Berita

Dahlan Iskan

Year of Mobil Listrik

KAMIS, 24 JANUARI 2019 | 05:08 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

BIARLAJ jadi tahun politik di Indonesia. Tapi 2019 adalah 'tahun mobil listrik' di Asia.
Tesla Shanghai mulai berproduksi akhir tahun nanti. Setengah juta mobil setahun.

Byton Nanjing sedikit lebih awal. Sekitar 300.000 mobil setahun. Dan Dyson Singapura adalah raksasa baru. Yang akhir tahun 2019 ini juga sudah start produksi. Besar-besaran pula.

Yang menarik, tiga-tiganya tidak datang dari industri mobil.

Yang menarik, tiga-tiganya tidak datang dari industri mobil.

Revolusi mobil memang tidak bisa diharapkan dari pabrik mobil. Itu pula yang enam tahun lalu dicoba diterobos di Indonesia. Meski dicibir 'bukan orang mobil kok mau bikin mobil'.

Tapi tembok yang harus diterobos terlalu tebal.

Kini sudah amat terlambat untuk memulai. Indonesia sudah pasti akan menyerahkan pasar ke pihak asing lagi.

Dyson Singapura misalnya. Sudah di depan mata. Pasar bebas Asean akan menjadikan Singapura calon raja kita. Di bidang mobil listrik. Pabrik mobil di Singapura sudah tidak ada bedanya. Bisa masuk Indonesia seperti diproduksi di dalam negeri.

Tentu mustahil menduga  Singapura bakal bisa menjadi raja mobil. Kalau teknologi mobil masih menggunakan bensin.

Tapi dengan mobil listrik apa saja bisa terjadi. Yang dulu dianggap tidak mungkin terjadi.

Dyson Singapura adalah milik James Dyson. Genius dari Inggris. Seniman senior. Mendapat gelar 'Sir' berkat kegeniusannya.

James Dyson juga orang terkaya di Inggris. Ia sudah menyisihkan dana Rp 30 triliun. Untuk proyek baru mobil listriknya itu. Yang separo untuk pengembangan mobilnya. Sisanya untuk pengembangan baterainya.

Usianya memang sudah 71 tahun. Tapi sehatnya bukan main. James Dyson adalah pelari maraton. Meski tidak pernah lagi terjun ke arena. Ia masih mampu lari jarak jauh.

Yang membuat mobil listrik Dyson nanti sukses adalah kepribadiannya: orangnya ulet, tangguh, tidak mudah menyerah. Khas karakter pelari jarak jauh.

Seseorang mampu lari  jauh bukan hanya karena kualitas fisiknya. Tapi lebih karena kualitas mentalnya. Mental ulet. Mental pantang menyerah.

Mobil listrik adalah dendam lamanya. Dendam yang belum kesampaian. Di sisa usianya dendam itu harus terbayar. Dengan kemampuan otaknya, mentalnya dan kekayaannya.

James Dyson adalah memuja alam pedesaan, pegunungan, pantai dan pantai berpasir. Semua itu ia anggap sebagai anugerah. Yang harus diselamatkan.

Mobil listrik adalah alat bagi dia. Untuk menyelamatkan anugerah itu. Yang lama ia tunggu. Dari para industrialis mobil. Tapi tidak ada tanda-tanda kesungguhan dari sana.

Latar belakang pendidikan Dyson adalah seni. Lalu ke desain. Tapi bakatnya di teknik. Akhirnya ia gabungan tiga kemampuan itu.

Otaknya selalu memikirkan apa yang bisa ia temukan. Maka Dyson menemukan ini: pengangkut tanah dengan gerobak satu roda.

Penemuan itu sangat memudahkan kontraktor mengangkut tanah, semen, bata dan sejenisnya. Manusia tinggal memegang dua gagang dan mendorongnya. Tidak perlu lagi memikul atau menjinjing.

Tapi ia kecewa dengan penemuannya itu. Ia kehabisan modal. Terpaksa produksi 'whellbarrow' ini diserahkan ke investor.

James Dyson lantas bisnis kardus dan selotip.

