Berita

Foto: Repro

Dahlan Iskan

BTP

SABTU, 02 FEBRUARI 2019 | 05:04 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

HATI saya terombang ambing. Kadang pro Ahok. Kadang pro Vero. Kadang bela Ahok. Kadang bela ulama. Kadang senang Ahok. Kadang jengkel Ahok. Kadang percaya garis tangan. Kadang apalah itu garis tangan.

Saat lagi pro Ahok saya kesal pada Vero. Saat pro Vero saya sangat terharu pada sikapnya: yang tidak bicara apa pun tentang omongan, fitnah, hinaan padanya. Demi nama baik mantan suaminya.

Tapi tiba-tiba Ahok hilang. Atau menghilang.
Ada yang bilang Ahok menenangkan diri. Setelah badai menimpanya dari segala arah.

Ada yang bilang Ahok menenangkan diri. Setelah badai menimpanya dari segala arah.

Ada yang bilang Ahok lagi asyik dengan mainan barunya.
Saya sudah terlanjur tidak percaya dua versi itu.

Tapi saya suka satu hal. Dari begitu banyak lalu-lintas medsos. Yang seperti banjir. Datang tanpa saya undang.
Sebetulnya saya suka dua hal. Tapi biarlah yang saya tulis yang satu ini dulu.

Soal BTP. Sebagai pengganti panggilan Ahok.

Ide mengganti panggilan itu sebenarnya cerdas sekali. Secara ilmu komunikasi. Kalau Ahok memang masih menginginkan dunia politik.
Sebagai bukti bahwa Ahok bukanlah orang yang kaku. Yang hanya maunya sendiri.
Ia orang yang bisa berubah. Bahkan mau nama panggilannya pun diganti.

Tidak ada penjelasan konsultan politik mana yang mengusulkan itu. Atau bahkan ia sendiri yang menghendakinya.

"Saya tidak mau lagi dipanggil Ahok," katanya. "Panggil saya BTP," tambahnya.

Ahok telah berubah. Menjadi begitu luwesnya. Orang yang mau mengganti nama adalah orang yang paling fleksibel.

Secara ilmu komunikasi Ahok tentu berharap dua hasil. Setidaknya, konsultannya berharap begitu. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya sudah berubah. Bukan Ahok yang dulu. Yang keras. Yang kaku. Yang ucapannya selalu tajam.

Ia orang yang bisa berubah. Dan mau berubah.
Hasil lain yang diharapnya: Ahok ingin bahwa ia adalah 'Indonesia'. Bukan 'Hokkian ren'. Atau 'Kwangtung ren'. Atau 'Nanfang ren'.

BTP adalah Basuki Tjahaya Purnama. Bukan Zhong Wan Xue (�'�万学).

Ahok ingin mengubah garis tangannya.

Bukankah itu bagian dari garis tangan bahwa ia dipanggil Ahok? Sejak kecil?

Tidak semua anak Tionghoa  mendapat nama panggilan seperti itu. Yang dimulai dengan huruf A di depannya. Seperti Ahok. Acai. Ahong. Ahui. Alai. Dan seterusnya.
Panggilan seperti itu khas orang Hokkian. Atau orang Nanfang. Orang dari bagian selatan Tiongkok. (Nan=Selatan).

Orang utara tidak mengenal itu. Orang Beijing, Tianjin, Dongbei tidak pernah mengenal nama panggilan yang dimulai dengan huruf A.

Cucu saya yang bernama Icha pernah mendapat nama panggilan Xiao Huai Dan (小坏蛋). Gara-gara sulit diatur. Saat umur lima tahun. Saat ikut menunggu saya di RS Tianjin. Icha tidak mendapat nama panggilan A-cha. Itu karena Tianjin di wilayah utara.

Ada cerita humor. Di buku pelajaran bahasa Mandarin saya dulu. Begini:
Suami isteri bertengkar. Kebetulan suami dari Nanfang. Isteri dari Beifang. Saat punya anak laki-laki sang suami memanggilnya A-Chai.

Isterinya tidak suka. Minta agar jangan pakai huruf A di depannya.

Suami-istri itu bertengkar. Tidak teguran selama dua hari. Tidur pun pisah. Pada hari ketiga sang suami ingin wawuhan. Tapi sulit cari cara memulainya.

Sang suami punya ide. Sebelum tidur ia menulis memo di kertas. Ditaruh di meja. Isinya: agar dibangun kan jam 6 pagi. Karena ada rapat penting.

Suami itu bangun kesiangan. Menegur isterinya: mengapa tidak dibangunkan?

