Berita

Puan Maharani/Net

CATATAN TENGAH

Puan, Diabaikan, Diremehkan Dan Distigmakan

KAMIS, 24 MEI 2018 | 17:46 WIB | OLEH: DEREK MANANGKA

TULISAN saya pekan ini yang memuat gambar Puan dan tiga putra-putri, anak bekas Presiden pasca Reformasi, mendapatkan tanggapan yang berbeda-beda.

Yang saya catat, para penanggap: pengamat, politisi atau intelektul sekalipun, tidak semua melihat foto yang dipublikasikan tersebut memiliki 'nilai berita' yang cukup tinggi maupun menarik.

Kalau boleh berkata apa adanya, di mata saya, para penanggap rata-rata gagal memahami. Foto Puan dkk tersebut, memiliki makna baru.


Secara politik, maknanya cukup dalam. Yaitu hadirnya sebuah elemen rekonsiliasi, di tengah hiruk pikuk perseteruan elit bangsa.

Sampai-sampai saya membatin: sudah begini parahkah kondisi psikologis masyarakat bangsaku?

Dimana kalau yang diangkat menjadi 'berita' sesuatu yang menampilkan elemen persahabatan dan persaudaran, justu dianggap tak menarik dan tak relevan?

Hal positif, justru dianggap negatif. Atau sebaliknya.
Cara berpikir kita mulai terbalik-balik.
Negative thinking, itulah budaya baru bangsaku.

Yang relevan, menarik dan top adalah kisah, foto, video yang menampilkan persinggungan dan perdebatan keras sebuah perseteruan.

Atau kalau ada sebuah tumpukan barang berharga yang sedang 'terbakar', tapi apinya terlalu lamban memusnahkan barang-barang tersebut, sebaiknya disirami bensin. Supaya -bila perlu bukan hanya tumpukan itu yang lekas terbakar, tapi yang ada di sekelilingnya.

Yah, perspektif saya berbeda. Bagi saya, sekalipun pertemuan empat anak nekas presiden pasca reformasi itu mungkin hanya sebuah kebetulan, tapi pertemuan itu patut diapresiasi.

Walaupun pertemuan itu tak lengkap -dalam arti tidak dihadiri oleh anak-anak Presiden Soeharto, tak masalah.

Makanya saya beri judul "anak-anak bekas Presiden pasca reformasi'.

Pertemuan itu sifatnya masih kecil. Tapi sudah merupakan awal yang baik. Menuju ke sebuah pertemuan akbar. Sebuah pertemuan dalam pengertian rekonsiliasi (nasional).

Ulasan saya memang tidak menyoroti elemen rekonsiliasi yang terkandung dalam pertemuan tersebut.

Saya memang lebih condong fokus ke Puan Maharani. Itu disengaja. Karena kehadiran Puan, putri tunggal Megawati dan Taufiq Kiemas, almarhum, cukup penting.

Sebab Puan memiliki "stigma" Megawati, bekas Presiden yang tidak mau berrekonsiliasi dengan lawan politiknya. Terutama dengan SBY, mantan anak buah yang mengalahkan Mega dalam dua kali Pilpres.

Selain itu, terlepas dari "stigma" tersebut, Puan yang menjabat Menteri Koordinator dalam Kabinet Presiden Joko Widodo, secara protokoler -dalam pertemuan tersebut, melepas embel-embel formal yang melekat dalam dirinya.

Sebagai menteri koordinator, porto folio Puan, merupakan sosok yang memiliki status formal sebagai menteri senior.

Dari sorot matanya di dalam foto tersebut, Puan saya anggap -secara sadar menerima skenario yang dibuat ICMI agar dia 'membumi', menyatu sebagai rakyat biasa dengan Yeni Wahid dkk, yang sehari-harinya juga berpenampilan membumi.

Beberapa menit setelah tulisan itu diposting, Prof. Jimly, sang Ketua Umum ICMI mengirimi saya sejumlah foto yang berbeda ‘angel’ dari acara yang sama.

