Berita

Dahlan Iskan

Lima Hari Lagi

SABTU, 23 FEBRUARI 2019 | 05:16 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

TINGGAL lima hari lagi. Batas gencatan senjata perang dagang itu. Antara Amerika dan Tiongkok itu.
Jumat kemarin perundingan keempat dilakukan lagi. Giliran tempatnya di Washington DC. Di gedung tua. Dibangun tahun 1887. Yang juga kantor wakil presiden Amerika. Namanya: Eisenhower Executive Office Building. Beberapa pejabat tinggi presiden juga berkantor di situ. Letaknya di sebelah Gedung Putih.

Tidak ada sinyal apa pun yang bisa dipegang: perundingan itu akan berhasil atau tidak. Sebelum tanggal 1 Maret depan. Kalau tidak, perang berlanjut. Bahkan lebih seru. Bea masuk barang Tiongkok dinaikkan lagi. Entah Tiongkok. Akan melakukan tit for tat lagi atau tidak.

Hanya ada satu sinyal dari Amerika. Pun satu sinyal dari Tiongkok. Tapi sulit dipegang. Kadang Presiden Donald Trump mengindikasikan kabar baik. Seperti "banyak kemajuan dalam perundingan". Kadang mengunggah twitter sebaliknya. Sesekali keluar ancamannya:  tidak akan ada kesepakatan. Kecuali lewat keputusannya.

Hanya ada satu sinyal dari Amerika. Pun satu sinyal dari Tiongkok. Tapi sulit dipegang. Kadang Presiden Donald Trump mengindikasikan kabar baik. Seperti "banyak kemajuan dalam perundingan". Kadang mengunggah twitter sebaliknya. Sesekali keluar ancamannya:  tidak akan ada kesepakatan. Kecuali lewat keputusannya.

Dari ucapan itu muncul spekulasi: Trump akan ketemu Xi Jinping lagi. Secara pribadi. Tanggal paling logis adalah 27 Februari. Di Vietnam. Di sela-sela pertemuan Trump dengan Kim Jong-Un. Tapi rencana itu lantas dibatalkan. Saat perundingan lagi seret.

Sepanjang 90 hari masa gencatan senjata suasana tidak menentu. Pun harga saham di pasar modal. Kadang harga saham naik. Tiba-tiba anjlok. Lalu naik lagi. Anjlok lagi. Sungguh menguntungkan perang dagang ini. Bagi pedagang saham: bisa untung saat harga saham naik. Tetap untung saat harganya turun.

Dari Tiongkok sinyalnya juga samar-samar. Seperti: siap memperkecil defisit perdagangan Amerika. Atau: siap impor lebih banyak kedelai dari sana. Atau lagi: tidak akan melakukan tit for tat. Tapi juga ada sinyal kuat: tidak! Kalau  harus mengubah struktur ekonominya. Tiongkok tidak akan mau. Misalnya: harus meliberalkan mata uang yuan. Atau menswastakan secara total BUMN-nya.

Soal Sabrina Meng, CFO Huawei, ada indikasi akan dibebaskan. April nanti atau Mei. Yang jelas sidang pertamanya ditunda. Yang mestinya tanggal 6 Februari lalu. Menjadi 6 Maret depan. Kalau tidak ditunda lagi. Meng kini tetap tahanan rumah. Di Vancouver, Kanada. Tetap pula dipasangi gelang digital di kakinya. Agar bisa diketahui. Anak pendiri Huawei itu ke mana saja.

Sumber sinyal Tiongkok itu jelas. Siapa yang bicara. Jabatannya apa. Tapi jabatannya itu tidak terlalu tinggi. Baik di pemerintahan maupun di jajaran partai komunis.

Waktu pun kian mepet. Apa yang akan terjadi dalam lima hari ke depan?

