Berita

Foto: Ilustrasi

Publika

Dialog Islam Dan Konghucu: Mencari Titik Temu

MINGGU, 01 DESEMBER 2019 | 20:54 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

MENINGKATNYA sentimen suku, ras, maupun agama yang dipacu dan dipicu oleh masifnya penggunaan media sosial, tampaknya menjadi alasan diadakannya dialog antara tokoh-tokoh Islam dan Konghucu di Malaysia.

Dialog berskala international yang diberi tema: Islam- Confucianism, Civilization Dialogue, diadakan selama 2 hari  (30 November sampai dengan 1 Desember), di SPICE Convention Center, Pulau Pineng, menghdirkan para pembicara dari Malaysia, Singapore, China, Hong Kong, dan Amerika.

Dialog berskala internasional ini dihadiri sekitar 300 peserta baik dari Malaysia maupun luar negri. Dari Indonesia hadir disamping Chandra Setiawan dari Majlis Tinggi Agama Khonghucu (MATAKIN) dan saya mewakili ICMI, juga tampak sejumlah mahasiswa Indonesia yang kuliah di berbagai perguruan tinggi di Malaysia.


Fenomena yang dalam ilmu sosial  dikenal dengan istilah populisme ini, sebenarnya tidak khas Malaysia, akan tetapi juga terjadi di seluruh dunia, termasuk di Eropa dan Amerika.

Masalahnya menjadi semakin parah, disebabkan oleh banyaknya para politisi yang memanfaatkan situasi ini, untuk mendapatkan dukungan pribadi ataupun kelompok demi tujuan jangka pendek, dengan mengabaikan kepentingan bersama yang berjangka panjang.

Anwar Ibrahim yang diundang sebagai pembicara kunci pada acara pembukaan mengingatkan, bahayanya semangat rasisme yang mengunggulkan ras tertentu, dan pada saat bersamaan merendahkan ras lain.

Fenomena inilah yang kembali melanda Barat yang mengakibatkan munculnya fenomena Islamophobia, Xenophobia, dan phobia-phobia lain.

Anwar Ibrahim dengan nada keras mengingatkan ; Tampaknya dunia Barat belum cukup belajar dari pengalaman bencana kemanusiaan yang diakibatkan oleh Hitler dan Mussolini.

Banyak yang menarik untuk disimak dalam dialog ini. Misalnya saat sejumlah pembicara membandingkan antara Islam dan Konghucu dan mencoba untuk melihat kesamaan antara keduanya.

Diantara kesamaan yang menarik diungkapkan oleh Prof. Peter.T.C.Chang dari University of Malaya. Prof. Chang menyatakan bahwa bagi agama Shinto, Tuhan hanya untuk orang Jepang. Sementara bagi agama Yahudi, Tuhan hanya untuk Bani Israel.

Sedangkan baik Islam maupun Konghucu, keberadaan Tuhan dalam keyakinan dua agama ini, untuk seluruh ummat manusia apapun suku ataupun rasnya.

Dengan kata lain Islam dan Konghucu memiliki kesamaan dalam masalah kemanusiaan yang sifatnya sangat universal.

Prof. Chang bahkan menguraikan bahwa di dalam Islam secara tegas dinyatakan tidak ada perbedaan antara mereka yang Arab dan non-Arab, karena yang kemuliaan seorang hamba di sisi Tuhannya hanya ditentukan ada oleh tingkat ketaqwaannya.

Kesamaan lain diutarakan oleh Dr. James D.Frankel dari Columbia University, Amerika, yang menyatakan bahwa ibadah dalam bentuk ritual dalam dua agama ini, disamping harus dilakukan secara fisik, ditopang oleh hati yang tulus dan dalam keadaan tenang (khusuk), juga harus diartikulasikan dalam kehidupan sosial (dalam masyarakat), serta terhadap alam semesta secara keseluruhan (seperti hewan, tanaman, tanah, air, dan udara).

Yang paling menarik bagi saya pribadi adalah kesamaan yang diutarakan oleh Prof. Dr. Omar Min Ke Qin seorang peneliti lulusan IIUM, yang kini menjadi peneliti di The Ibn Khaldun International Institute of Advanced Research (ISTAC). ISTAC yang dulu didirikan kemudian dipimpin oleh seorang filosof Malaysia bernama Syed Muhammad Naquib al-Attas. Kini ISTAC dipimpin oleh Prof. Osman Bakar.

Prof. Omar Min melihat Konghucu sebagai agama yang meng-Esakan Tuhan, mirip dengan Tauhid dalam Islam. Karena itu, ia meyakini bahwa Konghucu bukan mustahil merupakan salah satu dari Rasul yang jumlahnya 313,  atau salah satu dari 124 ribu Nabi yang dilahirkan di daratan China, di luar dari 25 orang Nabi yang harus diimani yang namanya disebutkan secara eksplisit.

Pandangan ini mirip dengan pendapat Almarhum Buya Hamka, seorang ulama Indonesia yang sangat dihormati baik di Nusantara, maupun di dunia Islam. Wallahua'lam.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan Demokrasi.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

AXA Mandiri Financial Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 17:59

Menteri Pigai Keliling SPBU: Hari Ini Distribusi BBM Bali Aman!

Minggu, 18 Oktober 2026 | 17:35

AS Ultimatum Iran: Patuhi Kesepakatan Nuklir atau Hancur

Minggu, 18 Oktober 2026 | 17:26

Bareskrim dan BNN Obok-Obok Kelab Malam, Sembilan Orang Positif Narkoba

Minggu, 18 Oktober 2026 | 17:17

Wali Kota Prancis Dipukuli Warga Israel di Tepi Barat

Minggu, 18 Oktober 2026 | 16:45

Masyarakat Diimbau Tingkatkan Kesadaran dan Partisipasi dalam Pencegahan Karhutla

Minggu, 18 Oktober 2026 | 16:42

Kabut Asap Picu Lonjakan Penjualan Tabung Oksigen dan Air Purifier di Asia Tenggara

Minggu, 18 Oktober 2026 | 16:04

Perlu Sistem Pencegahan Karhutla agar Warga Tak Terus Jadi Korban

Minggu, 18 Oktober 2026 | 15:51

Syarikat Islam Didorong Jadi Kekuatan Besar Ekonomi Umat

Minggu, 18 Oktober 2026 | 15:26

KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa

Minggu, 18 Oktober 2026 | 15:11

Selengkapnya