Berita

Foto/Net

Nusantara

Korban Gempa Belum Terima Bantuan, Wajahnya Memelas

Video Pemblokiran Jalan Di Lombok Viral
KAMIS, 23 AGUSTUS 2018 | 08:46 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Penanganan bencana gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) sudah maksimal, rupanya hanya klaim saja. Faktanya, masih banyak wilayah yang terkena dampak gempa belum tersentuh bantuan.

Akibatnya, banyak warga yang men­galami kelaparan. Bahkan, di media sosial beredar video singkat puluhan warga Lombok melakukan pemblokiran jalan raya karena lapar. Disebutkan, wilayah yang melaku­kan blokir jalan adalah daerah Mapin Rea, Kecamatan Alas Kabupaten Sumbawa.

Mereka memblokir dengan berbagai kayu dan bangku, bambu serta peralatan lainnya. Ketika ada kendaraan yang ingin melintas, warga mengeluhkan soal bantuan yang belum sampai ke daerah terdampak gempa.


"Sampaikan ke pemerintah, kita sudah dua hari tidak ada bantuan," ujar korban gempa dengan mimik wajah memelas.

Tak hanya mengeluhkan soal bantuan, warga juga mengungkapkan, di wilayahnya tidak ada pihak keamanaan yang melakukan pengawasan. "Tidak ada yang patroli selama ini," ucapnya.

Melihat keluhan dan penderitaan warga Lombok yang mengalami kelaparan selama dua hari ini, membuat prihatin banyak pihak, termasuk warganet.

"Udah 2 hari gak ada bantuan dan pemer­inth menimbang-nimbang untung rugi buat menjdikan bencana nasional, lebih memikir­kan pariwisata dari pada kemanusiaan," ujar Akun @rusli_amarrul.

Akun @zamzami59 juga mengaku sedih dengan penderitaan warga yang terkena dampak gempa. Apalagi, kata dia, masyarakat sudah mulai blokir jalan karena sudah 2 hari tak ada bantuan apa. "Jika masih punya hati jadikan #LombokBencanaNasional," ujar dia meretweet akun @pramonoanung.

"Saya nangis sekaligus ikut marah ini. Pemerintah kok bisa-bisanya tidak hadir. Saya memang pendukung hestek 2019Ganti tapi ini soal kemanusiaan tolong pemerintah, ini rakyatmu sedang dalam kesusahan jangan fokus Asian Games & copras capres dulu lah, tangani ini dulu yang lebih penting," protes akun @GlumiDey.

Senada, akun @Teh_telor78 mengaku aneh dengan kebijakan pemerintah yang enggan menetapkan gempa Lombok sebagai bencana nasional. "Sudah separah ini tapi belum juga ditingkatkan statusnya jadi bencana nasional, lamban sekali," kritik dia.

Lebih kritis, akun @akexa34413242 menga­takan apa pemerintah harus menunggu korban bertumbangan baru difokuskan. "Nunggu para korban mati kelaparan kali ya.... musibah kok itung itungan untung dan rugi," ujarnya kesal.

"Sampai segitunya ya, ada apa ini dengan pemimpin negri ini? Andaikan dia ada di posisi mereka hmm," kata akun @m_awaldf.

Akun @LifeFleeting1 juga mengaku se­dih dengan situasi yang dialami oleh warga Lombok. Diapun mendoakan agar pemimpin zalim dilaknat oleh tuhan. "Terkutuklah pemimpin-pemimpin yang menutup-nutupi keadaan sebenarnya hanya untuk menjilat tuannya."

"Sabar, saudaraku. Biarpun para pemimpin "zalim" kita tercinta tidak hadir, tapi Allah akan selalu hadir & menyertai kita semua," hibur akun @mtaufikkmJKT48.

Berikutnya akun @radinCoe ikut men­doakan agar berbagai kesulitan yang dih­adapi warga Lombok bisa selesai. "Sudah sangat-sangat mengkhawatirkan. Semoga Alloh berikan jalan keluar terbaik," katanya ditimpali akun @wahyu_djanti88. "Turut pri­hatin dengan kondisi korban di NTB. Semoga gempanya segera surut dan sodara-sodara saya disana segera dapat bantuan yang konkrit untuk recoveri. Aamiin."

