Keberhasilan Indonesia mengembangkan program pertanian keluarga dalam basis ketahanan pangan masyarakat mendapat apresiasi yang tinggi dari ratusan perwakilan negara anggota Food and Agriculture Organization (FAO) dan International Fund for Agricultural Development (IFAD).
Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dan Bedah Kemiskinan, Rakyat Sejahtera (BEKERJA) yang dibentuk oleh Kementerian Pertanian dinilai sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam mendukung era pengembangan pertanian keluarga.
“Direktur Jenderal FAO, Jose Graziano da Silva, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Indonesia, sebagai salah satu dari 24 negara anggota Internasional Steering Committee yang secara aktif mendukung pelaksanaan Dekade Pertanian Keluarga ini,†ujar Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Syukur Iwantoro yang menghadiri pertemuan Pertanian Keluarga PBB 2019-2028 di Kantor Pusat FAO, Roma, Italia beberapa waktu lalu.
Tak hanya itu, kata Syukur, keseriusan Indonesia memajukan pertanian keluarga ditunjukkan dengan cara menginisiasi pertemuan Regional Conference untuk wilayah Asia Tenggara bulan April 2019 lalu di Jakarta.
Syukur menjelaskankan bahwa selain dua program diatas, fokus pemerintah Indonesia yang konsisten mengajak peran anak muda mengembangkan sektor pertanian juga mendapat apresiasi yang tinggi dari FAO.
Bahkan, lanjutnya, program KRPL yang dijalankan sejak tahun 2010 lalu dinilai telah memberikan berbagai dampak positif bagi keluarga petani di seluruh wilayah Indonesia. Hal tersebut diungkapkan Syukur dihadapan para panelis yang terdiri dari Menteri Pertanian dan Kehutanan Angola, Menteri Pertanian dan Peternakan Costa Rica, dan Menteri Pertanian, Perikanan dan Pedesaan Sao Tome dan Principe.
“Pemanfaatan pekarangan rumah sebagai lahan tanam terbukti telah berhasil mengubah pola pengeluaran dan konsumsi pangan rumah tangga. Pola diet masyarakat mengalami peningkatan dan prevalansi stunting menjadi 30,8% pada 2018, angka ini turun dibandingkan tahun 2013 sebesar 37,2%†papar Syukur.
Sedangkan Program #BEKERJA, lanjut Syukur telah memberikan pilihan mata pencaharian yang lebih baik dan memastikan pencapaian inklusif sosial ekonomi, ketahanan, dan kesejahteraan petani keluarga.
“Program ini diluncurkan pada tahun 2018, selama dua tahun, program ini telah memberikan manfaat lebih dari setengah juta rumah tangga miskin di Indonesia†beber Syukur.
Tidak hanya fokus membangun ketahanan pangan, lewat program pemanfaat lahan perkarangan dan pengentasan kemiskinan, Pemerintah Indonesia ungkap Syukur, juga tengah konsentrasi membangun Generasi Milenial sebagai sumber daya pertanian yang kompetitif dan berdaya saing. Kementan telah mengembangkan berbagai program untuk menciptakan agripreneur muda yang sukses, salah satunya dengan sarana pendidikan pertanian baik formal maupun informal.
“Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan), kelompok Pengembangan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP), dan proyek YESS yang merupakan kerja sama dengan IFAD, merupakan program untuk generasi muda untuk ikut membangun pertanian Indonesia. Dalam penerapan strateginya, digital agriculture juga dipromosikan untuk menarik generasi milenial ke sektor pertanian†tandas Syukur.