Berita

Dahlan Iskan

Pelajaran dari Batu dan Cucu

SELASA, 28 AGUSTUS 2018 | 05:00 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

SAYA masih penasaran. Bagaimana tanah berbatu itu bisa diubah. Jadi perkebunan tebu. Di Sumba Timur.

Tanahnya begitu kering.  Begitu berbatu. Begitu tandus. Jarang kena hujan.

Saya sekali lagi ke kebun tebu itu. Minggu lalu. Sebelum bermalam di kemah. Di padang savana. Di  Sumba.


Di kebun itu saya diterima oleh para manajer mereka. Yang ditugasi menjelaskan apa saja. Yang ternyata  tidak satu pun yang ahli tebu. Atau ahli gula. Sekedar berpengalaman pun tidak.

Disengaja begitu. Untuk menemukan terobosan baru. Di medan baru. Di iklim baru. Di jenis tanah yang baru.

''Semua teori kebun tebu tidak berlaku di sini,'' ujar Husin Nurroy.

Husin sendiri 'manusia kelapa sawit'. Demikian juga anggota tim lainnya. Ia sudah malang-melintang di sawit. Lebih 20 tahun. Sejak tamat fakultas pertanian Universitas Jember.

Bahkan Husin menghabiskan masa mudanya di kebun. Dekat perbatasan. Dengan Serawak. Di pedalaman Kalimantan Barat.

Ilmu kebun ia peroleh di situ. Di lapangan. Di pedalaman. Istrinya pun ia dapatkan di situ: wanita suku Dayak.

Mungkin Husin orang Bojonegoro, Jatim, pertama yang beristeri wanita Dayak. ''Kami memang suka tantangan,'' kata Husin.

Tentang tanah berbatu itu. Yang ia hadapi sekarang itu.  ''Lahan di sini batunya 70 persen. Tanahnya hanya 30 persen,'' tambahnya.

Dua tahun Husin dan teman-temannya trial and error. Learning by doing. Baru tahun 2016 tim kebun menemukan jalan keluar.

Bongkahan batu-batu yang sebesar kerbau dipecah. Dengan teknologi. Menjadi sebesar kambing. Lalu diangkut. Ke satu lokasi.

Di gudang batu itu disediakan mesin. Penghancur batu. Dilembutkan. Menjadi sebesar cenilan tahi kambing. Itulah bahan utama untuk membuat jalan.

Di kawasan kebun ini memang harus dibangun jaringan jalan. Total panjangnya 15 km. Sebagian jalan itu lebarnya 30 meter. Yang di sekitar calon lokasi pabrik gula.

Begitu banyak material yang diperlukan. Dan ternyata... itu tadi... bisa dicukupi dari batu yang harus dipindahkan. Tidak perlu mendatangkan material dari luar. ''Tanpa menghadapi kesulitan itu tidak akan ditemukan sumber material untuk membangun jalan,'' ujar Husin.

Tidak semua batu dipindahkan. Yang sebesar ayam ditinggal. Untuk dilumat di tempat. Dijadikan selembut tanah. Agar menyatu di situ. Kebetulan jenis batunya karang. Bisa dilembutkan menjadi kapur.

Memang, cara ini sangat memamah uang. Biaya membuat kebun tebu menjadi sangat mahal. Satu hektare perlu biaya --ampun-- Rp 200 juta. Baru tebu bisa ditanam.

Bandingkan dengan di Jawa. Atau Lampung. Hanya diperlukan Rp 12 juta/ha. Tebu sudah bisa ditanam.

Peralatan yang harus disediakan pun bukan lagi cangkul. Atau lencek. Atau ganco. Tapi alat-alat berat: ripper dozer, buldozer, excavator, stone, crusher, sorting-bucket excavator dan seterusnya.

Waktunya pun sangat lama. Pun dengan alat sebesar itu.   Satu hektar perlu pengerjaan tiga bulan.

Betapa mahal membangun pabrik gula di Sumba Timur itu. Tinggal mengalikan. Delapan ribu hektar kali Rp 200 juta. Saya bisa menghitung itu. Tapi angka di kalkulator saya tidak cukup banyak.

Untung ada dua orang super kaya. Yang mau terjun ke sana. Robert Budi Hartono dan William Katuari. Yang satu pemilik grup Jarum. Satunya lagi pemilik grup Wing. Yang satu orang Kudus (Jateng). Satunya lagi orang Surabaya asal Tulungagung.

Dua orang itu bekerja sama. Mendirikan PT Muria Sumba Manis.

Dua orang itu saling mengawinkan anak mereka.  Besanan. Anak mereka berjodoh. Saya tidak bisa membayangkan. Jadi apa cucu hasil perkawinan dua orang superkaya itu nanti.

Yang saya tahu: salah satu ponakan Hartono kini berada di India. Lucy Agnes.

Melupakan kemewahan dunia. Menyerahkan hidupnya: mengabdi di lembaganya Bunda Theresa.

Cucu orang terkaya. Yang sejak kecil bergelimang harta. Ketika berumur 26 tahun membuat keputusan yang tidak terduga: kekayaan tidak ada artinya.

Begitu dramatik ketika sang dara meninggalkan kerajaan bisnis kakeknya. Berangkat hanya membawa dua baju sederhana. Dan dua sandal japit bekas pakainya.

Dia tinggalkan gaun-gaunnya. Sepatu-sepatu high heels-nya. Kosmetiknya. Parfumnya. Tas-tas Hermesnya.

Itulah syaratnya. Kalau ia ingin diterima mengabdi di gereja Katolik Bunda Theresia.

Dia terima syarat itu. Dan dia pun berangkat. Memutuskan untuk tidak akan berumah tangga. [***]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

Komisi XIII DPR Soroti Perlindungan Hukum Pelaku Usaha yang Tabrak Aturan

Senin, 29 Juni 2026 | 12:22

Ketika Jalanan Pindah ke Dalam Genggaman

Senin, 29 Juni 2026 | 12:07

Gaya Komunikasi Presiden Prabowo Berisiko Menenggelamkan Kinerja Pemerintah

Senin, 29 Juni 2026 | 12:01

KPK Periksa Saksi Swasta dalam Kasus Gratifikasi Produksi Batu Bara di Kukar

Senin, 29 Juni 2026 | 11:54

Harga Bapok Kompak Anjlok, Telur Ayam Turun Jadi Rp28.850/Kg

Senin, 29 Juni 2026 | 11:32

Kasus YTR Jadi Alarm, Garnita NasDem Minta Negara Perkuat Perlindungan Perempuan

Senin, 29 Juni 2026 | 11:15

Safari Politik Jokowi Dibungkus Ritual Adat untuk Dongkrak Publisitas PSI

Senin, 29 Juni 2026 | 11:13

Petugas Haji Masih Bersiaga hingga Kepulangan Kloter Terakhir

Senin, 29 Juni 2026 | 11:07

Kenaikan Beruntun CPO Malaysia Didorong Sentimen Minyak Global

Senin, 29 Juni 2026 | 10:57

Prabowo Ingatkan Ancaman AI, Akademisi Diminta Antisipasi Dampaknya

Senin, 29 Juni 2026 | 10:52

Selengkapnya