Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Nenek Moyang Bangsa Madagaskar

SELASA, 30 JANUARI 2018 | 07:13 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

MENURUT Historia yang memperoleh anugerah MURI sebagai majalah sejarah pertama karya putera bangsa Indonesia, ilmuwan biologi molekuler Universitas Massey Selandia Baru, Murray Cox, menganalisa DNA mitokondria yang diturunkan lewat ibu dari 2.745 orang Indonesia berasal dari 12 kepulauan dengan 266 orang dari tiga suku Madagaskar: Mikea, Vezo, dan Andriana Merina.

Hasil analisa tersebut menyimpulkan bahwa sekitar 30 orang perempuan Indonesia menjadi pendiri koloni di Madagaskar 1.200 tahun silam. Penelitian DNA ini memperkuat penelitian-penelitian sebelumnya.

Secara arkeologis didukung dengan temuan perahu bercadik ganda, peralatan besi, alat musik gambang, dan makanan berbahan tanaman ubi jalar, pisang, dan talas.  


Bahasa
Bahasa penduduk Madagaskar berasal dari bahasa Ma’anyan yang digunakan di daerah lembah Sungai Barito di Kalimantan Tenggara, dilengkapi  tambahan dari bahasa Jawa, Melayu, atau Sansekerta.

Menurut Robert Dick-Read dalam Penjelajah Bahari, kemiripan tersebut dikemukakan misionaris Norwegia Otto Dahl pada 1929 setelah meneliti kamus Ma’anyan karya C. Den Homer (1889) dan karya Sidney H. Ray (1913). Dahl sendiri menyebut terdapat beberapa unsur dalam Malgache yang mengarah ke Celebes (Sulawesi), terutama suku Bajo dan Bugis sebagai para pelaut ulung.

"Nenek moyang dari suku-suku inilah yang kemungkinan besar adalah para pelaut Indonesia yang telah berhasil menjelajah lautan hingga ke Afrika," tulis Dick-Read.

Bahkan, menurut S. Tasrif dalam Pasang Surut Kerajaan Merina, "mereka kemungkinan campuran dari ras Sumatra, Jawa, Madura, Sulawesi, atau orang-orang Indonesia Timur. Di sana, mereka berbaur membangun kebudayaan Malagasi. Para pendatang itu kemudian dominan di Madagaskar, karena penduduk aslinya sangat sedikit. Di kemudian hari, datang pendatang baru dari Arab, Pakistan, India, dan orang-orang Prancis yang membawa buruh-buruh pribumi Afrika. Jadilah Madagaskar sebuah negeri multiras," demikian dikutip Tempo, 21 September 1991.

Sejarah
Ahli sejarah Afrika, Raymond Kent, dalam Early Kingdoms in Madagascar 1500-1700, menyimpulkan, "... pasti telah terjadi pergerakan manusia dalam jumlah besar yang datang secara sukarela dan bertahap dari Indonesia pada abad-abad permulaan milenium pertama. Sebuah pergerakan yang dalam istilah Malagasi kuno disebut lakato (pelaut sejati) karena mereka tidak berasal dari satu etnis tertentu."

Menurut Denys Lombard dalam Nusa Jawa, intelektual pertama yang membahas hubungan Nusantara dan Madagaskar adalah Moh. Nazif yang menulis disertasi De Val van het Rijk Merina pada 1928 di Sekolah Tinggi Hukum di Batavia. Adanya hubungan Indonesia dengan Madagaskar kemudian digunakan sebagai "politik kesatuan" oleh beberapa tokoh bangsa sejak 1920-an.

Pada peresmian Lembaga Pertahanan Nasional di Istana Negara, Jakarta, 20 Mei 1965, Sukarno, merujuk karya Nazif, mengemukakan: "...bangsa Indonesia itu adalah sebenarnya qua ras inter related dengan bangsa-bangsa yang mendiami Kepulauan Pasifik, Indocina, sampai Madagaskar."

Dalam beberapa kesempatan Sukarno kerap menyebut peran Indonesia dalam terbentuknya Madagaskar. Dalam sambutan Kongres Indonesia Muda pertama tahun 1930, dikutip R.E. Elson ke dalam The Idea of Indonesia, tokoh muda pergerakan Kuncoro Purbopranoto menyatakan, "Indonesia merupakan satu negeri, dengan satu bangsa, dari Madagaskar hingga Filipina, dengan satu sejarah, sejarah Sriwijaya dan Majapahit."

Tan Malaka
Dalam Madilog, Tan Malaka meyakini bahwa para pelaut Nusantara yang menjelajah hingga Madagaskar membuatnya memimpikan Republik Indonesia Raya sampai Madagaskar. "Tan Malaka dulu membayangkan wilayah Republik Indonesia Raya merdeka itu akan terbentang dari Pulau Madagaskar melintasi seluruh semenanjung Melayu, kepulauan Filipina, seluruh Hindia Belanda, termasuk Timtim sampai ke ujung Timur Papua," tulis Sultan Hamengku Buwono X dalam Merajut Kembali Keindonesiaan Kita.

Sementara Mohammad Yamin dalam buku  Proklamasi dan Konstitusi RI menulis "Di Pulau Madagaskar bangsa Indonesia mendirikan kerajaan Merina, yang diruntuhkan oleh tentara Prancis dalam tahun 1896, dan sampai kepada kerajaan ini tidaklah dikenal Konstitusi yang dituliskan." [***]

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kebudayaan


Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Bahlil Ungkap Defisit Minyak RI Hampir 1 Juta Barel per Hari

Selasa, 15 September 2026 | 10:24

Pemerintah Terus Perbaiki DTSEN agar Bansos Tepat Sasaran

Selasa, 15 September 2026 | 10:15

Jelang Sertijab Menteri Keuangan, Rupiah Melemah ke Rp17.674 per Dolar AS

Selasa, 15 September 2026 | 10:10

Pitra Romadoni Pilih Restoratif Justice soal Kasus ITE di Polres Bogor

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

Bahlil Buka Suara soal Antrean BBM Subsidi di Makassar

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

KPK Benarkan Presiden Direktur Summarecon Agung Turut Terjaring OTT

Selasa, 15 September 2026 | 10:02

IBC Mulai Produksi Baterai di Karawang, Kapasitas Awal 6,9 GWh

Selasa, 15 September 2026 | 09:57

Ruang Akademik Menuju Ekosistem Hak Asasi Manusia

Selasa, 15 September 2026 | 09:48

Turun Dua Hari Beruntun, Emas Antam Ambruk ke Rp2,5 Juta per Gram

Selasa, 15 September 2026 | 09:44

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon Usai OTT

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Selengkapnya