meminta rakyat untuk siap siaga. Disini umat Islam sebagai mayoritas akan digerakkan sebagai kekuatan perlawanan. Santri, ulama dan tokoh Islam menjadi penting. Radikalisme dan "intoleransi" menjadi keniscayaan dan perlu. Kurikulum jihad, perang dan kekhalifahan dihidupkan. Mereka yang kini menyerukan moderasi, deradikalisasi, atau toleransi menjadi tidak laku.

Sekarang pula kita sadar bahwa program One Belt One Road China yang disambut gembira itu ternyata berbahaya. Daerah pembangunan di pantai pantai utara Jawa, Sumatera, Kalimantan atau Sulawesi akan menjadi pangkalan penyerbuan. Menteri Kemaritiman dan Investasi yang berperilaku seperti agen China ini harus bertanggungjawab atas dosa besarnya atas bangsa dan negara Indonesia.

Pemindahan Ibukota ke Kalimantan juga rawan, apalagi dengan investasi terbesar adalah China. Kalimantan dengan lahan yang luarbiasa besar dan kosong merupakan  sasaran strategis sebagai basis pendudukan pasukan China. Geostrategis dan geopolitis peperangan akan mengkalkulasi seperti ini.

Oleh karenanya menghadapi potensi konflik dengan RRC maka langkah yang bisa diambil adalah :

Pertama, bawa kasus sengketa Natuna ke peradilan PBB sehingga ketika klaim China dikalahkan dan negara ini memaksakan maka PBB akan ikut turun tangan membantu Indonesia. Kemenangan Filipina atas China bisa dicontoh.

Kedua, jangan mengalah pada gertak China karena mengalah berarti memberi kesempatan China untuk "menyiapkan" penaklukan lanjutan melalui program kemaritiman. Landasan pendaratan sudah disiapkan oleh kebodohan kita sendiri.

Ketiga, waspadai dan ambil kebijakan pembatasan pada bangsa China diaspora yang ada di Indonesia. Sebab dengan aset yang dikuasai akan menjadi modal besar andai mereka berubah status menjadi bagian dari pasukan China.

Keempat, pelihara hubungan keagamaan dengan umat Islam khususnya.
Ulama dan tokoh umat yang militan adalah penggerak umat dan rakyat untuk melakukan perjuangan perlawanan. Jangan salah mengambil kebijakan pragmatis atau sekuler yang menepikan agama dari bangsa.

Nah persoalannya adalah jika kasus Natuna saat ini ternyata menjadi mainan bersama antara Penguasa China dengan Penguasa Indonesia tertentu yang memiliki kepentingan besar ke depan. Disinilah intelijen kita harus mengendus dan memporak porandakan rencana jahat para kokaborator tersebut. Hukum mati para penghianat bangsa.

M Rizal Fadillah
Pemerhati Politik

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Bripda Nopandri Anggota Polres Katingan Ditemukan Wafat Usai Gerebek Bandar Narkoba

Sabtu, 04 Juli 2026 | 22:06

GreenBus Pertamina, Ajak Generasi Muda Belajar dari Kampung Hijau Cemara

Sabtu, 04 Juli 2026 | 21:46

Aipda Endang Karyana Gugur usai Tertabrak Tugas di Tol Joglo

Sabtu, 04 Juli 2026 | 21:39

Bank Mandiri Taspen Gelar Appreciation Night Bersama Media di Pantai Sanur

Sabtu, 04 Juli 2026 | 21:10

Kapolri Pimpin Sertijab Enam Kapolda dan PJU Mabes

Sabtu, 04 Juli 2026 | 20:34

Ulang Tahun, Dasco Ucapkan Selamat untuk Nadiem Makarim

Sabtu, 04 Juli 2026 | 20:08

Terus Ada, Ada Terus, BNI Hadirkan Ragam Promo Spesial 80 Tahun Pengabdian

Sabtu, 04 Juli 2026 | 19:44

Partai Demokrat Ajak Publik Terlibat Tentukan Logo HUT ke-25

Sabtu, 04 Juli 2026 | 18:52

Pertamina Buka Rekrutmen Internship bagi Fresh Graduate, Ini Jadwalnya

Sabtu, 04 Juli 2026 | 18:25

KAI Group Angkut 258,99 Juta Penumpang di Semester I 2026

Sabtu, 04 Juli 2026 | 17:57

Selengkapnya