Berita

Foto: RMOL Jabar

Nusantara

PILKADA JABAR 2018

Cetak Biru Penyelesaian Masalah Sungai Citarum Versi Dedi Mulyadi

KAMIS, 03 MEI 2018 | 18:38 WIB | LAPORAN:

Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memiliki cetak biru penyelesaian masalah di Sungai Citarum.

Masalah yang sejak lama dikeluhkan warga di sekitar bantaran sungai terpanjang di Jawa Barat itu terdiri dari dua hal pokok.

Dua masalah pokok ini disampaikan oleh Engkin (50), salah seorang warga yang tinggal di sekitar Sungai Citarum.


Tepatnya, di Desa Dayeuh Kolot, Kecamatan Dayeuh Kolot, Kabupaten Bandung, Kamis (3/5) saat bertemu dengan Dedi Mulyadi.

Engkin mengatakan banjir kerap melanda daerah tempat dia tinggal terutama saat musim hujan. Banjir akibat dari pendangkalan Sungai Citarum.

Dia mengindentifikasi banjir dan pendangkalan yang disebabkan oleh sampah menjadi dua masalah utama yang harus segera diselesaikan.

"Parahnya bisa sampai atap rumah kami kalau banjir. Saya berharap Kang Dedi bisa memberikan solusi atas banjir ini. Soalnya rutin, setiap musim hujan pasti kena. Aliran sungainya juga sudah dangkal, harus dikeruk," katanya seperti diberitakan RMOL Jabar.

Keluhan Engkin ditanggapi langsung oleh Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Kata dia, solusi penyelesaian sampah di Sungai Citarum melalui sistem pemberdayaan lingkungan.

Secara teknis, Pemerintah Provinsi Jawa Barat dapat membentuk tim khusus yang berasal dari petugas linmas desa dan petugas kebersihan.

Tim yang beranggotakan unsur gabungan ini diserahi tugas per sekian kilometer dan bertanggung jawab terhadap pembersihan sampah.

"Harus ada tim pembersih yang setiap hari berkonsentrasi, kita bisa sediakan pos khusus bahkan rumah dinas untuk petugas. Praktiknya, bisa linmas desa setempat bergabung dengan petugas kebersihan," jelas Dedi.

Proyeksi jangka panjang berupa penghijauan kawasan bantaran sungai bakal dilaksanakan pria yang lekat dengan iket Sunda itu. Jenis pohon yang ditanam pun harus memiliki kriteria tertentu. Diantaranya, berakar keras dan berbatang keras agar mampu menahan pergerakan tanah.

"Kalau sudah tumbuh tidak boleh ditebang. Apalagi dijadikan bahan bangunan, bahaya itu," jelas Dedi.

Selain wilayah bantaran sungai, daerah di dalam kawasan pemukiman pun turut menjadi perhatian Dedi Mulyadi.

Santri Rais Am PBNU Kiai Ma’ruf Amin itu mengungkapkan, drainase yang berada di tengah pemukiman harus diperlebar. Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan menjadi variabel penunjang yang tidak kalah penting.

"Ini butuh kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan. Drainase kita perlebar itu untuk aliran air, bukan untuk tempat membuang sampah," katanya.

Konsep Rumah Panggung

Selain konsepsi di atas, Dedi Mulyadi juga memiliki gagasan tentang desain perkampungan untuk daerah bantaran sungai.

Menurutnya, perkampungan tersebut harus berisi rumah-rumah dengan desain arsitektur ‘julang ngapak’. Jenis rumahnya pun harus rumah panggung yang memiliki ketinggian memadai dari atas tanah.

Jenis rumah seperti ini, menurut Kang Dedi, memiliki nilai manfaat strategis. Selain tahan gempa, rumah panggung juga tidak akan terkena dampak kerusakan saat banjir melanda.

Desain arsitektur berkarakter ‘julang ngapak’ juga telah sukses bertahan selama ratusan tahun di Kampung Naga, Tasikmalaya dan Kampung Kanekes, Banten.

"Rumahnya harus ditinggikan dan terletak agak jauh dari bantaran sungai. Arsitekturnya julang ngapak, rumah panggung dan pakai ijuk. Kalau banjir datang, tidak akan sampai merendam rumah," katanya.

Rumah milik pasangan Hardiyono (56) dan Entin (52) mendapat kehormatan untuk menjadi percontohan pembangunan rumah panggung.

Berdasarkan pantauan, rumah tersebut sudah hampir roboh karena habis dimakan rayap. Tiang rumah tersebut pun terbuat dari bambu sehingga berada dalam kondisi beresiko.

Dedi Mulyadi bersama warga sekitar bergotong royong membongkar rumah yang dihuni oleh 7 orang tersebut. Rumah yang berdiri di bantaran Sungai Citarum itu akan segera disulap menjadi rumah panggung tahan banjir.

"Terima Kasih kepada warga dan Kang Dedi, sekali lagi terima kasih," kata Entin sambil memindahkan peralatan dapur. [sam]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

UPDATE

JK Menjelma Imam Besar Bagi Kelompok di Luar Kekuasaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:17

KPK Benarkan Panggil Pengusaha Rokok Haji Her, Tapi Mangkir dari Pemeriksaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:02

Komisi X DPR Tekankan Kesejahteraan Guru dalam Revisi RUU Sisdiknas

Rabu, 08 April 2026 | 10:00

Iran Sebut Trump Setuju Penuhi 10 Syarat Gencatan Senjata

Rabu, 08 April 2026 | 09:56

IHSG Balik ke Level 7.000-an, Rupiah Menguat Usai Tersungkur ke Rekor Terendah

Rabu, 08 April 2026 | 09:54

Akselerasi Penyehatan, Adhi Karya Lakukan "Bersih-Bersih" Neraca

Rabu, 08 April 2026 | 09:40

Manuver JK Tak Perlu Dikhawatirkan

Rabu, 08 April 2026 | 09:33

Imparsial: Sudah Mendesak Dilakukan Revisi UU Peradilan Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:32

Berkas Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Dilimpahkan ke Oditurat Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:21

KPK Soroti Dugaan Aliran Fasilitas ke Faisal Assegaf

Rabu, 08 April 2026 | 09:04

Selengkapnya