Dubes RI untuk Korea Selatan Umar Hadi saat buka bersama ratusan WNI di Kota Gimhae/KBRI Seoul
KBRI Seoul terus berupaya meningkatkan kinerja dalam memberikan pelayanan dan perlindungan terhadap semua WNI yang bermukim di Korea Selatan.
Semua serba mudah dan dipermudah. Tak terkecuali dalam pengurusan paspor. "Membuat paspor itu sama di seluruh dunia. Di Korea bayarnya menggunakan Won, yaitu 30 ribu Won. Saya berani memberikan garansi, tidak akan ada pungli di KBRI. Sampaikan kalau ada, akan saya pecat petugasnya," tegas Dubes RI untuk Korea Selatan Umar Hadi di hadapan tak kurang dari 500 WNI yang berkumpul di Masjid Al Barokah di Kota Gimhae, yang merupakan salah satu kantong Pekerja Migran Indonesia (PMI) terbesar di Korea Selatan, saat melakukan safari ramadhan pada Sabtu (26/5).
Sebagai minoritas, tentunya membuat pemeluk agama Islam di Negeri Ginseng ini menjadikan Ramadhan sebagai waktu yang tepat untuk berkumpul. Entah untuk berbuka puasa bersama, ataupun mengkaji agama bersama-sama.
Begitu juga yang dilakukan WNI di Korea Selatan yang sebagian besar merupakan pekerja migran. Momen ini juga yang dimanfaatkan Dubes RI Seoul untuk menyambangi mereka guna bersilaturahmi serta mendengarkan berbagai curhatan mereka.
"Silakan curhat ke KBRI apapun masalahnya. Urusan apa saja akan dicarikan solusinya. Pintu KBRI selalu terbuka. Kalaupun jauh dari tempat tinggal saat ini, hubungi kami melalui telpon, email maupun media sosial. Semua WNI miliki hak yang sama. KBRI tidak akan membeda-bedakan dalam hal pelayanan dan perlindungan," janji Dubes Umar.
Dalam kesempatan tersebut Dubes Umar juga berpesan agar seluruh WNI menjaga kesehatan dengan baik dan terus memupuk silaturahmi sesama WNI, serta saling menghargai dan menjaga toleransi.
Satu hari sebelumnya (Jumat, 25/5), masih dalam upaya memaksimalkan perlindungan WNI, dubes super enerjik ini juga mengadakan pertemuan dengan para agen Pekerja Migran Indonesia (PMI), terutama yang bekerja di sektor perikanan.
Dalam kesempatan tersebut, Dubes Umar meminta para agen untuk memastikan kesehatan seluruh PMI.
"Jika para pekerja tersebut sehat dan selamat selama bekerja, maka semua urusan dan pencapaian target pekerjaan akan juga menjadi mudah," terangnya.
Masih dalam kaitannya dengan paspor, Dubes Umar juga mengingatkan para agen untuk memastikan majikan tidak menahan paspor dan membantu PMI sekiranya ada di antara mereka yang melaporkan masalah yang menimpa di tempat kerja atau jika ada persoalan dengan majikannya.
Menurut catatan KBRI, PMI yang dikirim ke Korea melalui skema Government to Government (G to G) sektor perikanan banyak dipekerjakan pada budidaya perikanan seperti tambak, industri pengolahan ikan atau pada kapal penangkap ikan dengan berat di bawah 20 ton yang beroperasi di perairan Korsel. Namun tak sedikit juga PMI yang menjadi Anak Buah Kapal (ABK) di kapal dengan berat di atas 20 ton.
Kapal dengan berat ini wilayah operasinya hingga di luar perairan Korea. Masalah kesehatan kerap menimpa para ABK tersebut.
Selama tahun 2017, total sebanyak 26 PMI meninggal dunia. Sebagian besar karena masalah kesehatan. Terutama yang menimpa para PMI yang bekerja di sektor ini yang tercatat mencapai 4.632 orang.
Kegiatan safari Ramadhan dan pertemuan dengan agen PMI di Busan dan sekitarnya tersebut merupakan bagian dari Promosi Terpadu KBRI Seoul yang menitikberatkan pada upaya memperkenalkan berbagai potensi ekonomi, budaya dan pariwisata serta pembinaan dan perlindungan WNI di Provinsi Busan dan sekitarnya.
Berdasarkan data pemeriksaan kesehatan yang dilakukan KBRI terhadap ratusan PMI sebulan sebelumnya ditemukan banyak dari mereka mengalami berbagai masalah kesehatan seperti tekanan darah dan gula darah tinggi. Tak sedikit juga dari PMI yang mengalami stres.
Secara umum kondisi lingkungan tempat tinggal dan tempat kerja, serta kondisi geografi berpengaruh terhadap tingkat stres tersebut.
[wid]