Sang istri menjawab dengan kalem. "Sudah saya bangunkan," ujar isterinya.

"Lihat itu memo  di atas meja. Sudah sejak jam 6 saya taruh di situ," tambahnya.

Sang suami melihat ke meja. Di situ ada memo yang ditulis isterinya. Yang diletakkan di sebelah memo sang suami. Bunyinya: bangun, bangun, katanya mau ada rapat penting!

Waktu kecil awal BTP dipanggil Ahok pasti bapak-ibunya tidak bertengkar.
Maka sebenarnya sudah menjadi garis tangan BTP. Mendapat nama panggilan Ahok. Itu bagian dari garis tangannya sebagai orang keturunan Nanfang.

Seperti garis tangan saya juga. Tidak punya nama panggilan. Padahal teman-teman kecil saya memilikinya. Di desa saya di Magetan sana. Ada  yang dipanggil 'Kuncung', 'Gudel', 'Ginuk' dan sebagainya.

Kelak saya memang punya nama panggilan 'Dis'. Berawal dari garis tangan saya: menjadi wartawan. Yang memang ada keharusan dari redaktur. Setiap menulis berita harus menyertakan kode di bagian akhir tulisan. Yang menandakan itu tulisan saya. Saya taruhlah kode '(dis)' di belakang berita yang saya tulis.

Nama panggilan itu tetap 'dis' saat menjadi Dirut PLN. Hanya ditambahi kata Pak di depannya: Pak Dis.

Baru ketika jadi menteri berubah menjadi DI. Bukan saya yang mengubah. Tapi orang-orang sekitar saya. Jadilah saya Pak DI.

Terbawa sampai sekarang. Sampai menjadi nama media  sekarang ini: DisWay. Bukan singkatan Dis dan Way. Tapi dari kata DI's Way. Atau dua-duanya.

Itu garis tangan saya berikutnya. Yang juga ditentukan orang lain.
Apakah nama panggilan BTP akan benar-benar bisa menghapus Ahok? Saya tidak tahu. Garis tangannya sendirilah kelak yang menentukan.

Tapi saya yakin keluarga dekatnya tetap akan memanggilnya Ahok.

Tentu tidak ada yang mustahil. Apalagi di zaman medsos ini. Kalau saja setiap detik nama BTP disebut di medsos. Tidak henti-hentinya. Akan jadilah Ahok dipanggil BTP beneran. Seperti nama ARB sempat berhasil menggantikan sebutan  Ical. Sebagai nama panggilan Abu Rizal Bakri.
Waktu itu Abu Rizal ketua umum Golkar. Ingin menjadi presiden. Nama panggilan Ical dianggap kurang baik. Secara komunikasi politik. Dalam bahasa Jawa-halus 'ical' berarti 'hilang'. Atau 'lenyap'.
Konsultan Ical tentu ingin ini: agar orang Jawa memilih jagonya itu. Bukan justru mengejek Abu Rizal sebagai 'orang yang bakal hilang'.
Lalu komunikasi politik apa yang diharap dari Ahok menjadi BTP?

Saya tidak tahu. Belum pernah ada penjelasannya. Belum pernah dengar rumornya. Saya kurang bergaul belakangan ini.
Kalau memang harapannya jelas, saya akan melupakan menulis 'Ahok'.

Saya akan selalu menulisnya 'BTP'. Karena BTP-lah yang lebih disukai Ahok 2019.
Siapa tahu harapannya terkabul.[***]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

16 Negara Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Tujuh Wakil Asia

Senin, 29 Juni 2026 | 02:03

Prediksi Skor Babak 32 Besar

Senin, 29 Juni 2026 | 02:00

Bareskrim Gagalkan Peredaran 325 Kg Sabu Jaringan Thailand-Aceh

Senin, 29 Juni 2026 | 01:31

Segera Terbitkan Regulasi Pelarangan LGBT!

Senin, 29 Juni 2026 | 01:12

Forum Konferensi Republik Hasilkan Tiga Mandat

Senin, 29 Juni 2026 | 01:03

Mesir vs Iran: Stadion Berubah Jadi Arena Adu Gengsi Ribuan Tahun

Senin, 29 Juni 2026 | 00:38

Pelarangan Konferensi Republik di Kampus UI Tak Menumbuhkan Pesimisme

Senin, 29 Juni 2026 | 00:27

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

BPPKB Banten HDS Melepas Stigma Negatif terhadap Ormas

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:41

Forum Konferensi Republik Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:05

Selengkapnya