Berita

Hidayat Nur Wahid/Net

Politik

PKS: HTI Dan FPI Beda Dalam Maknai Khilafah

JUMAT, 29 NOVEMBER 2019 | 15:19 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Izin perpanjangan ormas FPI atau Surat Keterangan Terdaftar (SKT) masih terus bergulir. Kini bola panas ada pada Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.

Hal itu setelah Menteri Agama Fachrul Razi menilai FPI memenuhi semua syarat untuk menjadi ormas, termasuk kesetiaan pada Pancasila.

Namun Tito tidak langsung memperpanjang izin FPI. Dia masih menyoal komitmen FPI pada Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ini lantaran ada bahasan khilafah di AD/ART ormas tersebut.


Menanggapi itu, Wakil Ketua Majelis Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid mengurai bahwa Menteri Fachrul sudah memberi acuan detail tentang FPI, sehingga rekomendasi itu baiknya langsung dieksekusi. Apalagi, Menag memang diberi kewenangan untuk melakukan kajian mendetaik.

“Menag kan sudah menyimpulkan bahwa HTI dan FPI tidak sama," tegasnya di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (29/11).

Baginya, kata khilafa islamiyah dalam AD/ART FPI tidak perlu dipersoalkan, apalagi ditentangkan dengan Pancasila.

Kemenag, sambung wakil ketua MPR itu, sudah memastikan bahwa khilafah yang dimaksud FPI sudah sejalan dengan Pancasila. Khilafah yang dimaknai FPI, katanya, berbeda dengan yang dipahami HTI.

“Kalau FPI kemudian menerima Pancasila, menerima NKRI. Kalau HTI kan kHilafahnya menolak NKRI, menolak Pancasila," tegasnya. (02han)

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

Ngobrol Serius Bareng Macron

Rabu, 15 April 2026 | 01:59

Diplomasi Konstruktif Diperlukan Buat Akhiri Perang di Selat Hormuz

Rabu, 15 April 2026 | 01:41

BGN Bantah Hapus Pemberian Susu dalam Program MBG

Rabu, 15 April 2026 | 01:13

Pujian Habiburokhman ke Polri soal Transparansi Sesuai Realitas

Rabu, 15 April 2026 | 00:58

Prabowo Disambut Pasukan Kehormatan saat Temui Macron di Istana Élysée

Rabu, 15 April 2026 | 00:35

Taman Sunyi: Sebuah Pembelaan atas Rumah-Rumah Fantasi

Rabu, 15 April 2026 | 00:06

Maruli Tuntut Yayasan Tanggung Biaya Perawatan Head Chef SPPG

Selasa, 14 April 2026 | 23:55

DPR Sambut Baik MDCP: Bisa Buka Kerja Sama Lain

Selasa, 14 April 2026 | 23:37

AFPI Buka Suara Usai Didenda KPPU: Kami Hanya Melindungi Konsumen

Selasa, 14 April 2026 | 23:12

Denda Rp755 Miliar ke Perusahaan Pinjol Menguak Borok Regulasi

Selasa, 14 April 2026 | 22:48

Selengkapnya