Berita

Arief Poyuono/Net

Politik

Kondom Bergambar Paslon 01, Gerindra: Artinya Program KB Jokowi Gagal Total

MINGGU, 10 MARET 2019 | 12:50 WIB | LAPORAN:

Waketum Partai Gerindra Arief Poyuono tergelitik menanggapi respon pendukung Jokowi-Maruf terkait foto kondom bergambar pasangan calon presiden-calon wakil presiden nomor urut 01 yang beredar lintas grup WhatsApp.

Menurut dia, kubu paslon 01 terlalu berlebihan meresponnya.

"Kondom gambar Joko Widodo Maruf Amin kok panik sih TKN Joko Widodo-Maruf Amin," kata Arief, Minggu (10/3).


Ia mengimbau lapor Bawaslu jika merasa gambar itu hoax dan merugikan mereka.

"Nggak usah ribut-ribut ya," cetusnya.

Justru, lanjut Arief, pihaknya berterima kasih kepada pembuat gambar kondom itu. Sebab, kondom adalah alat kontrasepsi yang bisa dipergunakan untuk menekan laju pertumbuhan penduduk Indonesia.

"Artinya mengingatkan pada kita bahwa program KB selama pemerintahan Joko Widodo gagal total dan laju pertumbuhan penduduk makin tinggi ya yang menyebabkan ledakan penduduk sehingga beban ekonomi nasional makin berat," kata Arief.

Arief menjelaskan. pertumbuhan penduduk yang tinggi jika tidak diimbangi dengan peningkatan kapasitas ekonomi maka akan menurunkan kesejahteraan penduduk suatu negara.

Dampak ledakan penduduk antara lain semakin tingginya angka pengangguran, kriminalitas, dan memburuknya kondisi sosial lainnya.

"Tapi karena tim TKN enggak sampai ke sana pikirannya maka mikirnya negatif saja karena sudah pasti kalah ya," sindirnya.

Di era Jokowi ini menurut dia, pengangguran di sektor riel makin bertambah karena Target pertumbuhan ekonomi nasional tidak pernah tercapai. Imbasnya kapasitas ekonomi nasional tidak mencukupi untuk laju pertumbuhan penduduk yang tidak terprogram.

"Makanya kemiskinan makin tinggi di era Joko Widodo dan hutang negara numpuk," terangnya.

Arief menambahkan, program KB akan menjadi program utama Prabowo-Sandi untuk menekan laju pertumbuhan penduduk, meningkatkan kesejahteraan Masyarakat dan menciptakan SDM yang berkualitas.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

UPDATE

JK Menjelma Imam Besar Bagi Kelompok di Luar Kekuasaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:17

KPK Benarkan Panggil Pengusaha Rokok Haji Her, Tapi Mangkir dari Pemeriksaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:02

Komisi X DPR Tekankan Kesejahteraan Guru dalam Revisi RUU Sisdiknas

Rabu, 08 April 2026 | 10:00

Iran Sebut Trump Setuju Penuhi 10 Syarat Gencatan Senjata

Rabu, 08 April 2026 | 09:56

IHSG Balik ke Level 7.000-an, Rupiah Menguat Usai Tersungkur ke Rekor Terendah

Rabu, 08 April 2026 | 09:54

Akselerasi Penyehatan, Adhi Karya Lakukan "Bersih-Bersih" Neraca

Rabu, 08 April 2026 | 09:40

Manuver JK Tak Perlu Dikhawatirkan

Rabu, 08 April 2026 | 09:33

Imparsial: Sudah Mendesak Dilakukan Revisi UU Peradilan Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:32

Berkas Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Dilimpahkan ke Oditurat Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:21

KPK Soroti Dugaan Aliran Fasilitas ke Faisal Assegaf

Rabu, 08 April 2026 | 09:04

Selengkapnya