Turki kemarin memulai pesta demokrasi untuk menentukan nasib masa depan negara mereka.
Diberitakan Anadolu AgenÂcy, kemarin, Muharrem Ince, capres Partai Rakyat RepubÂlik (CHP), memberi suara di Provinsi Yalova. Dia memakai jas cokelat dan dasi saat datang ke TPS.
Sementara itu, Meral Aksener yang merupakan capres Partai Iyi mencoblos di Istanbul. MeÂmakai jas merah, perempuan yang dijuluki 'serigala betina' itu tampak tersenyum ketika memasukkan kertas suara.
Tempat pemungutan suara dibuka dari pukul 08.00 pagi waktu Turki atau pukul 13.00 WIB dan akan ditutup pada 05.00 sore waktu Turki atau pukul 22.00 WIB. Ada sekitar 56 juta lebih pemilih yang teregistrasi yang akan memberikan suaranya di 180 ribu lebih bilik suara.
Pilpres kali ini ada enam kanÂdidat, termasuk petahana Recep Tayyip Erdogan yang sudah berkuasa di Turki selama 15 tahun. Sedangkan, 5 nama lain yaitu Muharrem Ince (54), Meral Aksener (61), Selahattin DemirÂtas (45), Temel Karamollaoglu (77) dan Dogu Perincek (76).
Total ada 59,39 juta pemilih yang terdaftar dalam pemilu tahun ini. Jumlah itu termasuk 3,047 juta pemilih di luar negeri. Sebanyak 180.065 kotak suara telah disebar ke 81 provinsi di Turki. Sedangkan total 3.160 kotak suara disediakan di sekitar 123 misi diplomatik Turki di sebanyak 51 negara.
Harapkan Perubahan Di pilpres ini, banyak warga Turki yang mengharapkan peÂrubahan. Salah satunya Eril Onderoglu. Dia ditahan karena ikut aksi kudeta pada pertengaÂhan Juli 2016.
"Selama lebih dari satu dekaÂde, kami berharap Turki bisa menjadi anggota keluarga Eropa. Tapi kemudian saya mendapati diri saya mendekam di balik jeÂruji," ujar Onderoglu.
Kalimat itu meluncur dari mulut Onderoglu, usai menjalani tahanan selama 10 hari pasca kudeta yang gagal pada pertenÂgahan Juli 2016.
"Ketika istri dan anak laki-laki saya datang mengunjungiku, aku harus berbicara dengan mereka melalui kaca. Saat itulah saya menyadari betapa ketidakadilan telah dilakukan terhadap saya," imbuhnya.
Onderoglu adalah satu dari 150 wartawan yang dipenjarakan rezim Recep Tayyip Erdogan. Mereka umumnya dikenai tuduÂhan dengan "propaganda terorÂisme" atau "menghina presiden".
Tak cuma memenjarakan para wartawannya, 155 media pun ditutup rezim Erdogan. Akibatnya, sekitar 2.500 wartawan mengangÂgur. Selain media massa, rezim Erdogan juga mengontrol media sosial. Lebih dari 100 ribu laman media sosial diblokir pemerintah.
Bintang sepak bola Turki, Hakan Sukur menjadi salah satu korbannya. Sukur mendapat sanksi dari pengadilan, karena me-retweet informasi seputar berita korupsi, bisnis minyak dan senjata Turki dengan ISIS.
Sikap keras rezim Erdogan terhadap kebebaran pers itu menuai kritik tajam dari seÂjumlah koleganya di Eropa, termasuk Amerika Serikat. Toh, Erdogan bergeming.
"Tidak ada perbedaan antara seorang teroris yang memegang senjata atau bom dan mereka yang menggunakan pena dan posisi mereka untuk memenuhi tujuan mereka," katanya membela diri.
Terhadap para tokoh oposisi, Erdogan juga bersikap keras. Tak cuma di dalam negeri, merÂeka yang tinggal di sejumlah negara ikut terkena imbas kebiÂjakan represifnya. Pada DesemÂber 2017 Associated Press meÂlaporkan bahwa perwakilan Interpol telah memeriksa 40.000 permintaan ekstradisi. Beberapa di antaranya dari Turki, yang keÂmungkinan besar adalah korban pertikaian politik.
Di luar isu kebebasan pers dan kebebasan berpendapat, sejumÂlah tokoh oposisi juga menyÂerang dan mengkritisi sejumlah kebijakan Erdogan.
Temel Karamollaoglu, pemimpin partai kecil, Partai FeÂlicity, menyebut Erdogan telah mengkhianati agamanya denÂgan membiarkan korupsi dan ketidakadilan menyerang pemerÂintahannya. ***