Berita

Presiden Joko Widodo/net

Publika

Makna Pakewuh

SELASA, 29 OKTOBER 2019 | 17:37 WIB

NGGAK enakan adalah istilah untuk perasaan sungkan berlebihan, atau ewuh pakewuh. Dalam batas normal ini adalah situasi perasaan yang baik, wujud dari kesopan santunan budaya timur, refleksi dari keberadaan rasa malu yang merupakan fitrah manusia.

Namun kalau porsi dan penempatannya tidak tepat maka nggak enakan membuat manusia dapat melanggar batas keadilan dan rasa kepatutan. Cenderung tidak berjalannya proses berbeda dalam dialektika pendapat, pandangan atau sikap yang membatasi pendapat dalan pengungkapan pada kebenaran.

Nggak Enakan yang berlebihan, dapat memicu seseorang untuk jadi pribadi “Yes Boss” atau Asal Bapak Senang (ABS). Apa yang dilaporkan tidak sama dengan kenyataannya, di depan berbicara ya dan di belakang bilang tidak, bahkan cenderung mengabaikan fakta. Kondisi kekinian malah lebih parah jika sampai membiarkan atasan dalam kebijakannya melakukan hal yang keliru,ini malah bisa menjadi masalah baru dalam sebuah wadah atau organisasi.


Bahwa diketahui semua manusia tak bisa luput dari salah sehingga perlu dikoreksi, diluruskan, dan diarahkan dengan baik. Sekalipun orang tersebut memiliki posisi di atas kita yang membuat rikuh apabila ditolak permintaannya.

Rasa Nggak Enakan dapat membuat manusia tidak memberikan hak orang lain yang dititip Allah melalui dirinya. Diberikan pada orang lain yang justru bukan pemilik hak itu dikarenakan sungkan pada kedudukan atau kedekatan dengan orang kedua ini.

Adilkah bila si A kehilangan haknya hanya karena si B merasa Nggak Enak pada si C sehingga si C yang dapat? Bukankah tidak adil ketika pemenuhan hak orang lain didasarkan pada rasa pribadi? Suka, benci, sungkan, malu, kasihan adalah perasaan yang biasanya mencampuri pertimbangan manusia dalam bertindak.

Ajaran agama  sudah mengingatkan : "Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan".

Di luar konteks pemenuhan hak orang lainpun nggak enak membuat manusia kehilangan kewajiban dan haknya untuk berlaku baik meringankan kesusahan orang lain.

Nggak enak menawarkan bantuan, nggak enak membuatkan sistem baru yang membuat orang jadi lebih dimudahkan urusannya, Nggak Enak pada orang lain untuk memulai perubahan. Adalah hal yang tidak patut manusia melepas peluang berbuat baik dan melakukan perbaikan karena Nggak Enak atau pakewuh pada manusia.
 
Nggak enak bukan selalu refleksi kesantunan, apalagi bawa bawa rasa ketimuran dan esensi moral yang dari nilai rasa yang tidak tepat, atau fakta yang salah apalagi kalau porsi dan penempatannya tidak tepat.

Nggak enak menerima, menolak maupun menawarkan dapat membuka pintu bagi ketidakadilan pada diri sendiri dan orang lain. Apabila rasa Nggak Enakan itu dimiliki oleh orang-orang di posisi kunci kekuasaan, apakah berpengaruh pada pengambilan kebijakan yang berdampak pada lingkungan atau masyarakat luas sekalipun.

Nggak enak pada partai yang mengusung, nggak enak pada tokoh yang mendukung, nggak enak pada para pemodal.

Adakah rasa nggak enak atau ewuh pakewuh pada Sang Maha Melihat? Adakah enggak enak sama makna dan jiwa ber-Ketuhanan Yang Maha Esa? Adakah enggak enak pada sudah banyak nikmat yang di kasi Tuhan pada diri? Maka kuncinya biasakanlah kejujuran, berterus terang dengan elegan, ekspresikan kebutuhan yang nyata tanpa harus merugikan orang lain. Pasti tujuan organisasi akan tercapai bila selalu ada terus terang dan kejujuran, maka rasa enggak enakkan pun akan sirna.

Azmi Syahputra

Penulis adalah Ketua Asosiasi Ilmuwan Praktisi Hukum Indonesia (Alpha)

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Dasco Ungkap Target Closing RUU Ketenagakerjaan

Minggu, 07 Juni 2026 | 19:49

Ahmad Luthfi Minta Daerah Dilibatkan dalam Evaluasi MBG

Minggu, 07 Juni 2026 | 19:23

Pameran "Aku Arek Suroboyo" Kuak Sisi Lain Bung Karno yang Jarang Diketahui

Minggu, 07 Juni 2026 | 19:11

Usulan Natalius Pigai, Ikhtiar Hadirkan Polri Lebih Modern dan Adaptif

Minggu, 07 Juni 2026 | 18:53

Pajak, Kepercayaan dan Kontrak Sosial

Minggu, 07 Juni 2026 | 18:49

Jalur Titipan SPMB Masuk Pidana Korupsi, Mau Anak Pintar Kok Nyogok...

Minggu, 07 Juni 2026 | 18:23

Jurus Seribu Langkah Gagal, Eksekutor Jambret Jakbar Digulung!

Minggu, 07 Juni 2026 | 17:36

Ditolak Daerah, Mubes V Kosgoro 1957 Dianggap Cacat Prosedur

Minggu, 07 Juni 2026 | 17:32

Hari Lingkungan Hidup, Pertamina Gaspol Inovasi Sampah dan Tanam Pohon

Minggu, 07 Juni 2026 | 17:24

Ini Instruksi Khusus Prabowo ke Seskab Teddy Soal Sekolah Rakyat

Minggu, 07 Juni 2026 | 17:07

Selengkapnya