Berita

Jair Bolsonaro/Net

Dahlan Iskan

Bolsonaro Tempe Atau Kedelai

MINGGU, 28 OKTOBER 2018 | 05:37 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

HARI ini pemilihan presiden di Brazil. Babak final. Putaran pertamanya 20 hari lalu. Diikuti 13 pasangan. Tidak ada yang mendapat suara lebih 50 persen.

Dua peraih suara terbanyak ditanding ulang. Tanggal 28 Oktober ini: Jair Bolsonaro dan Fernando Haddad, mantan walikota Sao Paolo. Pemenangnya hampir pasti: Bolsonaro. Di putara pertama Bolsonaro unggul jauh: 46 persen lawan 29 persen.

Yang ikut dag-dig-dug kelihatannya Tiongkok. Bolsonaro dikenal sebagai Donald Trump-nya Brazil. Ia menggunakan isu "Brazil First". Dalam kampanyenya. Dan anti Tiongkok. Kayaknya.


Salah satu slogan kampanyenya dihafal rakyatnya: Tiongkok bukan membeli di Brazil, tapi membeli Brazil.

Sebenarnya tidak terlalu tepat menyamakan Bolsonaro dengan Trump. Ia bukan seorang konglomerat. Alirannya pun beda jauh: sosial liberal. Mungkin ia menggunakan isu Tiongkok untuk daya tarik kampanye saja.

Bolsonaro adalah tentara. Pangkatnya hanya kapten. Masih tinggian AHY. Pasangan sang kapten yang justru jenderal: Hamilton Mourao. Sedangkan Trump pengusaha murni. Sejak muda.

Umur mereka juga beda jauh: 10 tahun. Bolsonaro berumur 63 tahun.

Satu hal yang bisa dianggap sama: isterinya yang sekarang adalah yang ketiga. Isteri pertama diceraikannya. Setelah mendapat dua anak. Isteri berikutnya juga dicerai. Dapat satu anak.

Istri yang sekarang yang paling menarik perhatian. Pernah ia rekrut sebagai sekretaris di legislatif. Dengan gaji tiba-tiba tinggi. Jabatan itu hilang ketika Brazil menelorkan UU baru: anti nepotisme. Untuk di birokrasi pemerintahan.

Di kita nepotisme belum dianggap melanggar hukum. Dari tiga huruf KKN baru dua K yang dilarang. Bolsonaro dianggap bersih dari dua K.

Orang berani memang sering mendapat momentum. Untuk nasib baik. Untuk nasib buruk.

Keberanian Bolsonaro membuat nasibnya buruk. Sebentar. Lalu bernasib baik sekali.
Mula-mula ia disingkirkan dari kesatuannya: pasukan para. Mirip Kopassus. Ke pasukan cadangan.

Penyebabnya: Bolsonaro berani menulis di media masa. Dengan topik yang sangat 'bukan sikap prajurit': mengeluhkan kecilnya gaji tentara. Keberaniannya itu mendapat sambutan hangat. Termasuk dukungan tertulis. Dari internal tentara sendiri.

Heboh. Bolsonaro menjadi top.

Momentum disingkirkan itu membuatnya ambil putusan: masuk ke dunia politik. Nyaleg untuk DPRD kota Rio de Jeneiro. Lewat Partai Kristen. Terpilih.

Karir politik Bolsonaro terus melejit. Tahun 1990 nyaleg untuk DPR Pusat. Umurnya baru 35 tahun. Terpilih. Dan terus terpilih. Menjadi anggota DPR selama 28 tahun.

Ia melihat saat ini kepercayaan rakyat pada pemerintah terus menurun. Muak. Dengan korupsi yang terus terbongkar. Juga dengan parahnya penegakan hukum.

Kapten Bolsonaro pun mencalonkan diri. Lewat Partai Sosial Demokrat. Bahwa rakyat mengidentikannya dengan Trump adalah juga watak tegasnya.

''Kalau ada polisi yang menembak 10, 15, 20 orang jahat ia harus mendapat penghargaan,'' katanya.

''Kalau  polisi menghabiskan peluru sampai 30 butir untuk menembak satu penjahat harus diapresiasi,'' tambahnya.

Kalau Bolsonaro terpilih, ia harus menghadapi kenyataan: bagaimana hubungan Brazil dengan Tiongkok.

Ibarat madu dan racun. Menjadi satu.

Memang luar biasa banyaknya proyek Tiongkok di Brazil. Dan besarnya. Tapi juga begitu banyak Brazil ekspor ke Tiongkok. Terutama bijih besi dan kedelainya.

Apalagi sejak perang dagang Amerika-Tiongkok. Kedelai Brazil membanjiri Tiongkok. Itu menyangkut 40 persen pemilih. Yang jadi pendukungnya.

Tiongkok telah investasi 124 milyar dollar di sana. Beli apa saja: tambang, minyak, pelabuhan, kereta api...

Tiongkok juga membeli perusahaan strategis: Molybdenum Co. Dengan harga 1,7 milyar dollar.

Molybdenum adalah bahan aditiv untuk peleburan baja. Agar bajanya bisa lebih ringan tapi juga lebih kuat.

Brazil menguasai 85 persen sumber bahan ini. Tiongkok sangat memerlukannya untuk kemajuan teknologinya.

Brazil memang penghasil kedelai yang hebat. Kita tunggu saja  apakah Bolsonaro itu kedelai atau tempe.  [***]


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

16 Negara Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Tujuh Wakil Asia

Senin, 29 Juni 2026 | 02:03

Prediksi Skor Babak 32 Besar

Senin, 29 Juni 2026 | 02:00

Bareskrim Gagalkan Peredaran 325 Kg Sabu Jaringan Thailand-Aceh

Senin, 29 Juni 2026 | 01:31

Segera Terbitkan Regulasi Pelarangan LGBT!

Senin, 29 Juni 2026 | 01:12

Forum Konferensi Republik Hasilkan Tiga Mandat

Senin, 29 Juni 2026 | 01:03

Mesir vs Iran: Stadion Berubah Jadi Arena Adu Gengsi Ribuan Tahun

Senin, 29 Juni 2026 | 00:38

Pelarangan Konferensi Republik di Kampus UI Tak Menumbuhkan Pesimisme

Senin, 29 Juni 2026 | 00:27

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

BPPKB Banten HDS Melepas Stigma Negatif terhadap Ormas

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:41

Forum Konferensi Republik Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:05

Selengkapnya