Industri di Amerika pun mulai teriak. Terutama yang terkait dengan bahan baku baja. Puluhan perusahaan sudah  minta dispensasi. Agar boleh  impor baja dari Tiongkok. Tanpa bea masuknya 25 persen. Sejak terjadi perang dagang  harga baja naik. Industri mobil terbebani. Produksi baja dalam negeri tidak bisa otomatis dinaikkan.

Di dalam negeri Tiongkok juga terasa. Kelesuan ekonomi mulai terbaca. Pemerintah berusaha mengatasi. Dengan menggelontorkan kredit baru. Untuk pengusaha swasta dan kecil menengah. Nilainya mencapai -tarik nafas- sekitar Rp 1.500 triliun. Bisa baik. Bisa juga buruk. Peredaran uang di masyarakat bawah akan bertambah. Tapi ratio hutang di Tiongkok bisa dalam bahaya.

Kemarin Presiden Trump mengunggah sinyal yang lain lagi: bisa saja batas waktu 1 Maret diundur. "Apalah artinya tanggal. Itu kan bukan angka sakral," kata twitternya.

Lebih dari itu Trump tiba-tiba seperti memberi angin pada Huawei. "Amerika tetap harus paling depan dalam teknologi," katanya kemarin. Lewat twitternya. "Tapi jangan dengan cara menghalang-halangi pihak lain," tambahnya.
Meski tidak menyebut Huawei tapi itulah maksudnya. Belakangan memang terasa benar nuansanya. Amerika tidak rela. Kalau Huawei melangkah lebih cepat. Utamanya di teknologi jaringan 5G.

Twitter terbaru Trump itu membuat Amerika seperti kendaraan yang belok mendadak. Padahal pengikutnya baru saja membuntutinya. Ikut menghambat Huawei. Seperti Australia, Selandia Baru dan negara-negara Eropa.
Minggu lalu perusahaan teknologi Amerika memang baru saja bikin pengumuman. Siap meluncurkan jaringan 5G. Yang diklaim lebih unggul dari Huawei. Siapa lagi kalau bukan Cisco. Perusahaan Silicon Valley. Di San Jose, California.

Amerika kini sudah lebih tenang. Tidak akan dipermalukan Huawei. Cisco (nama ini diambil dari nama belakang San Francisco) tinggal bersaing di harga. Apakah bisa lebih murah dari Huawei. Cisco (yang logonya berupa dua pilar ujung jembatan Golden Gate) memang belum pernah membocorkan kemampuannya itu.

Ren Chengfei sendiri tetap pede. Pendiri Huawei itu tidak mempermasalahkan. Kalau Amerika dan Eropa tidak mau membeli produk Huawei. "Kalau Barat tidak mau masih ada Timur yang bersinar," katanya pada BBC minggu lalu.
Putrinya ditahan di Kanada pun, katanya, tidak berpengaruh. "Huawei tetap maju. Belakangan malah lebih cepat," katanya. "Bahkan saya sendiri nanti pergi pun Huawei akan terus maju."

Perang dagang mungkin reda. Lima hari lagi. Sebuah penantian yang menentukan.[***]

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Pimpinan Baru OJK Perlu Perkuat Pengawasan Fintech Syariah

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:25

Barang Ilegal Lolos Lewat Blueray Cargo, Begini Alurnya

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:59

Legitimasi Adies Kadir sebagai Hakim MK Tidak Bisa Diganggu Gugat

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:36

Uang Dolar Hingga Emas Disita KPK dari OTT Pejabat Bea Cukai

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:18

Pemda Harus Gencar Sosialisasi Beasiswa Otsus untuk Anak Muda Papua

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:50

KPK Ultimatum Pemilik Blueray Cargo John Field Serahkan Diri

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:28

Ini Faktor Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV-2025

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:08

KPK Tetapkan 6 Tersangka OTT Pejabat Bea Cukai, 1 Masih Buron

Jumat, 06 Februari 2026 | 00:45

Pengamat: Wibawa Negara Lahir dari Ketenangan Pemimpin

Jumat, 06 Februari 2026 | 00:24

Selengkapnya