Berita

Jenderal Besar Soedirman/Net

Jaya Suprana

Marilah Kita Menghormati Pak Dirman

KAMIS, 23 MEI 2019 | 10:57 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SECARA ragawi, saya tidak sempat jumpa Pak Dirman karena beliau wafat pada tahun 1950 ketika usia saya baru satu tahun. Namun saya beruntung sempat berjumpa bahkan berguru sejarah perang kemerdekaan Republik Indonesia pada mantan Menko Kesra RI merangkap mantan ajudan Panglima Besar Soedirman, yaitu Soepardjo Roestam yang setia mendampingi Pak Dirman ketika dalam kondisi sakit bergerilya melawan angkara murka penjajah.

Dari Pak Pardjo, saya berupaya banyak belajar tentang Pak Dirman. Ternyata Pak Dirman juga anak adopsi dan juga semula pernah bekerja sebagai guru seperti saya. Hanya beda kemudian saya sama sekali tidak pernah menjadi prajurit, namun mengagumi semangat pengabdian prajurit kepada negara, bangsa dan rakyat.

Bogor


Pada 1936, Pak Dirman mulai bekerja sebagai seorang guru dan kemudian menjadi kepala sekolah, di sekolah dasar Muhammadiyah. Ia juga aktif dalam kegiatan Muhammadiyah lainnya dan menjadi pemimpin Kelompok Pemuda Muhammadiyah pada tahun 1937.

Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, Pak Dirman tetap mengajar. Pada tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) sebagai komandan batalion di Banyumas. Selama menjabat, Soedirman melakukan pemberontakan sehingga dijebloskan ke penjara di Bogor.

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, Soedirman melarikan diri dari penjara demi pergi ke Jakarta menjumpai Presiden Soekarno. Kemuidan Pak Dirman ditugaskan untuk mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang di Banyumas, yang dilakukannya setelah mendirikan divisi lokal Badan Keamanan Rakyat.

Pasukannya lalu dijadikan bagian dari Divisi V pada 20 Oktober oleh panglima sementara Oerip Soemohardjo dan Soedirman bertanggung jawab atas divisi tersebut.

Pada tanggal 12 November 1945, Soedirman terpilih sebagai pimpinan TKR, sedangkan Oerip Soemohardjo yang kalah satu suara menjadi kepala staf. Langsung Soedirman memerintahkan serangan terhadap pasukan Inggris dan Belanda di Ambarawa.

Pertempuran. Keberhasilan menghalau tentara Inggris menyebabkan semakin kuatnya dukungan rakyat terhadap Soedirman, sehingga akhirnya diangkat sebagai panglima besar pada tanggal 18 Desember.

Selama tiga tahun berikutnya, Soedirman menjadi saksi kegagalan negosiasi dengan penjajah yang ingin kembali menjajah Indonesia, yang pertama adalah Perjanjian Linggarjati kemudian Perjanjian Renville yang menyebabkan Indonesia harus mengembalikan wilayah yang direbut kembali pada Agresi Militer I kepada Belanda.

Tidak Percaya Penjajah


Pada awal Agustus 1948, Pak Dirman menjumpai Soekarno dan memintanya untuk melanjutkan perang gerilya, akibat tidak percaya bahwa Belanda akan mematuhi Perjanjian Roem-Royen, belajar dari kegagalan perjanjian sebelumnya. Soekarno tidak setuju, yang menjadi pukulan bagi Pak Dirman.

Soedirman menyalahkan keraguan pemerintah sebagai penyebab penyakit tuberkulosisnya dan kematian Oerip, maka ia mengancam akan mengundurkan diri dari jabatannya, namun Soekarno juga mengancam akan melakukan hal yang sama.

Setelah menyadari bahwa pengunduran dirinya akan menyebabkan ketidakstabilan, terpaksa Soedirman tetap menjabat. Sambil sakit-sakitan sampai harus berjalan dengan tongkat bahkan diangkut dengan tandu, Pak Dirman tetap gigih memimpin perang gerilya melawan penjajah.

