Berita

Foto/Net

Bisnis

Harga Pertamax Cs Bisa Turun Lagi Nih

Minyak Dunia Merosot
SABTU, 13 OKTOBER 2018 | 08:37 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Harga minyak dunia terus turun. Padahal, Pertamina baru saja menaikkan harga pertamax cs tiga hari lalu. Apakah harga bensin non subsidi tersebut akan kembali diturunkan?
Harga minyak dunia sedang mengalami tren penurunan. Dikutip dari Reuters, kemarin minyak mentah Brent berjangka turun 2,83 dolar Amerika Serikat (AS) atau 3,41 persen menjadi 80,26 dolar AS per barel.

Sedangkan minyak mentah berjangka West Texas Interme­diate (WTI) AS saat ini di level 71,08 dolar AS per barel. Harga minyak dunia turun karena pasar saham AS tergelincir pada perda­gangan Rabu (10/10).

Pengamat dari Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan, jika penurunan harga minyak dunia berlangsung stabil hingga beberapa minggu ke depan, maka harga pertamax cs yang baru naik beberapa hari lalu berpotensi turun kembali. "Kita berharap penurunannya akan panjang, dengan begitu harga Pertamax series bisa turun juga," katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Pengamat dari Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan, jika penurunan harga minyak dunia berlangsung stabil hingga beberapa minggu ke depan, maka harga pertamax cs yang baru naik beberapa hari lalu berpotensi turun kembali. "Kita berharap penurunannya akan panjang, dengan begitu harga Pertamax series bisa turun juga," katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Namun, jika penurunan harga minyak ini hanya sementara dan kembali mengalami kenaikan, kemungkinan besar Pertamina tidak akan melakukan evaluasi harga. Dilanjutkan Mamit, nor­malnya evaluasi harga Perta­max series dilakukan Pertamina setiap dua minggu.

"Tapi karena berbagai macam pertimbangan dan melihat daya beli, biasanya Pertamina agak lama melakukan penyesuaian harga. Bisa dalam hitungan bu­lan," tegas Mamit.

Dia menambahkan, penurunan pertamax cs akan membantu menjaga beli masyarakat karena inflasi terjaga. Sehingga kon­sumsi tinggi dan perekonomian bisa stabil.

Pengamat Energi Komaidi Notonegoro mengatakan, turun atau tidak harga pertamax cs karena harga minyak dunia merosot tergantung hitungan dari Pertamina. Perusahaan pelat merah itu selalu melakukan evaluasi harga menyesuaikan dengan kondisi harga minyak dunia dan nilai tukar.

"Tapi, kombinasi kalau harga minyak turun dolar melemah ya bisa juga nggak turun," ujarnya.

Menurut dia, evaluasi harga mestinya dilakukan secara ru­tin. Tidak seperti saat ini di mana perubahan harganya ter­lalu lama. Evaluasi berkala tidak akan menimbulkan gejolak di masyarakat.

"Kalau mau naik dinaikkan, kalau turun diturunkan sehingga konsumen terbiasa naik turun," tutupnya.

Vice President Corporate Communication Pertamina Adiatma Sardjito mengatakan, harga pertamax cs dibentuk oleh harga minyak dunia dan nilai tu­kar. Namun, harga minyak dunia menjadi penentu terbesar.

"Evaluasinya tiap tiga bulan. Karena kita lakukan pemesanan sekarang sampainya 3 bulan kemudian," ujarnya.

Dongkrak Rupiah

Menko Perekonomian Darmin Nasution menilai, kenaikan harga pertamax cs memperkuat ketahanan fiskal Indonesia. Buk­tinya nilai tukar rupiah positif.

Pernyataan Darmin merespons penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Ju­mat (12/10). Berdasarkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah berada pada level Rp 15.194 per dolar AS atau lebih baik dibandingkan pada Kamis (11/10) yang berada pada level Rp 15.253 per dolar AS.

Darmin mengatakan, pergerakan positif rupiah tidak hanya dipengaruhi oleh kenai­kan harga pertamax cs, tetapi juga pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Nusa Dua, Bali. ***

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Menhan Sjafrie-Dubes Maroko Bahas Penguatan Kerja Sama Pertahanan Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:11

Kompensasi Uang Bau TPST Bantar Gebang Molor

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:01

DJP: Sistem Sudah Siap Pungut Pajak Pedagang Online Mulai 1 Juli

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:25

GMNI Dorong Efisiensi APBN Berorientasi Kesejahteraan

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:12

CBA Ancam Laporkan KPK ke Dewas soal Suap Impor Bea Cukai

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:00

Der Panzer Rontok, Bangsa yang Pernah Hampir Punah Justru Melaju

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:34

Erling Haaland Bawa Norwegia Tantang Brasil

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:22

Ini Alasan Upacara Hari Bhayangkara Digelar di Satlat Brimob Polri Cikeas

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:00

Sanksi Partai Tak Bisa Gantikan Proses Hukum Kasus Dokter Icha

Rabu, 01 Juli 2026 | 01:41

Selengkapnya