Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Brahmantya Satyamurti Poerwadi/Dok
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mempromosikan teknologi rendah karbon dan praktik ramah lingkungan dalam pariwisata berbasis ekosistem untuk mengambil tindakan serius mengelola ekosistem laut dan pesisir yang berkelanjutan.
Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Brahmantya Satyamurti Poerwadi dalam acara yang digelar di Indonesia Paviliun yang diinisiasi oleh Kementerian Koordinasi Maritim, pada sesi di sela-sela perhelatan akbar Konferensi Pengendalian Perubahan Iklim pada pertemuan tahunan negara United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) ke-24 di Katowice, Polandia, (Sabtu 8/12) lalu.
Dalam acara itu, Brahmantya menjelaskan tentang konsep "Ekonomi Biru Berkelanjutan" berbasis kelautan yang dapat memberikan manfaat sosial, ekonomi bagi generasi sekarang dan masa depan.
"Serta dapat mengembalikan, melindungi dan mempertahankan keragaman, produktivitas, ketahanan (untuk bencana dan dampak perubahan iklim). Selain itu, konsep ekonomi biru berkelanjutan juga harus mengadopsi fungsi inti dan nilai-nilai ekosistem laut dan juga berdasarkan teknologi bersih, energi terbarukan," ujar Brahmantya, dalam keterangannya, Rabu (12/12).
Menurut Brahmantya, terdapat 3 prinsip yang harus ditekankan terkait pengelolaan keberlanjutan ekonomi biru. Di antaranya Efisiensi alam, dimana pengelolaan ekosistem berdasarkan ketersediaan sumber daya alam dari kelangkaan akan menjadi berlimpah.
Lalu, tanpa limbah yakni jangan sia-siakan sampah, sampah juga dapat diolah kembali sebagai sirkular ekonomi dan terakhir kemandirian untuk semua, dimana pekerjaan akan lebih banyak dan kesempatan bekerja untuk semua.
Dalam konferensi tersebut, KKP juga mengenalkan contoh "Best Practice" dari konsep "Ekonomi Biru Berkelanjutan". Salah satunya terkait pengembangan penurunan karbon rendah dengan melakukan pengembangan ekowisata kelautan berbasis ekosistem pesisir dan restorasi hutan bakau untuk ekowisata masyarakat di Kabupaten Malang Selatan, Jawa Timur.
"Ekowisata ini telah berhasil mengadopsi konsepsi ekonomi biru untuk memastikan keberlanjutan sumber daya ekosistem, membawa kapasitas sambil memastikan keuntungan ekonomi bagi pemegang saham lokal dan regional," kata Brahmantya.
Hal itu, kata Brahmantya, secara signifikan meningkatkan ekonomi lokal dan mendorong keterlibatan dan tanggung jawab lokal yang aktif dalam mengelola sumber daya pesisir dan perikanan.
Sementara, di sisi lain Brahmantya menekankan perlu dan pentingnya komitmen seluruh stakeholder tetap mempertahankan dan mengembangkan komitmen yang dihasilkan pada acara tahunan "Our Ocean Conference" yang diselenggarakan di Bali pada akhir Oktober lalu.
"Salah satu komitmen terkait 'climate change' yang menghasilkan 39 komitmen baru dengan jumlah total anggaran yang akan digunakan sebesar 500 juta US dolar," tuturnya.
Menurut Brahmantya, seluruh stakeholder perlu menyebarluaskan dan berbagi komitmen global yang dibuat baik oleh negara, LSM dan sektor swasta, perusahaan global, perorangan, filantropis, dan pemimpin lokal dalam mengatasi tantangan global terkait dengan dampak perubahan di lingkungan laut.
[lov]