Berita

Dahlan Iskan

Untung Ada Komentar

SABTU, 09 FEBRUARI 2019 | 05:04 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

MENULIS DI's Way tiap hari? Tidak pernah absen? Selama setahun? Ternyata hal seperti itu tidak perlu membuat heran.
 
"Saya kan juga membaca DI's Way tiap hari. Tidak pernah absen," tulis salah satu komentator.
 
Saya bisa merasakan selera humor penulis komentar itu. Buktinya saya tersenyum saat membacanya.
 

 
Ternyata banyak komentar yang seperti itu. Saya memang membaca semua komentar. Yang muncul di DI's Way. Kadang ingin mengomentari komentar itu. Tapi saya takut terbawa arus.
 
Ya sudah. Saya tidak akan lagi membanggakan bisa tiap hari menulis DI's Way. Saya ganti justru bangga pada Anda: kok mau-maunya baca DI's Way. Tiap hari. Tanpa absen.
 
Jadwal saya membaca komentar biasanya tengah hari. Nunggu banyak dulu. Agar cukup sekali buka.
 
Sesekali saya melakukan test: jam 5 pagi lihat DI's Way. Ups...sudah ada juga yang berkomentar. Mungkin masih sambil meluk guling. Rasanya mau saya datangi kamarnya: ngapain sepagi itu sudah baca DI's Way.
 
Banyak juga pembaca yang melakukan koreksi. Kalau ada yang salah. Misalnya negara-negara yang memboikot Qatar. Hanya empat negara: Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir.
 
Ohh... itulah rupanya. Di semifinal Piala Asia lalu Qatar mencetak empat gol. Sebenarnya tidak semua gol itu dimaksudkan untuk gawang Uni Emirat Arab. Melainkan satu gol untuk tiap negara yang memboikotnya.
 
Rumor itu begitu meluasnya di negara-negara Teluk. Yang semua gila bola. Sampai tujuan Piala Asia 'untuk persatuan' itu justru kian retak.
 
Husnun Juraid juga sering melakukan koreksi. Khusus soal kesalahan bahasa. Misalnya kalau saya menuliskan kata 'hutang'. Selalu saja orang Malang itu membetulkannya. Mestinya utang. 'Utang budi dibawa mati'. Bukalah kamus besar bahasa Indonesia. Yang benar adalah 'utang'.
 
Kadang saya menyalahkan HP baru saya. Ketika saya menulis kata 'berutang' di HP, kata itu otomatis diubah menjadi 'berhutang'. Rupanya HP saya belum pernah belajar kamus besar bahasa Indonesia.
Cukup banyak pembaca yang memberikan koreksi. Biasanya Mas Joko Intarto langsung memperbaikinya. Itulah enaknya online. Bisa langsung koreksi saat itu juga. Beda dengan di koran. Yang sudah tercetak tidak bisa dikoreksi.
 
Tapi soal DI's Way terbit tiap pagi hari, rasanya akan saya pertahankan. Saya setuju: ini masih terbawa budaya cetak. Harus terbit pagi. Belum budaya digital. Yang bisa menulis kapan saja dan terbit saat itu juga.
 
Tapi saya punya pertimbangan lain: ingin mendisiplinkan diri. Kadang orang harus 'dipaksa' untuk konsisten. Saya sengaja mengikatkan diri dengan komitmen itu. Saya yakin ini: orang yang biasa terikat dengan komitmen akan memperoleh kepercayaan.
 
Padahal kepercayaan adalah modal utama hidup. Bukan uang.
 
Mungkin saja saya terlalu khawatir. Kalau saya boleh nulis kapan saja dan terbit kapan saja hasilnya bisa tidak menulis sama sekali. Merasa tidak terikat komitmen. Dan itu memang enak. Nyaman. Tidak ada pressure. Tidak stres. Tapi lantas untuk apa hidup?
 
Saya masih belum bisa menemukan cara baru mengikatkan diri pada komitmen. Mungkin saja beda orang beda cara. Beda generasi beda perilaku.
 
Buktinya sering saya alami. Setahun ini. Pikiran suntuk. Tidak mood. Tidak ada ide. Atau banyak ide tapi tidak bisa ditulis. Banyak masalah. Banyak pekerjaan. Saya bisa pastikan tidak akan bisa menulis kalau tidak terikat komitmen itu.
 
Tapi begitu dekat headline beda. Hati langsung memerintahkan saya harus mulai menulis. Maka jadilah tulisan itu.
 
Kadang saya harus buka DI's Way edisi-edisi sebelumnya. Untuk membaca ulang  komentar-komentar. Dari situ biasanya muncul semangat untuk menulis. Pembaca begitu hidup di benak saya. Mereka menunggu DI's Way besok pagi. Ayo. Nulis.
 
Maka jadilah tulisan itu.
 
Selalu begitu. Sampai hari ini.
 
Entah sampai kapan.[***]

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Pengusaha Tembakau Dicecar KPK soal Dugaan Gratifikasi Oknum Bea Cukai

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:41

Resmi Dilantik, 13 Pengurus DPD Peradi Profesional Siap Kawal Keadilan di Sulsel

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:13

Sekolah Tahfidz Al-Qur’an Puan Maharani Mulai Dibangun di Malang

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:10

Perbup Bogor soal Site Plan jadi Sorotan Usai Kasus HGB Summarecon Bergulir

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:49

BEI Tagih Penjelasan Emiten Haji Isam soal Gadai Saham ke Bank Mandiri

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:24

Rocky Gerung Dicurigai Sengaja Dipasang untuk Serang Gibran dari Dalam Kekuasaan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:42

Kasus TPPU Rita Widyasari Menyeret Bos Dealer VW-Audi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:28

Penyederhanaan BUMN: Pengaturan Outsourcing Lewat Anak Perusahaan Jadi Sorotan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:18

PDIP soal Ijazah Gibran: Anak dan Bapak Masalahnya Sama Saja

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:57

Pegawai Bea Cukai Dedi Congor Mangkir Lagi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:42

Selengkapnya