Berita

Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam, Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional/BAPPENAS, Arifin Rudiyanto/Net

Kesehatan

Situasi Gizi Indonesia Membaik Meski Perkembangan Pangan Di Asia Pasifik Buruk

SELASA, 02 APRIL 2019 | 22:55 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Prevalensi kelaparan dan jumlah anak-anak Indonesia yang menderita kekurangan gizi telah berkurang jika dibandingkan dengan negara lain di Kawasan Asia Pasifik. Pasca penerapan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs) di tahun keempat, pemerintah Indonesia berhasil menunjukkan perkembangan positif dalam pembangunan ketahanan pangan dan gizi.

Namun demikian, pemerintah masih memiliki PR besar soal tingginya masalah gizi, terutama angka stunting.  Hampir satu dari tiga anak di Indonesia masih terhambat pertumbuhannya.

“Dalam pencapaian tanpa kelaparan, saya ingin menekankan pentingnya sistem pangan berkelanjutan. Pertanian berkelanjutan dan produktif akan menjadi tantangan nyata kami dalam waktu dekat. Dalam konteks Indonesia, sistem produksi pangan sebagian besar mengandalkan petani kecil. Meningkatkan produktivitas petani adalah salah satu kebijakan penting kami," kata Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam, Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional/BAPPENAS, Arifin Rudiyanto dalam sambutannya di Forum “Tinjauan Ketahanan Pangan dan Gizi di Indonesia” yang diadakan di Jakarta, Selasa (2/4).


Tahun lalu, konsumsi makanan per kapita di Indonesia meningkat sekitar 5 persen. Bahkan konsumsi kalori pada masyarakat berpendapatan rendah meningkat sekitar 8 persen.

Dalam kondisi ini, tingkat stunting anak di bawah lima tahun di Indonesia turun 7 persen dibanding kondisi tahun 2013 menjadi 30,8 persen tahun 2018.

Dengan pertumbuhan pendapatan 5 persen dan permintaan makanan sebesar 4 persen, Indonesia berada dalam kondisi transisi ekonomi. Perubahan ini tidak bisa dihindari karena pertumbuhan ekonomi yang cukup cepat, urbanisasi, dan perubahan gaya hidup.

Tren negatif di Wilayah Asia-Pasifik

Menurut “Tinjauan Regional Asia dan Pasifik tentang Ketahanan Pangan dan Gizi" yang terbit Oktober 2018 oleh FAO, UNICEF, WFP, dan WHO,  berkurangnya jumlah orang kelaparan dan kekurangan gizi, termasuk anak-anak telah terhenti di banyak bagian.

Wilayah Asia dan Pasifik menyumbang lebih dari setengah jumlah kekurangan gizi dunia pada tahun 2017 sebesar setengah miliar manusia (486 juta). Sementara jumlah orang yang kelaparan di dunia telah mencapai 821 juta, atau satu dari setiap sembilan orang.

Akibatnya, prevalensi kelaparan di seluruh dunia telah kembali ke tingkat yang sama dengan satu dekade lalu.

Sekitar 79 juta anak di bawah usia lima tahun di Asia dan Pasifik menderita stunting dan 34 juta anak kekurangan berat badan, 12 juta di antaranya menderita kekurangan gizi akut dengan peningkatan risiko kematian secara drastis.

Laporan ini juga menyoroti kenyataan yang hampir paradoksal dari peningkatan obesitas anak-anak dan orang dewasa di kawasan tersebut yang kini memiliki prevalensi obesitas anak yang tercepat  di dunia.

Diperkirakan, 14,5 juta anak balita kelebihan berat badan dan hampir semua anak di kawasan ini semakin terpapar makanan olahan yang tidak sehat dan tinggi garam, gula, dan lemak tetapi miskin gizi penting.

“Kita memiliki peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk secara dramatis mengubah stagnasi saat ini dalam pengurangan kelaparan, kerawanan pangan, dan kekurangan gizi di kawasan Asia Pasifik dengan membangun pencapaian saat ini,” kata Koordinator Residen PBB, Anita Nirody

Melihat ke depan

Pemerintah Indonesia bersama lembaga PBB di Indonesia menegaskan kembali komitmen mereka untuk mencapai target SDG2  dalam mengakhiri semua bentuk kekurangan gizi dan mencapai nol kelaparan pada tahun 2030.

Agar hal itu tercapai, pemerintah dan Lembaga PBB di Indonesia pun bakal memperluas cakupan program manajemen gizi buruk terintegrasi secara nasional, sebuah intervensi yang terbukti menyelamatkan jiwa  (UNICEF), penerapan strategi komunikasi perubahan perilaku untuk mengatasi beban ganda gizi buruk pada anak usia sekolah (WFP).
Kemudian penguatan kapasitas nasional dalam aspek keamanan pangan, dan pengembangan lintas sektoral terhadap kebijakan dan tata kelola sistem pangan (FAO), serta peningkatan berkelanjutan pemberian label gizi (WHO).

Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Rismon Dituding Bohong soal Ijazah Jokowi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:04

UPDATE

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

Lima Destinasi Wisata di Bogor Bisa Jadi Alternatif Nikmati Libur Lebaran

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:02

Program Mudik Gratis Presisi 2026 Cermin Nyata Transformasi Polri

Rabu, 25 Maret 2026 | 05:51

Negara-negara Teluk Alergi Iran

Rabu, 25 Maret 2026 | 05:37

Jika Rakyat Tak Marah, Roy Suryo Cs sudah Lama Ditahan

Rabu, 25 Maret 2026 | 05:13

Gegara Yaqut, KPK Tak Tahan Digempur +62 Siang Malam

Rabu, 25 Maret 2026 | 04:23

Waspada Kemarau Panjang Landa Jawa Barat

Rabu, 25 Maret 2026 | 04:15

KPK Ikut Ganggu Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 04:01

Elektrifikasi Total

Rabu, 25 Maret 2026 | 03:37

Kasus Penahanan Yaqut Jadi Kemunduran Penegakan Hukum

Rabu, 25 Maret 2026 | 03:18

Selengkapnya