Berita

Sri Mulyani/Net

Publika

Sri Mulyani Jadi Ketua Umum IAEI, Lelucon Yang Tidak Lucu!

MINGGU, 25 AGUSTUS 2019 | 07:46 WIB

MUKTAMAR Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) telah menunjuk Sri Mulyani menjadi ketua umum periode 2019-2023. Dilihat dari perspektif apapun, Sri Mulyani tidak pantas menyandang jabatan tersebut. Bila dipaksakan, lebih baik copot saja label Islamnya, sehingga menjadi Ikatan Ahli Ekonomi (IAE) saja.

Dalam sejarahnya, kehadiran ekonomi Islam dimaksudkan menjadi solusi atas kegagalan ekonomi konvensional dalam mewujudkan ekonomi yang berkeadilan. Ekonomi rente yang berbasis bunga dianggap sebagai kelemahan yang harus ditutup dengan konsep bagi hasil secara Islami.

Krisis 1998 dimana industri perbankan konvensional mengalami kehancuran total menyisahkan keajaiban yakni masih kokohnya institusi keuangan berbasis syariah. Sejak saat itulah industri keuangan syariah mengalami booming besar. Berbagai kampus juga membuka jurusan atau program studi ekonomi Islam untuk menunjang kesediaan SDM.


Hal mendasar yang ditekankan dalam ekonomi Islam adalah membersihkan semua transaksi dari unsur riba/bunga. Oleh karena itu, institusi keuangan konvensional yang membuka anak usaha berbasis syariah diharuskan memisahkan manajemen dan kas keuagannya dari perusahaan induknya.

Saat ini perkembangan ekonomi Islam patut disyukuri. Hampir semua institusi keuangan sudah memiliki basis syariah. Maka kemudian muncullah ikatan profesi yang menyandang label Islam.

Pelabelan Islam dalam sebuah nama organisasi semestinya juga diikuti ketentuan syariah. Apalagi yang menyangkut kriteria ketua unumnya. Terkait dengan terpilihnya Sri Mulyani menjadi Ketua Umum IAEI, maka patut disesalkan karena tidak memenuhi ketentuan syariah.

Saat ini banyak tokoh ekonomi Islam yang lebih layak diberikan amanat sebagai Ketua Umum IAEI. Komunitas ekonomi Islam tidak boleh menaturalisasi tokoh ekonomi konvensional menjadi pimpinan komunitas ekonomi Islam.

Jalan pintas naturalisasi Sri Mulyani telah menjadikan ikhtiar panjang membangun ekonomi berbasis syariah bisa hancur lebur. Sosok yang sudah berkelindan dengan unsur ribawi tidak seharusnya dijadikan pimpinan komunitas ekonomi Islami.

Pilihan tersebut juga menyulut pertanyaan tentang kegagalan komunitas ekonomi Islam dalam menyiapkan generasi yang handal dan Islami. Rentang dari 1998 hingga 2019 mestinya sudah mampu memunculkan tokoh ekonomi Islam yang tidak kalah dengan Sri Mulyani.

Dilihat dari cara berbusana saja, pakaian yang dikenakan Sri Mulyani belum mencukupi ketentuan syariah. Bisa dibandingkan di semua institusi syariah, karyawan wanitanya pasti memakai busana muslimah. Dikhawatirkan para pegawai wanita insitusi keuangan syariah tersebut akan meniru gaya berpakaian ketua umum IAEI.

Kenekatan Muktamar IAEI yang menunjuk Sri Mulyani menjadi ketua umumnya dikhawatirkan bisa memperburuk perkembangan ekonomi Islam di Indonesia. Tidak tertutup kemungkinan akan terbukanya integrasi antara ekonomi Islam dengan ekonomi konvensional. Bila sudah demikian, tidak ada beda lagi bertransaksi di lapak syariah dengan di lapak konvensional.

Sri Mulyani selama ini sudah berkelindan dengan ekonomi yang berbasis bunga. Bahkan belum ada sejarahnya Sri Mulyani memimpin lembaga keuangan syariah. Bila sekarang dipercaya menjadi Ketua Umum IAEI, maka inilah yang disebut lelucon yang tidak lucu.

Cukup ekonomi konvensional saja yang dirusak oleh Sri Mulyani. Para praktisi dan akademisi ekonomi Islam harus menjaga kemurnian ekonomi Islam agar tidak dijadikan sebagai kuda troya.

Sya'roni, SEI
Alumnus Ekonomi Islam UIN Syarif Hidayatullah


Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya