Berita

Ilustrasi/Net

Nusantara

Pemerintahan Jokowi Tak Mampu Berantas Hoax

SENIN, 09 APRIL 2018 | 03:18 WIB | LAPORAN: SORAYA NOVIKA

Ada sejumlah alasan informasi bohong atau hoax tidak akan mampu diselesaikan oleh pemerintah saat ini.

Direktur Eksekutif Indo Survey and Strategy (ISS), Hendrasmo memaparkan, hambatan utama dalam pembasmian hoax berasal dari tingginya angka masyarakat yang masih berpendidikan rendah dan tak melek informasi.

Media informasi yang juga begitu masifnya tanpa kontrol terus tumbuh juga menjadi salah satu hambatan.


"Hoax dalam penelitian Kominfo itu diterima oleh 40 persen populasi kita setiap harinya, sedangkan masyarakat lulusan SD dan tidak lulus SD itu sendiri mencapai 60 persen, diperparah lagi dengan pertumbuhan media yang mencapai 40.000 lebih itu juga kan," ujar Hendrasmo dalam sebuah diskusi di Jakarta, Minggu (8/4).

Hal tersebut kemudian berdampak pada daya serap masyarakat terhadap informasi, di mana ketika informasi dengan begitu mudahnya dapat diakses secara cepat, masyarakat tidak lagi peduli pada kebenaran isi informasi tersebut.

"Kita memasuki era teknologi informasi yang begitu cepat, banjir informasi, sehingga orang tidak bisa membedakan yang false and true itu yang mana, dengan demikian, orang sekarang lebih menerima atau meyakini value and believe (kepercayaan) ketimbang data-data objektif," ujar Hendrasmo.

Sehingga, hal inilah yang kemudian menjadi kendala utama bagi pemerintah dalam pemberantas hoax itu sendiri.

"Tapi memang ini realitas yang sangat susah, government tidak bisa sepenuhnya mengkonter seluruhnya masalah ini, sebab mereka tentu akan kerepotan dalam melakukan konfirmasi dan verifikasi terhadap hoax yang terlanjur tersebar," demikian Hendrasmo. [sam]

Populer

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Relawan Jokowi: Rismon Sianipar Pengecut!

Jumat, 13 Maret 2026 | 01:05

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

UPDATE

Prediksi Mossad Gagal, Netanyahu Disebut Murka ke Direktur Intelijen

Senin, 23 Maret 2026 | 13:39

Kasus Andrie Yunus Bisa Diusut Timwas Intelijen DPR

Senin, 23 Maret 2026 | 13:23

Pengamat: Trump Inkonsisten Soal Selat Hormuz

Senin, 23 Maret 2026 | 13:09

Daftar Negara yang Terancam Bangkrut Akibat Perang Iran

Senin, 23 Maret 2026 | 12:53

Gebrakan Xiaomi SU7 2026: Ludes 15 Ribu Unit dalam 34 Menit, Daya Jelajah Tembus 900 Km!

Senin, 23 Maret 2026 | 12:37

H+2 Lebaran, Emas Antam Turun Rp50 Ribu

Senin, 23 Maret 2026 | 12:35

WFH Jangan Ganggu Kinerja Perusahaan, DPR Minta Pemerintah Hati-hati

Senin, 23 Maret 2026 | 12:31

124 Perusahaan Truk Kena Sanksi Saat Lebaran, Mayoritas Pelanggaran ODOL

Senin, 23 Maret 2026 | 12:08

Menhub Siapkan Strategi Khusus Amankan Arus Balik Lebaran 1447 H Lintas Sumatra-Jawa

Senin, 23 Maret 2026 | 11:27

DJP: Aktivasi Akun Coretax Tembus 16,6 Juta, Lapor SPT Tahunan Capai 8,7 Juta

Senin, 23 Maret 2026 | 11:03

Selengkapnya