Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Pertarungan Merangsang Hormon Politik

MINGGU, 25 FEBRUARI 2018 | 09:09 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

BANGSA Indonesia kembali menghadapi apa yang disebut sebagai pemilihan umum. Dalam suatu pemilihan umum, para calon masing-masing sibuk mempromosikan diri sebagai yang terbaik untuk dipilih dengan menghalalkan segala cara. terutama dengan mengobral janji-janji surga demi membius para pemilih agar memilih sang calon yang mengobral janji tanpa jaminan akan menepati janjinya.

Pada hakikatnya kampanye para calon yang mencalonkan diri pada pemilu merupakan suatu upaya merangsang suatu jenis hormon yang disebut sebagai phenethylamine yang hadir pada setiap insan manusia termasuk mereka yang secara konstitusional memiliki hak untuk memilih.

Hormon


Hormon phenethylamine merupakan sebuah jenis senyawa organik monoaminealkaloid. Jejak senyawa organik ini tergolong amina bersifat  psikoaktif  dan berdampak stimulan.Fungsi phenethylamine sebagai  neuromodulator atau neurotransmitter dalam sistem saraf pusat  akibat sintesa asam amino fenilalanin oleh enzimatikdekarboksilasi  melalui suatu enzim aromatik amino acid dekarboksilase.

Bagi yang sampai di sini tidak mengerti apa maksudnya tidak perlu kuatir sebab saya sendiri sebenarnya juga tidak mengerti. Namun konon menurut para  endokronolog, selain kehadirannya pada mahluk hidup jenis mamalia, phenethylamine ditemukan pada beberapa organisme lain mau pun makanan, semisal cokelat, terutama akibat mikroba fermentasi.

Konon phenethylamine dipasarkan sebagai  suplemen makanan  untuk mempengaruhi  suasana emosional terkait manfaat terapeutik. Beragam senyawa berasal dari phenethylamine mencakup  aneka ragam fungsimulai dari empathogens, stimulan, psychedelics, anxiolytics, hipnotik, entactogens, anorektik, bronkodilator, dekongestan sampai antidepresan.

Asmara


Dari segenap terminologi serba keren menggetar sukmaberaroma ilmiah itu, secara awam bisa disimpulkan bahwa phenetylamine merupakan sebuah jenis hormon yang terkait secara langsung mau pun tidak langsung dengan emosi alias perasaan manusia. Salah satu jenis perasaan manusia terutama manusia dewasa adalah apa yang disebut sebagai asmara.

Berdasar berbagai kesimpulan simpang-siur itu kemudian saya sendiri merekayasa sebuah hipotesa yang siap dibantah mau pun tidak dibantah bahwa fungsi hormon phenethylamine  adalah sebagai pembius insan yang sedang dirundung asmara.

Saya sendiri merasa kurang jelas tentang hormon-asmara itu timbul sebagai akibat seorang insan manusia dirundung asmara atau hormon phenethylamine itu penyebab asmara. Terlepas dari kebingungan sebab-akibat itu saya yakin bahwa fungsi hormon asmara pada hakikatnya selaras dengan peribahasa cinta itu buta.

Hormon asmara memang mengacau-balaukan segenap indera manusia sehingga pada saat sedang dirundung asmara akibat hormon-asmara, sang pengidap asmara langsung bukan saja menjadi buta namun juga tuli dan gagal indera penyium bau. Maka  segenap daya indera seseorang yang sedang dirundung asmara terbius oleh hormon asmara sehingga tidak mampu lagi mengindera kenyataan secara benar.

Politik


Ternyata phenethylamine sebagai hormon yang mempengaruhi perasaan juga menyelinap hadir di kemelut kehidupan manusia yang disebut sebagai politik. Maka pada hakikatnya phenethylamine dapat pula disebut sebagai hormon politik. Di dalam Pemilu, hormon politik para pemilih harus siap dirangsang oleh para calon yang saling bertarung dalam memperebutkan suara pemilih melalui apa yang disebut sebagai kampanye. Maka dapat ditafsirkan bahwa pada hakikatnya kampanye pemilu merupakan suatu bentuk pertarungan merangsang hormon politik para pemilih demi mengacaubalaukan segenap indera mereka.

Segenap daya indera seseorang yang sedang terbius oleh hormon politik akan sangat mudah terjebak oleh kampanye dengan janji-janji surga sehingga secara membuta tuli percaya bahkan yakin atas janji-janji surga meski secara empiris sudah kerap terbukti pada lazimnya akan diingkari setelah sang calon telah terpilih untuk duduk di singgasana tahta kekuasaan.[***]


Penulis adalah Pembelajar Fenomena Janji-Janji Surga Kampanye Pemilu


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Steve Hanke Ungkit Lagi Keputusan IMF 1998, Klaim Rupiah Bisa Setara Dolar AS

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:12

Gibran Ingin Generasi Muda Jadi Perekat Persatuan Bangsa

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:06

Komut Pertamina Mochamad Iriawan Pastikan Kesiapan SAF dan Operasional B50 di Jawa Timur

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:57

Wall Street Berpesta! Dow Cetak Rekor

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:53

Nasib Nadiem Ditentukan di Sidang Vonis Hari Ini

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:42

Kekayaan AHY Naik Hampir Enam Kali Lipat, Kini Tembus Rp118,65 Miliar

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:29

STOXX 600 Menguat Tipis, Saham Teknologi dan Energi Topang Bursa Eropa

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:24

Jerman Tumbang, Paraguay Melaju ke Perempat Final Piala Dunia 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:14

Pimpin BEI 2026-2030, Jeffrey Hendrik Targetkan Pasar Modal Indonesia Tembus 10 Besar Dunia

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:02

Dana GCA Diklaim Bisa Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Selasa, 30 Juni 2026 | 06:48

Selengkapnya