Berita

Dahlan Iskan/Net

Dahlan Iskan

Sevilla Dan Nevada Mengingatkan Sumba

MINGGU, 02 SEPTEMBER 2018 | 05:33 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

TERPAKSA bermalam di Las Vegas, kemarin. Tidak kuat lagi untuk terus mengemudi. Tidak ada John Mohn. Tidak bisa bergantian.

Pukul 07:00 pagi saya meninggalkan rumah drg Ibrahim Irawan di Arcadia itu. Di timur Los Angeles itu. Pukul 19:00 baru tiba di tempat ini. Sekitar 40 Kilometer menjelang Las Vegas.

Berarti hampir 12 jam saya berada di belakang kemudi.


Untung matahari masih agak tinggi. Bisa melihat apa yang selama ini saya cari: CSP di gurun Nevada.

Saat CSP pertama kali dicoba saya penasaran. Pertama di dunia. Ingin segera melihat. Di Spanyol. Di padang Sevilla.

Tapi kala itu saya masih menteri. Tidak bisa sering ke luar negeri.

Awal 2015 baru ada kesempatan. Ketika bersama keluarga ke Madrid, Valencia dan Barcelona. Malam tahun baru itu saya hanya sebentar. Melihat keramaian terompet di Plaza Major. Madrid.

Saya ada rahasia: pukul 05:00 pagi ingin bangun. Ingin ke Sevilla.  Sendirian. Biarlah istri dan anak cucu meneruskan tidur mereka. Pukul 09:00 saya baru tiba kembali di  Madrid.

''Dari mana? Dengan siapa? Mengapa?,'' tanya istri saya.

Saat itu mereka lagi ramai sarapan pagi. "Dari lihat CSP. Teknologi baru,'' jawab saya.

Tidak ada pertanyaan lanjutan.  Mereka tahu kebiasaan saya: mendalami apa yang mereka tidak mengerti.

Tapi cucu saya yang bertanya. Apa itu CSP? Demi masa depan mereka saya harus jelaskan semua. "Di sekolah kalian pernah ada praktik membakar kertas dengan kaca cermin?'' tanya saya balik.

''Pernah...,'' sahutnya. Cucu yang lain ikut nimbrung.

Saya beri kesempatan mereka bersautan. Menceritakan bagaimana membakar kertas dengan cermin cembung. Di sekolah masing-masing.

''Cara itu sekarang dipakai untuk membuat pembangkit listrik,'' kata saya. ''Disebut CSP. Concentrated Solar Power,'' tambah saya.

Saya tidak perlu menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Semua cucu saya saling bicara dalam bahasa Inggris. Sehari-harinya. Yang dua mulai belajar Mandarin pula.

Lalu saya tunjukkan foto-foto  kunjungan saya.

Ribuan cermin raksasa. Dipasang melingkar. Di atas tanah tandus. Satu cermin lebarnya 6 x 8 meter. Jumlahnya 20 ribu.

Saat tiba di Sevilla, matahari hampir terbit. Dari kejauhan terlihat sinar seperti di film Starwars. Dari bawah ke atas. Mencong. Sinar itu berhenti di satu titik. Di atas satu tower. Setinggi 100 meter.

"Itu dia CSP-nya," kata saya dalam hati.

Pandangan saya tidak lepas dari sinar itu. Kian dekat. Kian terlihat bagian bawahnya. Lingkaran ribuan cermin itu.

Matahari kian tinggi. Sinar itu tidak terlihat lagi. Kalah dengan terangnya matahari. Tapi daya panasnya justru meningkat.

Panas dari ribuan cermin itu mengarah ke satu fokus. Ke benda yang ada di puncak tower itu. Tentu benda itu bukan kertas. Pasti sudah menyala.

Benda itu material khusus. Yang bisa menerima panas. Tapi tidak hangus.

Di dalam benda itu ada air. Airnya mendidih.Menghasilkan uap. Uapnya diberi tekanan. Untuk memutar turbin. Turbinnya memutar generator. Jadilah listrik.

Itulah pertama kali CSP lahir di dunia. Biayanya mahal sekali. Banyak kesalahan harus dikoreksi. Dana Timur Tengah ikut mengatasi.

Dua tahun kemudian saya dapat kabar baru: Tiongkok sudah bisa membuatnya. Begitu cepat negeri itu menyerapnya.

Di Nevada juga. Di dekat Las Vegas itu. Saya ingin melihat dua-duanya.

Saya ke Tiongkok. Ke kawasan yang bukan main jauhnya: Qinghai. Di atas pegunungan pula. Di dataran yang lebih 4 ribu meter tingginya. Yang banyak masjidnya. Banyak kambing bakarnya. Banyak sapi berbulunya. Banyak jenis babi yang makannya rumput. Di gembala bersama domba.

Yang juga lagi dicoba menanam quinoa. Satu jenis padi-padian. Yang hanya bisa hidup di atas ketinggian 4 ribu meter. Yang aslinya dari Bolivia. Yang Unesco menyatakan: makanan paling bergizi di dunia. Yang di Jakarta  beras quinoa ini Rp 200 ribu/kg harganya.

Kini saya bisa melihat CSP di Nevada. Sama sulitnya. Harus mengemudikan mobil begitu jauhnya. Melewati padang Nevada yang begitu panasnya, ingatan saya melayang ke Sumba. [***]

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

UPDATE

Meluruskan Hari Lahirnya Pancasila: Dari Piagam Jakarta Hingga Dekrit Presiden

Selasa, 02 Juni 2026 | 20:01

Kuasa Hukum Gus Yaqut Sebut Tidak Ada Konfirmasi Aliran Dana

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:46

RI Impor Emas 2,5 Ton pada April 2026, Australia jadi Pemasok Terbesar

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:16

Saksi Perkara Maluku, Thobahul Aftoni Akui Mardiono Ketum PPP

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:13

BEM PTMA: MBG adalah Investasi Jangka Panjang Menuju Indonesia Emas

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:09

Gerinda Sebut Lawatan Prabowo Perkokoh Posisi Indonesia di Kancah Dunia

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:08

KPK Tahan Tiga Tersangka Korupsi Pembangunan Gedung Pemkab Lamongan

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:05

Habiburokhman: Zaman Pak Dino Sehebat Apa sih?

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:50

Daftar Harga LPG 5,5 kg dan 12 Kg Terbaru, Cek Tiap Provinsi

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:47

SPI: Nasionalisme dan Kepastian Hukum Harus Seimbang

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:46

Selengkapnya