Berita

Dahlan Iskan/Net

Dahlan Iskan

Loyalitas Jalan Kebun Sirihnya Trump

SABTU, 25 AGUSTUS 2018 | 06:55 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

PRESIDEN Trump mengancam. Menakut-nakuti.

''Kalau saya di-impeach ekonomi Amerika bisa runtuh,'' katanya, kemarin dulu.

Sombong sekali. Berlebihan. Tidak masuk akal.


Partai Demokrat memang sudah sesumbar: November nanti akan meng-impeach Trump. Kalau Demokrat bisa menjadi mayoritas di kongres.

November nanti adalah bulan pemilu legislatif. Pileg sela. Memang ada Pileg sela di Amerika. Separo masa jabatan anggota kongres habis November nanti.

Itulah bulan rebutan kursi. Republik lawan Demokrat. Perang dagang dengan Tiongkok pun jangan diharap berakhir sebelum pileg itu berlalu. Perang dagang itu bisa dijadikan senjata kampanye.

Kalau Republik yang memenangkan pileg, berarti Trump aman. Biar pun namanya disangkutkan dengan perbuatan kriminal. Yang dilakukan oleh Michael Cohen. Pengacaranya.

Di Amerika seorang presiden tidak bisa jadi tersangka. Di saat masih duduk di jabatannya. Tidak seperti di Korea Selatan. Perkara itu baru dikenakan setelah presiden tidak menjabat.

Memang Cohen sudah mengaku bersalah. Kamis lalu. Melakukan kejahatan kampanye Pilpres. Dan kejahatan pajak.

Khusus yang kejahatan pemilu, ia mengaku disuruh dan diarahkan Trump. Untuk menggunakan dana kampanye. Ini kriminal.

Dana kampanye itu dipakai untuk membayar uang tutup mulut. Kepada dua wanita: Stormy Daniels dan Karen McDougle. Yang satu bintang film porno. Satunya lagi gadis sampul majalah Playboy. Keduanya mengaku pernah bersama Trump. Di atas ranjang.

Di Amerika berlaku sistem hukum seperti ini: Seseorang yang dinyatakan jadi tersangka bisa mengajukan dua pilihan.
Pertama, mengaku tidak bersalah.

Maka tersangka harus diadili. Dibawa ke pengadilan. Diperiksa pengadilan. Didatangkan saksi-saksi. Baik yang diajukan jaksa maupun tersangka.

Pengadilan yang akan menentukan ia bersalah atau tidak.

Sidang pengadilan itu dilihat oleh lima orang juri. Melihat dan mendengarkan. Juri mengikuti perdebatan di pengadilan itu.

Mereka hanya menyaksikan. Tidak boleh mengajukan pertanyaan.

Jumlah juri itu kadang tujuh orang. Sesekali sembilan orang. Kalau kasusnya berat.

Setelah perdebatan di pengadilan selesai juri bersidang. Menentukan tersangka bersalah atau tidak.

Kalau juri menyatakan bersalah barulah hakim memutuskan: dihukum berapa tahun. Tugas hakim hanya memutuskan nilai hukuman.

Kalau juri memutuskan tidak bersalah hakim membebaskannya.

Anggota juri itu orang biasa. Masyarakat umum. Bukan pekerjaan. Yang secara acak diminta oleh pengadilan. Dari warga setempat.

Keberadaan juri itu dirahasiakan. Namanya maupun alamatnya. Juga dikarantina. Untuk kasus-kasus khusus.

Pilihan kedua, tersangka bisa langsung menyatakan dirinya memang bersalah. Mengakui begitu saja. Bahwa tuduhan yang ditujukan padanya memang benar.

Kalau sudah demikian tidak perlu ada peradilan. Tidak perlu ada sidang-sidang. Tidak perlu ada saksi-saksi.

Hakim langsung memutuskan: dijatuhi hukuman berapa tahun.

Biasanya lebih ringan. Pengakuan bersalahnya mengurangi hukumannya.

Pilihan kedua itulah yang dilakukan Michael Cohen. Ia mengaku di bawah sumpah: bersalah.

Tinggal menunggu putusan hakim. Berapa lama ia harus dipenjara.

Itulah perjalanan karir Cohen. Yang sudah 10 tahun menjadi pengacara Trump. Yang pernah bersumpah untuk pasang badan. Demi melindungi Trump. Yang pernah mengatakan badannya siap ditembus peluru. Demi menyelamatkan Trump.

Tapi Cohen merasa tidak mendapat perlindungan dari Trump. Bahkan uangnya habis dalam proses perkara ini. Tanpa ada bantuan dari Trump.

Di lain pihak Cohen memang terjepit bukti. Tidak bisa mengelak. Pembicaraan teleponnya terekam. Dokumen elektroniknya disita. Dokumen tertulisnya diangkut. Saat kantornya digeledah FBI.

Cohen menyerah.

Mengaku bersalah. Demi mendapat keringanan hukuman.

Tidak bisa lagi memenuhi sumpahnya. Merelakan Trump panik sendiri.

''Bagaimana seorang presiden yang begini hebat akan dijatuhkan,'' kata Trump. Yang memang sudah biasa bicara penuh busa.

Washington Post terus mencatat busa-busa dari mulut seperti itu. Selama jadi presiden sudah 3.251 kali. Trump mengucapkan kebohongan. Atau berbau kebohongan. Atau sejenis busa.

Teman-teman Cohen kini membuka dompet. Di internet. Ingin meringankan beban keuangannya. Sudah terkumpul 125.000 dolar.

Saya lihat daftar sumbangan itu. Banyak yang hanya menyumbang 5 dolar. Eh, ternyata 5 dolar itu sekarang sudah sebesar Rp 75 ribuan ya.

Padahal Cohen sejak awal sudah nge-fans pada Trump. Sesama orang New York.

Ia sampai dua kali membaca buku Trump: Art of Negosiation.

Dan mengaguminya.

Trump memang terkenal ahli negosiasi. Alias punya jiwa mentolo.

Kalau perlu dengan cara mengancam. Injak kaki. Somasi. Bahkan ke pengadilan.

Bisa kita lihat jejaknya. Sampai sekarang: caranya nego dengan Tiongkok. Atau dengan Iran. Juga dengan Turki. Dan dengan siapa saja.

Mungkin Cohen kini merasakan sendiri. Kehebatan idolanya itu.

Cohen sudah harus tahu itu.

Sejak awal jadi pengacara Cohen sudah sewa kantor di gedung Trump. Lalu berada di pihak Trump. Saat pemilik gedung lagi bersengketa dengan tenant.

Sejak itulah Trump terpikat pada Cohen. Dan Cohen bersuka cita. Bisa dipercaya oleh idolanya. Jadilah Cohen pengacara Trump. Bahkan menjadi direktur yayasan Trump. Dan beberapa jabatan lagi.

Kini Trump boleh khawatir. Orang kepercayaannya sudah cari selamat sendiri.

Mestinya Trump lebih khawatir lagi. Betapa banyak rahasia Trump yang ada di tangan Cohen. Tak terkirakan.

Cohen memang loyal pada Trump. Tapi Trump ternyata tidak loyal pada Cohen. Mungkin karena merasa sudah membayarnya.

Loyalitas Cohen ternyata loyalitas Jalan Kebun Sirih: loyalitas satu arah. [***]

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya