Berita

Foto: RMOL Jabar

Nusantara

Situs Sejarah Jabar Harus Berkelas Internasional

SENIN, 07 MEI 2018 | 21:12 WIB | LAPORAN:

Situs peninggalan sejarah di Jawa Barat berkelas internasional. Kondisi ini harus berbanding lurus dengan pengelolaan terhadap situs-situs purbakala tersebut.

Begitu dikatakan calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat berkunjung ke situs sejarah Ciung Wanara, di Karangkamulyan, Kabupaten Ciamis, Senin (7/5).

Mantan Bupati Purwakarta ini juga turut mengikuti kegiatan 'Ngikis', yakni sebuah prosesi kearifan lokal-religi di kawasan tersebut jelang memasuki Bulan Suci Ramadhan.


"Situs ini (Ciung Wanara) misalnya, ini berisi pesan-pesan peradaban. Karena itu, basis pengelolaannya harus berbasis peradaban juga. Jawa Barat itu memiliki peradaban bambu, tidak mengenal peradaban besi. Maka bangunan di sekitar daerah ini harus menggunakan bambu," kata Kang Dedi.

Menurut dia, upaya pengembalian basis peradaban tersebut memiliki nilai penting. Sebab, wisatawan lebih menyukai tempat wisata bernuansa kearifan lokal karena jenis wisata lain sudah ada di negaranya.

Yogyakarta dan Bali misalnya. Kata Dedi, dia mampu berdiri di atas kearifan budayanya masing-masing dalam pengembangan pariwisata. Karena itu, Jawa Barat harus bertumpu pada pijakan yang sama jika ingin meraih orientasi sebagai daerah tujuan wisata.

"Jangan kalah oleh Yogyakarta dan Bali. Jangan sampai nanti Jawa Barat belajar penataan lingkungan ke sana. Kita ini juga memiliki peradaban yang kuat, banyak potensi kultur, banyak daya tarik pilihan," ungkapnya.

Butuh Political Will

Salah seorang tokoh masyarakat Karangkamulyan, Abah Ali mengatakan pihaknya terus berupaya melestarikan kebudayaan setempat. Dia berharap pemimpin Jawa Barat ke depan memiliki karakter kuat dalam upaya pelestarian tersebut.

Sejarah dan kebudayaan kata tokoh sepuh itu, merupakan modal utama penopang kehidupan masyarakat di sebuah daerah. Karena itu, dua hal tersebut harus menjadi perhatian khusus seorang pemimpin.

"Semoga nanti ada seorang pemimpin yang betul-betul paham budaya dan sejarah. Sehingga mampu mengangkat kembali pentingnya kita memelihara situs sejarah dan budaya. Jangan sampai pemimpin itu hanya ngaku-ngaku tahu, padahal tidak tahu," pungkasnya. [sam]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

UPDATE

JK Menjelma Imam Besar Bagi Kelompok di Luar Kekuasaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:17

KPK Benarkan Panggil Pengusaha Rokok Haji Her, Tapi Mangkir dari Pemeriksaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:02

Komisi X DPR Tekankan Kesejahteraan Guru dalam Revisi RUU Sisdiknas

Rabu, 08 April 2026 | 10:00

Iran Sebut Trump Setuju Penuhi 10 Syarat Gencatan Senjata

Rabu, 08 April 2026 | 09:56

IHSG Balik ke Level 7.000-an, Rupiah Menguat Usai Tersungkur ke Rekor Terendah

Rabu, 08 April 2026 | 09:54

Akselerasi Penyehatan, Adhi Karya Lakukan "Bersih-Bersih" Neraca

Rabu, 08 April 2026 | 09:40

Manuver JK Tak Perlu Dikhawatirkan

Rabu, 08 April 2026 | 09:33

Imparsial: Sudah Mendesak Dilakukan Revisi UU Peradilan Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:32

Berkas Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Dilimpahkan ke Oditurat Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:21

KPK Soroti Dugaan Aliran Fasilitas ke Faisal Assegaf

Rabu, 08 April 2026 | 09:04

Selengkapnya