Masa Akhir

Soedirman terus berjuang melawan TBC dengan melakukan pemeriksaan di Panti Rapih. Ia menginap di Panti Rapih menjelang akhir tahun, dan keluar pada bulan Oktober; ia lalu dipindahkan ke sebuah sanatorium di dekat Pakem.
Akibat penyakitnya ini, Soedirman jarang tampil di depan publik. Dia dipindahkan ke sebuah rumah di Magelang pada bulan Desember.

Pada saat yang bersamaan, pemerintah Indonesia dan Belanda mengadakan konferensi panjang selama beberapa bulan yang berakhir dengan pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949.

Meskipun sedang sakit, Soedirman saat itu juga diangkat sebagai panglima besar TNI di negara baru bernama Republik Indonesia Serikat. Pada 28 Desember, Jakarta kembali menjadi ibu kota negara.

Menghormati Pak Dirman

Satu dari sekian banyak warisan pesan pak Dirman yang sangat terkesan bagi sanubari saya yang kini bermukim di kawasan Jalan Soedirman di ibukota Indonesia, adalah bahwa prajurit TNI wajib berani mengorbankan diri sendiri namun jangan sekali-kali berani mengorbankan rakyat sebab rakyat adalah Ibu Kandung Negara dan Bangsa Indonesia.

Keadiluhuran pesan Pak Dirman yang tegas menolak perjuangan dengan mengorbankan rakyat  tersebut visioner sebab kini merupakan sukma utama Agenda Pembangunan Berkelanjutan yang telah disepakati oleh seluruh anggota PBB (termasuk Indonesia) sebagai pedoman pembangunan planet bumi abad XXI tanpa mengorbankan rakyat.

Saya yakin bahwa kini di alam baka, arwah Jenderal Besar Soedirman pasti sangat amat bersedih hati menyaksikan bagaimana setelah 74 tahun merdeka, kini perjuangan bangsa Indonesia bukan melawan penjajah namun justru melawan sesama rakyat Indonesia sendiri.

Maka demi menghormati Pak Dirman di bulan suci Ramadan ini, dengan penuh kerendahan hati saya memberanikan diri memohon kepada seluruh putra-putri terbaik bangsa Indonesia untuk berkenan menunaikan Jihad Al-Nafs yaitu berjuang menaklukkan hawa nafsu diri masing-masing demi menghentikan segenap angkara murka kebencian dan kekerasan antara sesama rakyat dengan sesama rakyat Indonesia. Merdeka!

Penulis pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan yang sangat menghormati Pak Dirman

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

KPK Periksa Sejumlah Pejabat BPK di Kasus Suap Audit Pemkab Muara Enim

Senin, 14 September 2026 | 14:27

Pembukaan Rekening Massal Bikin Fiskal Pemerintah Makin Tertekan

Senin, 14 September 2026 | 14:26

Menteri Haji Minta Jemaah Bersiap, Biaya Haji Ditargetkan Tuntas Sepekan

Senin, 14 September 2026 | 14:16

Pembunuh Wanita Muda di Kamar Hotel di Tanah Abang Dibekuk

Senin, 14 September 2026 | 14:12

Megaproyek Northern Metropolis Ambisi Hong Kong Cetak Pusat Ekonomi Baru

Senin, 14 September 2026 | 14:09

Dolar AS Jadi Aset Paling Aman Setahun ke Depan

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mantan Aspri Ridwan Kamil Dipanggil KPK

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mobil Listrik China Mulai Jadi Favorit, JAECOO dan BYD Adu Penjualan

Senin, 14 September 2026 | 13:56

Kemenhaj Kawal Keberangkatan 282 Jemaah Umrah PT AAT Mulai 15 September

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Kenaikan Harga Cabai Tak Picu Inflasi di Jakarta

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Selengkapnya