Sementara akun @bolang465 menyarankan dalam situasi dan kondisi seperti ini semua birokrasi dipangkas, karena sebanyak apapun bantuan masyarakat kalo masyarakatnya gak punya perangkat ya susah juga. Makanya se­cepatnya pemerintah naikan menjadi bencana nasional untuk lombok.

"Dalam keadaan darurat seperti ini jalur birokrasi mesti diputus biar bantuan segera ke tangan yang berhak. Kasian saudara-saudara kita sudah kelaparan & kesusahan," kata akun @Aa_Dana12.

Akun @salamun303 menyesalkan respons pemerintah yang kurang peka terhadap nasib yang dialami oleh rakyatnya. "Ya Allah kenapa seperti ini penanganan bencana alam yang sedianya aparatur negara hadir pada saat saat seperti ini pada kemana pembantu Presiden," tanya dia.

Sementara akun @sugiarta-arta memper­tanyakan para pejabat daerah yang kurang cekatan sehingga warga kelaparan. "Kemana pemda Sumbawa/Sumbawa Barat? Kok sampe gak ada bantuan pada korban gempa? @Fahrihamzah kenapa gak telp bupati kedua kabupaten untuk segera menurunkan bantuan? 2 hari lho. Bupatinya kemana?," katanya menyindir.

Sama, akun @ChokyZhu ikut mempertan­yakan peran kepala daerah dalam memantau wilayahnya. "Pemerintah setempat kerjanya apa? Gubernur terpilih juga putra samawa asli. Pak bupati dan ketua dan anggota DPRD Sumbawa kemana dan dimana. Justru mereka sebagai wakil rakyat harus tau apa tangisan warganya. Bukan hanya mengumbar janji saja," kecam dia.

Pandangan yang sama diungkapkan akun @ alawal69756232. Dia mempertanyakan peja­bat daerah yang lalai sampai korban gempa kelaparan. "Gubernur, wali kota, bupati pada kemana? Baru tau kalau di Sumbawa itu gak ada pejabat daerahnya pada migrasi ke Jakarta ya atau pada sibuk ngopi itu pejabat," sindir dia.

Sedangkan Andi Arief melalui @AndiArief_ mengatakan, penanganan gempa Lombok mer­upakan ujian terberat yang tidak pernah dia­lami sebelumnya. Termasuk selama 10 tahun kepemimpinan Tuan Guru Bajang (TGB).

"Mudah-mudahan tidak disepelekan dan jangan menganggap ada jalan pintas dan cepat menyelesaikan ini semua," tulis Andi Arief.  ***

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

AKPI Perkuat Profesionalisme dan Integritas Profesi

Senin, 13 April 2026 | 19:51

KNPI: Pemuda Harus Jadi Penyejuk di Tengah Isu Pemakzulan

Senin, 13 April 2026 | 19:50

14 Kajati Diganti, Termasuk Sumut dan Jatim

Senin, 13 April 2026 | 19:31

Cara Buat SKCK Online lewat SuperApps Presisi Polri, Mudah dan Praktis!

Senin, 13 April 2026 | 19:17

Bersiap Long Weekend, Ini Daftar 10 Tanggal Merah di Bulan Mei 2026

Senin, 13 April 2026 | 19:16

Viral Dokumen Kerja Sama Udara RI-AS, Okta Kumala: Kedaulatan Negara Prioritas

Senin, 13 April 2026 | 19:14

Daftar Hari Libur Nasional Mei 2026, Ada 3 Long Weekend

Senin, 13 April 2026 | 19:07

Ajudan Gubernur Riau Terima Fee Proyek Rp1,4 Miliar

Senin, 13 April 2026 | 19:02

4 Penyakit yang Harus Diwaspadai saaat Musim Pancaroba

Senin, 13 April 2026 | 18:57

Ongen Sentil Pengkritik Prabowo: Jangan Sok Paling ‘98’

Senin, 13 April 2026 | 18:52

Selengkapnya