Berita

Dahlan Iskan

Wardah Yang ITB Dan ITB

SELASA, 20 NOVEMBER 2018 | 05:03 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

"SAYA ini hanya menanam akarnya," ujar Bu Nurhayati, pemilik kosmetik Wardah. "Anak-anak kami yang membesarkannya," tambahnya.

Bu Nurhayati punya tiga anak. Yang dua, laki-laki. Mengikuti jejaknya: kuliah di ITB. Hanya beda-beda jurusan. Sang ibu kuliah di farmasi. Anak pertama ambil kimia. Anak kedua belajar elektro.

Putrinya yang memilih UI: masuk fakultas kedokteran. Pilih menjadi spesialis kulit.


Suami Bu Nurhayati sendiri  juga lulusan ITB. Kimia. Di ITB lah cinta bersemi. "Kampus kimia dan farmasi kan berdekatan," katanya dengan tersenyum.
Nurhayati lulus ITB dengan nilai tertinggi: cum laude. Lalu kuliah apoteker.

Keinginan awal Nurhayati  menjadi dosen. Dia melamar ke ITB. Ditolak. Nurhayati pulang ke Padang. Membawa pertanyaan tak terjawab: mengapa ditolak jadi dosen.
Di Padang Nurhayati bekerja di rumah sakit.
Pacaran berlanjut. Jarak jauh. Pacarnya bekerja di perusahaan minyak.

Setelah menikah Nurhayati ikut suami: pindah ke Jakarta. Bekerja di Wella. Merk kosmetik yang terkenal kala itu. Yang pasar terbesarnya di salon-salon kecantikan. Belum ada mall di zaman itu.

Lima tahun Nurhayati bekerja di Wella. Di bagian laboratorium. Yang memeriksa ramuan-ramuan kosmetik Wella.

Ketika akhirnya punya anak Nurhayati berhenti bekerja. Merawat anak. Lahir pula anak kedua. Dan ketiga.
Ketika anak bungsu tidak menyusu lagi Nurhayati mulai berpikir punya usaha.

Yang terpikir pertama langsung kosmetik. Sesuai dengan pendidikannya. Sesuai dengan pengalaman kerjanya.
Kosmetik pertamanya itu dia beri merk Putri.

Tidak laku.

Tidak ada salon yang mau menerimanya.

Tetangganya menyarankan ini: kerjasama samalah dengan pesantren. Kebetulan tetangga itu keluarga pesantren Hidayatullah. Yang punya jejaring pesantren di mana-mana.

Kebetulan juga Hidayatullah punya devisi ekonomi. Berbisnis di banyak bidang. Termasuk ritel.

Tim ekonomi Hidayatullahlah yang minta merk Putri diubah. Menjadi Wardah. Artinya: mawar. Disertai tulisan Arab yang berbunyi Wardah. Di logonya.

Mulailah Wardah dipasarkan di pesantren-pesantren.

Tidak laku.

"Santri kan tidak pakai kosmetik," ujar Bu Nurhayati mengenang. "Waktu itu".

Lalu terjadilah reformasi. Tahun 1998. Rupiah anjlok.
Kosmetik impor mahal sekali. Banyak sekali PHK. Korbannya orang-orang yang sudah biasa bekerja. Pada pereode PHK itulah mereka kerja apa saja. Banyak yang terjun ke multi level marketing.

Bu Nurhayati memanfaatkan peluang itu. Wardah dimultikan. Mulailah Wardah mendapat celah.
Produksi pun meningkat.

Rumahnya tidak cukup lagi. Dia beli tanah 1,5 ha. Murah. Di pinggiran Tangerang. Dengan dana sendiri.
Akan dibangunnya pabrik di situ. Pelan-pelan. Dengan dana sendiri.

Kebakaran.

Rumahnya terbakar.

Pabrik belum jadi.

Produksi terhenti.

Pasar yang mulai terbentuk terancam: tidak ada lagi suplai.

Politik berbalik arah. Setelah reformasi itu.
Tuntutan keadilan kian nyaring. Pasca reformasi. Termasuk keadilan ekonomi.

Bank mulai menyalurkan kredit untuk usaha kecil. Nurhayati mencobanya. Minta Rp 50 juta. Bank memeriksa kemampuan Wardah. Termasuk menghitung masa depannya. Menilai jaminannya: lebih dari cukup. Bank memberinya kredit Rp 140 juta.

Pabrik pun jadi.

Sederhana.

Anaknya lulus ITB.

Mau membantu ibunya.

Anak kedua juga lulus ITB.

Juga mau ikut di perusahaan.

Nurhayati membagi tugas:

Anak pertama mengembangkan pasar di wilayah barat Indonesia.

Anak kedua di wilayah timur.

Urusan produksi cukup ibunya. Menyangkut resep yang belum waktunya dibagi.
Ada pelajaran menarik yang diceritakan Bu Nurhayati. Tentang pembagian tugas anaknya itu. Satu pelajaran manajemen yang mahal nilainya.

Tunggulah besok. [***]

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

Gibran Jadi Kartu Mati Prabowo di Pilpres 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 03:02

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

UPDATE

DPR Minta Data WNI di Kawasan Konflik Diperbarui, Evakuasi Harus Disiapkan

Selasa, 03 Maret 2026 | 14:17

Umat Diserukan Salat Gerhana Bulan dan Perbanyak Memohon Ampunan

Selasa, 03 Maret 2026 | 14:05

KPK Terus Buru Pihak Lain yang Terkait dalam OTT Bupati Pekalongan

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:56

Putin dan MBS Diskusi Bahas Eskalasi Timur Tengah

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:46

MBG Perkuat Fondasi SDM Sejak Dini

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:46

Siap-siap Libur Panjang Lebaran 2026, Catat Jadwal Sekolah dan Cuti Bersama

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:45

Angkat Kaki dari BOP Keputusan Dilematis bagi Indonesia

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:40

Sunni dan Syiah Tak Bisa Dibentur-benturkan

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:25

Perang Iran-AS Bisa Picu PHK Besar-besaran di Indonesia

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:19

Melania Bicara Perlindungan Anak di DK PBB Saat Perang Iran Makin Panas

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:18

Selengkapnya