Jelang Asian Games 2018, pemerintah masih dihadapi persoalan transportasi. Ibarat obat, ini masih diracik. Kondisi Jakarta yang macet mengharuskan semua pihak terkait putar otak demi mensukseskan perhelatan akbar tersebut.
Kemacetan memang menjadi fokus utama. Pasalnya, dalam turnamen uji coba yang digelar 8-15 Februari lalu, target perjalanan selama 30 menit dari wisma atlet di Kemayoran menuju venue pertandingan di Gelora Bung Karno, Senayan, belum dipenuhi. Kemacetan Ibukota menjadi penyebabnya.
Ketua Dewan Pembina Inasgoc Jusuf Kalla menyatakan, target belum terpenuhi lantaran Pemprov DKI Jakarta dan kepolisian belum memberikan jalur khusus bagi kendaraan peserta Asian Games. "Kami sudah sepakat memberikan satu jalur sepanjang jalan itu hanya untuk kendaraan Asian Games," ujarnya di Kantor Wapres, kemarin. Dia berharap jalur ini bisa menyingkat waktu perjalanan atlet.
Selain jalur khusus, panitia juga menyiapkan alternatif lain: meliburkan sekolah dan mengatur jam kantor. Sekolah yang berada di jalur yang dilewati atlet rencananya diliburkan. Inasgoc bahkan berencana memberikan tiket gratis menonton pertandingan kepada siswa sekolah tersebut.
Namun, menurut JK, opsi ini belum tentu diambil. "Sekolah jam tujuh pagi, sementara atlet mainnya jam sembilan pagi. Tak akan tabrakan juga sebenarnya," ucapnya. Yang terpenting, kata dia, harus ada jalur khusus bagi kendaraan peserta Asian Games.
Sebelumnya, Ketua Inasgoc Erick Thohir menuturkan jalur khusus peserta itu berupa bahu jalan dan jalur Transjakarta. Namun, kebijakan itu belum menjamin kelancaran mobilitas atlet. "Bahkan pilihan meliburkan sekolah serta mengatur jam kantor juga menjadi pilihan," tuturnya.
Masalah transportasi yang terhambat ini sebelumnya dikeluhkan beberapa negara peserta test event Asian Games 2018. Perjalanan yang panjang membuat mereka kelelahan. Beberapa dari mereka harus mengurangi jam istirahat karena harus berangkat lebih cepat dari wisma.
Sementara, Pemprov DKI belum menemukan titik temu soal rencana meliburkan siswa sekolah dan karyawan yang berkantor di kawasan Senayan dan sekitarnya. Sebelumnya, Wagub Sandiaga Uno mengatakan, akan meliburkan sekolah. Bahkan, Pemprov juga akan mengatur jam kantor di kawasan Senayan dan sekitarnya. Tujuannya mencegah kemacetan selama pelaksanaan hajatan tersebut. Sebab, Dewan Olimpiade Asia (OCA) memasang standar waktu tempuh dari dari wisma atlet sampai ke venue maksimal 34 menit. Tapi menilik hasil beberapa simulasi, waktu tempuh dari wisma atlet di Kemayoran ke kawasan Gelora Bung Karno (GBK) masih di kisaran 50 menit.
Sementara Gubernus Anies Baswedan membantah kebijakan libur sekolah. "Nggak, liburan belum ada keputusan apa-apa," kata Anies (6/4). Nah, kemarin, Rakyat Merdeka mencoba mengkonfirmasi kembali. Anies yang ditemui usai menghadiri Rapat Paripurna DPRD DKI hanya geleng-geleng kepala. Dia menolak berkomentar.
Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio tidak setuju dengan kebijakan meliburkan sekolah dan pengurangan jam kantor. Selain merugikan siswa, perusahaan juga bisa bangkrut. "Akan menyulitkan anak didik mengejar kurikulum. Anak-anak kita sudah dididik dengan jadwal yang padat. Perusahaan kalau libur juga bisa bangkrut," kata Agus.
Untuk mengejar standar waktu tempuh yang ditetapkan OCA, Agus menawarkan solusi lain. "Buka tutup tol saja, pake voojrader lewat tol. Tol ditutup untuk umum selama dilewati Atlet," saran Agus.
Kemendikbud juga belum resmi memberikan pertimbangan terhadap wacana libur sekolah. Anggota Komisi X DPR Muslim mengaku belum melakukan pembahasan libur selama Asian Games. Namun, dia berharap apapun keputusan yang diambil bisa diterima semua pihak. "Sah-sah saja jika libur untuk menyemangati Asian Games," ujar Muslim, kemarin.
Dia bilang, Indonesia bisa belajar dari Malaysia saat penyelenggaraan SEA Games tahun lalu. Pemerintah setempat sebetulnya juga menerapkan libur. Namun tidak lama dan bukan karena alasan mencegah kemacetan. Libur bersama dadakan yang hanya satu hari yakni 4 September 2017 merupakan "kado nasional" setelah atletnya berhasil melampaui target perolehan medali emas. ***