Berita

Syafril Sjofyan/Net

Bisnis

Tidak Saja Impor Pangan Semakin Deras, Impor TPT Pun Ikut Membanjiri

JUMAT, 02 NOVEMBER 2018 | 09:19 WIB | OLEH: SYAFRIL SJOFYAN

BISA jadi Jokowi sebagai Presiden seorang yang amat baik, saking baiknya bisa saja lemah terhadap kepentingan tokoh yang mendukungnya, termasuk kepentingan partai pendukungnya.

Membanjirinya impor pangan yang dikelola oleh Mendag pada tahun 2018 jika dibanding tahun sebelumnya sangat mencolok, apakah ini kepentingan di tahun politik, penulis belum bisa menyimpulkan.

Gaduh tentang impor beras sudah diketahui oleh kalayak ramai melalui hasil audit BPK, dan viral marahnya Kepala Bulog Buwas "Matamu!" bahkan Rizal Ramli telah pula melaporkan kasus mafia pangan ke KPK.


Data kenaikan impor pangan Januari-September 2018 oleh BPS memperlihatkan betapa jor-jorannya impor Pangan; gula tebu impor naik sebesar 9,7 persen, kenaikan impor daging 17,81 persen, impor garam juga mengalami kenaikan 22,34 persen, impor kakao tercatat naik 17 persen, mentega mengalami kenaikan 11 persen, tepung terigu mencatatkan kenaikan 30 persen, teh impor naik sekitar 3 persen, kopi luar biasa mengalami kenaikan 524 persen alias 5 kali lipat, cengkeh mengalami kenaikan impor 7 persen.

Mendag yang berasal dari parpol sangat "kekeuh" terhadap perlunya impor, wajar jika ditenggarai punya kepentingan, anehnya kegaduhan impor tersebut walaupun bertolak belakang dengan kebijakan untuk meningkatkan ekspor dan defisit perdagangan, sepertinya terkesan "dibiarkan" oleh Presiden Jokowi.

Tidak saja pangan tapi TPT (Tekstil dan Produk Tekstil) juga ternyata dibanjiri oleh impor data menunjukkan terjadi kenaikan impor secara menggila di tahun 2018, setelah berlakunya Permendag 64 tahun 2017 yang mengizinkan trader bisa impor lewat Pusat Logistik Berikat (PLB).

Konon perusahaan di PLB tempat stok barang impor ini "dikuasai" oleh orang dari satu kelompok partai.

Mendag untuk impor TPT "disokong" oleh Ketua API (Asosiasi Pertekstilan Indonesia), yang juga adalah caleg DPR RI dengan partai yang sama dengan Mendag, selalu bicara bahwa kita perlu impor untuk kepentingan ekspor dan IKM.

Alasan untuk melindungi kepentingan ekspor jelas tidak relevan karena nilai ekspor tidak naik dan alasan kepentingan IKM lebih tidak tepat karena untuk ekspor sudah ada fasilitas KB/KITE dan lagi kebutuhan IKM sudah bisa dipenuhi oleh bahan baku lokal, tepatnya  adalah adanya mafia TPT yang hanya mengutamakan kepentingan kelompok importir.

Anehnya data API sendiri menyatakan utilisasi industri TPT saat ini masih di bawah 50 persen.

Konon Memperin sudah beberapa kali berkirim surat agar impor TPT dikendalikan, sepertinya hal tersebut tidak akan digubris, jika Presiden Jokowi betul- betul kuat, mafia pangan dan mafia TPT tentunya tidak akan merajalela seperti tahun ini.

Memang sudah semestinya Presiden Jokowi lebih tegas berpihak kepada kepentingan rakyat dengan memecat Mendag yang lebih condong membela kepentingan importir, last but not least lebih membela kepentingan partai, namun jika keberpihakan Presiden sama dengan menterinya apa boleh buat, rakyat tak berdaya. [***]

Penulis adalah pengamat kebijakan publik, aktivis pergerakan 77-78.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Penyerahan Aset Hasil Kejahatan ke Negara jadi Benchmark Baru Penegakan Hukum

Rabu, 07 Oktober 2026 | 22:12

Polda Kalteng Berjibaku Lakukan Pembasahan di Area Titik Panas

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:59

Mazhab Tebet dan Pokok-pokok Pikiran Ekonomi Heterodoks

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:51

Peringati Hari Tani, PalmCo Dorong Kemandirian KUD Melalui Tata Kelola Sawit Berkelanjutan

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:44

Melihat Sahara dari Denyut Pembangunan

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:27

3.474 Napi Pindah ke Nusakambangan, 115 dari Rutan Depok

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:04

Bos Danantara Ungkap Hilirisasi Dongkrak Ekspor Nikel RI 10 Kali Lipat

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:55

KPK Geledah Dinkes Pemkot Madiun, Sita Dokumen hingga Uang Tunai

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:32

Titiek Soeharto Diminta Turun Gunung Pimpin FKPPI

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:25

RUU Migas dan BUK Migas Harus Menyalakan Kembali Mesin Eksplorasi Indonesia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:01

Selengkapnya