Berita

Jokowi di lokasi karhutla/Net

Politik

Walhi: Jokowi Jangan Cuma Cuap-cuap Soal Karhutla, Masyarakat Rugi Besar

MINGGU, 15 SEPTEMBER 2019 | 17:26 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Keterlibatan aparat yang diterjunkan dalam penanganan kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di Sumatra Khususnya Riau menunjukan kondisi darurat.

Meski demikian sikap pemerintah yang tidak mengakui kondisi kedaruratan dan seperti menutup mata dengan kondisi sangat disayangkan.

Demikian yang disampaikan oleh Manager Kampanye, Pangan, Air dan Ekosistem Esensial Eksekutif Nasional (Eknas) Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Wahyu Perdana.


"Kalau Presiden serius langkahnya harus linier. Bukan hanya berstatement," ungkapnya saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (15/9).

Wahyu menyatakan, pemerintah harus membuka mata dengan keputusan yang telah dikeluarkan oleh Mahkamah Agung.

"Kalau memang serius buka dong data yang MA sebut. Mana saja perusahaan yang bermasalah, jadi publik tahu dan turut mengawasi," tegas Wahyu.

Soal klaim pemerintah yang katanya akan menurunkan angka Karhutla, Wahyu menjelaskan di tahun 2015 memang ada penurunan.

Tetapi faktanya sekarang angka itu terus naik sejak tahun 2017. Lalu hari ini Karhutla  terjadi  sedemikian parah dan sangat membahayakan.

Untuk jangka pendek Walhi berharap pemerintah bertindak cepat untuk menangani masalah kedaruratan ini dengan memprioritaskan kesehatan Masyarakat.

"Bayangkan harga tabung oksigen seukuran semprotan nyamuk yang semula harganya Rp 150 ribu sekarang harganya naik menjadi Rp 500 ribu dan sulit didapatkan," terang Wahyu.

Dalam upaya jangka menengah pemerintah harus mengevaluasi perijinan. "Kerugian yang kita terima lebih besar dari kerugian investasi, negara harus hadir untuk Karhutla," pungkasnya.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

September 2026, Industri Kayu Tertekan Karhutla

Rabu, 30 September 2026 | 20:27

Komisaris Asuransi Tokio Marine Indonesia Dicecar KPK Soal Pencairan Komisi Fiktif Asuransi Pelni

Rabu, 30 September 2026 | 20:26

Prabowo Minta Efisiensi APBN Tetap Terukur demi Kesejahteraan Rakyat

Rabu, 30 September 2026 | 20:26

Insentif Pajak Gaji Karyawan di Bawah Rp10 Juta Berlanjut Hingga 2027

Rabu, 30 September 2026 | 19:51

Bulu Tangkis Sumbang 6 Medali Asian Games, BNI Apresiasi Pembinaan PBSI

Rabu, 30 September 2026 | 19:36

Pancasila, Persatuan, dan Ujian Geopolitik

Rabu, 30 September 2026 | 19:23

33,2 Juta Keluarga Akan Terima Bantuan Beras 10 Kg selama Oktober-Desember

Rabu, 30 September 2026 | 19:12

Pemerintah Siapkan Stimulus Ekonomi Rp31 Triliun di Kuartal IV 2026

Rabu, 30 September 2026 | 19:01

Dakwah Ekonomi Syarikat Islam Sejalan dengan Visi Prabowo

Rabu, 30 September 2026 | 18:34

Pengelolaan Gambut di Riau Jadi Rujukan Badan Baru Bentukan Prabowo

Rabu, 30 September 2026 | 18:28

Selengkapnya