Berita

Menkeu Sri Mulyani/Net

Bisnis

Diingatkan Tapi Tak Digubris, Sri Mulyani Malah Sebut Pakar Tak Bisa Prediksi Ekonomi Global

JUMAT, 06 DESEMBER 2019 | 01:22 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani tentang kondisi ekonomi global yang sulit diprediksi oleh pembuat kebijakan hingga pakar. Saat itu, Sri menilai pakar terlalu pesimis.

Alih-alih menyalahkan para pakar, justru Sri Mulyani lah yang enggan mendengarkan masukan dari pakar sejak tiga tahun lalu untuk meyikapi tantangan ekonomi ini.

Begitu ditegaskan Ekonom INDEF Bhima Yudhistira saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL di Jakarta, Kamis (5/12).


"Kita sudah ingatkan sejak 3 tahun lalu bahwa akan terjadi gejolak ekonomi. Jadi kami kurang sepakat kondisi ekonomi tidak bisa diprediksi. Yang ada pemerintah kurang mendengar masukan pengamat (ekonomi) yang objektif," tegas Bhima.

Sebelumnya, Sri Mulyani berdalil bahwa imbas dari perang dagang antara Amerika Serikat dan China kepada negara-negara berkembang sedikit banyaknya akan mengakibatkan ketidak pastian ekonomi global. Termasuk, Indonesia akan terkena dampaknya.

Terlebih, kata Sri Mulyani, soal pattern (pola) dan frekuensi yang saat ini terjadi membuat kondisi ekonomi sulit diprediksi.

Bhima menegaskan, pihaknya telah mengingatkan pemerintah sejak jauh-jauh hari soal potensi gejolak ekonomi yang bakal terjadi di masa depan. Namun, pemerintah tak pernah menggubris.

"Indikasi tutup nya beberapa retail besar, turunnya penjualan kendaraan bermotor dan konsumsi yang melambat. Itu sinyal akan terjadi tsunami ekonomi. Tapi saran kami kurang didengar, jelang Pemilu pemerintah malah gembar gemborkan ekonomi Indonesia kuat. Padahal keropos," tuturnya.

Lebih lanjut, Bhima menyebut Menkeu dua periode itu seolah tidak memiliki kepekaan terhadap potensi krisis ekonomi sama sekali.

"(Sri Mulyani) tidak ada senses of crisis," tandasnya.  

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

AKPI Perkuat Profesionalisme dan Integritas Profesi

Senin, 13 April 2026 | 19:51

KNPI: Pemuda Harus Jadi Penyejuk di Tengah Isu Pemakzulan

Senin, 13 April 2026 | 19:50

14 Kajati Diganti, Termasuk Sumut dan Jatim

Senin, 13 April 2026 | 19:31

Cara Buat SKCK Online lewat SuperApps Presisi Polri, Mudah dan Praktis!

Senin, 13 April 2026 | 19:17

Bersiap Long Weekend, Ini Daftar 10 Tanggal Merah di Bulan Mei 2026

Senin, 13 April 2026 | 19:16

Viral Dokumen Kerja Sama Udara RI-AS, Okta Kumala: Kedaulatan Negara Prioritas

Senin, 13 April 2026 | 19:14

Daftar Hari Libur Nasional Mei 2026, Ada 3 Long Weekend

Senin, 13 April 2026 | 19:07

Ajudan Gubernur Riau Terima Fee Proyek Rp1,4 Miliar

Senin, 13 April 2026 | 19:02

4 Penyakit yang Harus Diwaspadai saaat Musim Pancaroba

Senin, 13 April 2026 | 18:57

Ongen Sentil Pengkritik Prabowo: Jangan Sok Paling ‘98’

Senin, 13 April 2026 | 18:52

Selengkapnya