"Cukup sebut saja, acara itu dalam rangka Bukber ICMI yang juga dihadiri oleh Pak BJ Habibie," tulis Prof. Jimly.

Seolah berharap, foto kirimannya itu masih bermanfaat bila dipublikasikan.

Juga kehadiran BJ Habibie sebagai Presiden Kedua RI dan Ketua Umum pertama ICMI, patut dianggap sebagai saksi penting atas bertemunya para anak beks Presiden pasca reformasi.

Jadi reaksi Prof. Jimly semakin memperkuat penilaian saya bahwa foto dan pertemuan itu merupakan peristiwa silahturahmi yang sangat berharga.

Berharga karena selama 20 tahun usia reformasi, pertemuan serupa, tak pernah terjadi.

Dan seorang Puan, yang selama ini dikesankan 'anak mami' Megawati, tentu saja keputusannya bertemu dengan Agus Harimurti Yudhoyono, putra SBY, tidak bisa dianggap hal sepele.

Saya tidak tau apakah seusai pertemuan tersebut, Mbak Mega sebagai bundanya Puan, merasa nyaman atau bagaimana?

Sebab 'perseteruan' Mega-SBY yang dimulai tahun 2004, hingga saat ini, belum terlihat tanda-tanda bakal meredah.

Bahkan memasuki tahun politik 2018 dan 2019, signyal perseteruan mereka bakal muncul kembali dan bereskalasi, sepertinya tak terhindarkan.

Lalu layakkah bangsa Indonesia tersandera atau disandera oleh perseteruan ala anak-anak ini ?

Ini sebetulnya yang menjadi poin penting dan latar belakang mengapa saya memposting foto empat anak bekas Presiden.

Bahwasanya yang muncul sebagai kesan lebih kuat, sepertinya saya melakukan pembelaan terhadap Puan, hal itu, tak masalah.

Karena membela Puan, juga bukan sebuah dosa atau pengkhianatan terhadap bangsa.

Jika selama ini, publik mungkin lebih banyak membela Ilham Habibie, Yeni Wadid dan Agus Harimurti -sebagai anak-anak bekas Presiden yang memiliki keistimwaan, apanya yang salah, kalau Puan pun diperlakukan setara?

Tokh kita tidak mungkin ikut-ikutan atau terus mengabaikan, meremehkan apalagi menstigmakan Puan Maharani, sebagai anak bangsa.

Mari kita pisahkan persoalan dan alasan yang bersifat subyektif dan obyektif.[***]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Prabowo Apresiasi Rahmat Erwin Usai Raih Emas dan Pecahkan Rekor Dunia

Minggu, 27 September 2026 | 12:11

Partai Koalisi Bela Prabowo Mati-matian tapi Diam Saat Gibran Dikritik

Minggu, 27 September 2026 | 12:05

Daftar 10 Wilayah Terpanas 27 September 2026, Suhu Capai 37,4 Derajat

Minggu, 27 September 2026 | 11:57

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Spesifikasi Samsung Galaxy A08 Resmi Meluncur di Indonesia, Baterai 6.000 mAh

Minggu, 27 September 2026 | 11:37

Indonesia Calonkan Diri untuk Kursi Tidak Tetap DK PBB Periode 2029-2030

Minggu, 27 September 2026 | 11:04

Tak Ada Satupun Partai Koalisi Pasang Badan saat Gibran Hadapi Gugatan Ijazah

Minggu, 27 September 2026 | 10:31

KPK Amankan Perhiasan Diduga Emas Saat Geledah Kanwil BPN Jatim

Minggu, 27 September 2026 | 10:17

Perang Abad 21 Sudah Dimulai, tapi Mukan di Medan Tempur

Minggu, 27 September 2026 | 10:05

Sugiono: RI Percaya PBB, Tapi Multilateralisme Harus Lebih Representatif dan Gesit

Minggu, 27 September 2026 | 09:27

Selengkapnya