Berita

Joko Widodo hadir di Kongres PDIP/RMOL

Publika

Siap Untuk Menyambut Krisis?

JUMAT, 09 AGUSTUS 2019 | 09:55 WIB | OLEH: SYAFRIL SJOFYAN

MENCERMATI pidato Jokowi pada Rakernas PDI Perjuangan di Bali (8/8) tentang kebijakan tak populer, yakni pada 2015 ketika memutuskan untuk memangkas subsidi bahan bakar minyak (BBM). Adalah sebagai sinyal bahwa Jokowi akan menaikan harga BBM dan listrik pada awal periode keduanya, dengan alasan klise bahwa untuk kepentingan rakyat bawah,  karena subsidi hanya dimanfaatkan oleh golongan ekonomi mapan, dan lain-lain dan sebagainya.

Tidak aneh jika kebijakan tidak populer ini akan diambil oleh Jokowi, pada periode kedua, dan sudah sangat gampang diduga sebelumnya, jika kebijakan tersebut oleh pihak Istana dianggap sebagai ide tanpa beban dari Jokowi pada periode kedua atau ada juga yang menyatakan ide gila, demikian oleh sebagian media dipopulerkan.

Kenapa saya katakan bahwa ide Jokowi tersebut sudah gampang diduga, karena secara hitungan politik sudah tidak akan ada hambatan lagi, Koalisi pendukung yang gemuk, dan barisan oposisi yang kuat sudah dilemahkan, hanya sisa PKS di parlemen yang menyatakan dengan tegas akan berada di luar, kalaupun PAN menyusul karena tidak kebagian kue kekuasaan, perlawanan di parlemen sangat kecil, pendeknya Jokowi bisa berbuat apa saja.


Kembali ke ide gila, tepatnya juga tidak orisinil mengingat kondisi ekonomi Indonesia yang loyo saat ini, defisit di berbagai sendi ekonomi, dan capaian target pajak rendah sekali, pembayaran pokok utang plus bunga juga besar, sebagai akibat salah urus ekonomi pada periode pertama (belum berakhir), pertumbuhan ekonomi juga stagnant dan tidak pernah mencapai target yang ditetapkan dari tahun ke tahun, sementara keinginan meneruskan infrastruktur masih tetap mengebu-ngebu, termasuk keinginan pindah ibukota, bukan semakin turun seperti yang pernah diutamakan dalam debat, tetapi malah akan bertambah, untuk program SDM bisa saja hanya sekadar bungkus, paling tidak untuk ide mengimpor rektor, ibaratnya impor Ronaldo butuh sekadar tambahan fulus, hebohnya akan menghibur.

Untuk tetap pembangunan berjalan dengan kondisi ekonomi loyo tersebut, hanya satu jalan keluarnya tetap saja menambah utang.

Debitur tentu juga bersedia mengalirkan utang dengan jaminan kemampuan membayar. Hal yang sangat lumrah dalam pinjam-meminjam. Debitur merasa yakin akan jika memenuhi persyaratan yang mereka tentukan, syarat yang paling gampang adalah pangkas subsidi, dan lakukan austerity, (penjelasan Dr. Rizal Ramli terhadap kebijakan keuangan negara yg dilakukan selama ini oleh Menteri Ekonomi Jokowi).

Artinya kebijakan yang dikatakan kebijakan gila ala Jokowi demikian media memberi nama, memang mau tidak mau harus dilakukan oleh Jokowi pada periode kedua ini untuk memenuhi persyaratan menambah utang.

Siap kah Rakyat?

Tentunya pertanyaannya harus ditanyakan kesiapan rakyat, karena elit politik/wakil rakyat jelas sudah tidak akan mampu menolak, apalagi berkomentar.

Sebagai akibat ide yang tidak populer tersebut dapat diperkirakan akan berdampak besar terhadap ekonomi rakyat.

Karena kondisi perekonomian dalam dekade ini rendah dan tidak stabil. Dengan kenaikan BBM dan listrik inflasi meningkat, kenaikan harga barang dan ongkos transportasi, sementara daya beli masyarakat juga akan semakin tertekan dan lemah dengan konsekuensi kehidupan nya lebih berat lagi kedepan. Tidak saja rakyat kecil yang besar juga perlu juga diingat beberapa Industri/perusahaan besar saat ini seperti Grup Dunia Tekstil default (gagal bayar utang). Jababeka menyusul apalagi sekarang dalam kemelut kepemilikan, BUMN besar seperti PLN, Pertamina, Garuda dalam keadaan merugi dengan utang yang juga besar, termasuk bank bank pemerintah faktanya punya beban utang yang tidak kecil.

Pemerintah Jokowi pada periode kedua ini harus secara matang mengkaji karena implikasi kepada rakyat sangat besar, nekad tanpa perhitungan kemelut ekonomi terjadi, tinggal pilih mana yang lebih gila. Semoga saja masih ada sedikit kewarasan. Tentunya banyak jalan ke Roma.

Penulis adalah pengamat kebijakan publik, aktivis pergerakan 77-78.


Note: Tulisan ini sebagai kado si Bungsu ku 9 tahun, semoga saja, besarnya nanti tidak menerima beban kehancuran dari kegilaan elit.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Polisi Pastikan Pengemudi Pikap yang Tabrak Petugas di Gerbang DPR Mabuk Alkohol

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:26

Wakil Presiden Tanzania Emmanuel Nchimbi Mundur Usai Berselisih dengan Presiden

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:18

Wall Street Melemah, Investor Cermati Pidato Kevin Warsh

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:14

Dony Oskaria Bongkar Penataan BUMN: 290 Selesai, 254 Jadi Target

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:03

Banjir Nepal Tewaskan Ratusan Orang, Paus Leo XIV Kirim Doa

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:46

Saham Eropa Melesat Cantik Dipimpin Sektor Mewah dan Perbankan

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:34

Dua Sumur Baru PHSS di Struktur Semberah Lampaui Target Produksi Migas

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:19

PKM Dorong Keluarga Muba Naik Kelas, Rp25 Juta Jadi Modal Kemandirian Ekonomi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:07

Ichsanuddin Noorsy dan Pemikiran Ekonomi Konstitusi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:54

MBG Jadi Bantalan Ekonomi Masyarakat Bawah, Kritik jadi Evaluasi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:46

Selengkapnya