Berita

Jaya Suprana/Dok

Jaya Suprana

Neo Imperialisme Game Online

SENIN, 29 APRIL 2019 | 08:25 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

AKIBAT saya tidak kunjung sudi percaya bahwa game online potensial merugikan Indonesia, maka sang tokoh muda mantan stuntman film laga yang kini menjadi CEO Anantapura Studios, Ivan Chen mengirimkan sebuah berita yang dilansir CNBC Indonesia sebagai berikut:

Game Online


Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara menjelaskan ketika seseorang mengunduh game online berbayar yang notabene publisher atau studionya berada di wilayah luar negeri sama saja dengan mengalirkan dana ke luar negeri. Apalagi jika hal ini terjadi terus menerus, maka defisit neraca pembayaran Indonesia akan semakin melebar.


Ia mengatakan, misalnya harga satu game online sebesar Rp 7.000 sampai Rp 10.000 atau sekitar 0,5 dolar AS, namun ketika yang mengunduh mencapai dua juta orang per hari, tentu membuat dana yang keluar dari Indonesia cukup besar.

"Kalau kita main game itu kelihatan enggak di NPI? Sekarang sih enggak, tapi yang pasti itu uang Indonesia ke luar. Mungkin hanya setengah dolar, tapi kalau yang main dua juta orang, ya itu uang ke luar negeri untuk games itu," ujar Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia dalam Seminar Nasional: Sinergi untuk Ketahanan dan Pertumbuhan, Rabu 27 Maret 2019.

Milenial

Oleh karena itu, Mirza Adityaswara mendorong agar generasi muda bangsa Indonesia, yang sering disebut generasi milenial mampu menciptakan game sendiri.

Bila perlu game yang mampu menarik perhatian warga negara asing, sehingga ketika mereka mengunduh, akan membawa aliran dana masuk ke Indonesia. Dengan demikian, diharapkan  neraca pembayaran RI bisa membaik.

Pasalnya, neraca pembayaran Indonesia sepanjang tahun 2018 lalu defisit 7,1 miliar dolar AS, padahal di tahun 2017 neraca pembayaran Indonesia surplus 11,6 miliar dolar AS.

Neo Imperialisme

Masih belum puas, Ivan Chen menambahkan, kiriman bukti fakta tentang bagaimana game online buatan luar negeri asyik digunakan oleh para gamers Indonesia sebagai bahan pertandingan e-sports yang juga diselenggarakan oleh pemerintah Indonesia sendiri.

Terpaksa saya yang gaptek online ini mengaku menyerah kalah berdebat melawan Ivan Chen, sebagai insan milineal yang memang sudah babak belur terlibat langsung dalam makan asam garam kemelut persaingan industri game online.

Ivan berhasil meyakinkan saya bahwa game online bukan cuma produk industri hiburan, namun sudah menjadi senjata pamungkas luar biasa ampuh bagi kaum neo-imperialis melalui bukan kekerasan senjata, namun kelembutan kebudayaan tanpa terasa sakit bahkan nikmat meninabobokan bangsa konsumen teknologi secara lambat namun pasti dijajah oleh bangsa produsen teknologi.

Ekspor game online pada masa kini sudah menduduki posisi nomor satu di antara segenap jenis produk ekonomi kreatif Republik Rakyat China.

Kini nilai ekspor game online Korea Selatan sudah 11 kali lipat lebih banyak ketimbang nilai ekspor K-Pop sebagai produk ekonomi kreatif unggulan Korsel!

Kedaulatan


Sebagai warga bangsa Indonesia yang cinta Indonesia tentu saya tidak rela apabila bangsa saya kembali dijajah oleh kaum penjajah melalui jalur ekonomi kreatif apalagi game online!

Saya yakin kreativitas generasi muda bangsa Indonesia tidak kalah ketimbang bangsa mana pun di planet bumi ini.

Maka marilah kita bersatu padu menegakkan pilar-pilar kedaulatan game online nasional sebagai kubu-kubu ketahanan ekonomi nasional dengan memberikan kesempatan bagi generasi muda Indonesia menciptakan game online produksi bangsa Indonesia sendiri yang wajib digunakan dalam segenap pertandingan e-sports yang diselenggarakan oleh bangsa Indonesia untuk masyarakat dunia!

Saya yakin game online buatan para putra-putri terbaik Nusantara jaman now dengan para tokoh sakti supra mandraguna seperti Semar, Anoman, Gatotkaca, Arjuna Sasrabahu, Sukrasana, Sumantri, Anglingdarma, Mundinglaya, Lutung Kasarung, Wisanggeni, Si Pitung tidak kalah seru ketimbang para tokoh superhero negara mana pun di alam semesta  ini. MERDEKA!


Penulis mendambakan kedaulatan game online Indonesia

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Haji Isam Temui Seskab Teddy, Bahas Investasi Pertambangan hingga Hilirisasi

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:17

Kolombia Ubah Sikap, Kini Akui Kedaulatan Maroko atas Sahara

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:02

KPK Periksa 2 ASN Pemkot Bengkulu dalam Pengembangan Kasus Suap Rejang Lebong

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:01

Jelang Sidang Tahunan MPR, Pemerintah Matangkan Persiapan Pidato Kenegaraan Prabowo

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:56

Bitcoin Menguat Berkat Derasnya Aliran Dana ETF

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:49

Keamanan Data Pajak Jadi Prioritas Usai Kebakaran Bapenda

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:45

Destry Damayanti Resmi Jadi Calon Tunggal Gubernur BI

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:36

Kejagung Periksa 16 Saksi di Kasus BGN, 10 di Antaranya Direktur Perusahaan

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:32

Greenland Tolak Aktivitas Perusahaan AS di Tengah Ancaman Aneksasi Trump

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:27

Gibran Jadi Presiden Solusi atau Petaka?

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:26

Selengkapnya