Saat ia berada di pabriknya Dyson melihat mesin pengisap debu. Yang menggunakan sejenis karung. Untuk menampung debunya.

Ia langsung lari pulang. Menemukan sesuatu yang harus segera ia lakukan. Tidak sabar kalau harus nanti-nanti.

Tiba di rumah Dyson langsung ke tempat penyimpanan pengisap debu. Vacum cleaner. Yang waktu itu juga ada kantong penampung debunya.

Ia bongkar vacum cleaner itu. Ia pikirkan bagaimana membuat vacum cleaner tanpa kantong penampung. Alangkah sederhananya kalau vacum cleaner tanpa kantong. Pasti disenangi orang.

Maka Dyson menemukan ini: menggunakan cyclon udara. Bahkan cyclonnya dua. Terpisah. Ditempatkan di dalam vacum cleaner.

Kali ini ia tidak mau memberikannya ke investor. Tapi ia sudah terlalu banyak hutang. Tidak mungkin berhutang lagi. Tapi bank ternyata mendukungnya.

Diproduksilah vacum cleaner merk Dyson. Sukses besar. Lalu ia produksi pula pengering rambut. Dengan merk yang sama. Kipas angin. Dan banyak lagi.

Tahun 2002 ia buka pabrik di Malaysia. Dianggap terlalu berspekulasi. Tapi merk Dyson akhirnya masuk pasar Asia. Sukses pula.

Dyson sudah jadi orang terkaya di Inggris. Laba perusahaannya mencapai 15 triliun rupiah tahun lalu. Dyson tidak mau berhenti bekerja. Bahkan  cari tantangan baru: masuk mobil listrik.

"Mobil listrik Dyson nanti istimewa dan beda teknologinya," katanya. Motor listriknya akan ia buat beda dengan yang pernah ada. Demikian juga baterainya.

Kini Dyson sudah memiliki 400 engeneers. Masih mencari 300 lagi. Ia sudah punya 1.100 karyawan di Singapura, 1.300 di Malaysia, 1. 000 orang di Tiongkok dan 800 orang di Filipina.

Dua bulan lagi presiden Nissan Infinity, Roland Krueger, bergabung ke Dyson Singapura.

Tekad Dyson sudah bulat. Sejak dua tahun lalu. Bahkan Dyson bikin kejutan baru: memindahkan kantor pusat grup Dyson ke Singapura. Dari Inggris. Dengan segala resikonya. Ia sudah kepalang basah.

Padahal Dyson adalah salah satu promotor Brexit. Minggu lalu justru memutuskan memindahkan kantor pusatnya dari Inggris.

Dyson harus rasional. Apalagi keputusannya terjun ke mobil listrik tidak  bisa disambil-lalu. Ia memilih basah sekalian.

Apalagi, katanya, pemasok pabriknya selama ini kebanyakan dari Asia. Pemasok dari seluruh Eropa sendiri hanya 2 atau 3 persen.

Kini di tengah keruwetan pelaksanaan Brexit justru Dyson yang loncat duluan.
Selamat datang mobil listrik dari tetangga kecil kita.[***]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

16 Negara Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Tujuh Wakil Asia

Senin, 29 Juni 2026 | 02:03

Prediksi Skor Babak 32 Besar

Senin, 29 Juni 2026 | 02:00

Bareskrim Gagalkan Peredaran 325 Kg Sabu Jaringan Thailand-Aceh

Senin, 29 Juni 2026 | 01:31

Segera Terbitkan Regulasi Pelarangan LGBT!

Senin, 29 Juni 2026 | 01:12

Forum Konferensi Republik Hasilkan Tiga Mandat

Senin, 29 Juni 2026 | 01:03

Mesir vs Iran: Stadion Berubah Jadi Arena Adu Gengsi Ribuan Tahun

Senin, 29 Juni 2026 | 00:38

Pelarangan Konferensi Republik di Kampus UI Tak Menumbuhkan Pesimisme

Senin, 29 Juni 2026 | 00:27

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

BPPKB Banten HDS Melepas Stigma Negatif terhadap Ormas

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:41

Forum Konferensi Republik Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:05

Selengkapnya