Berita

Ilustrasi/Net

Jaya Suprana

Becak

SELASA, 16 JANUARI 2018 | 07:32 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

PARA penderita becakphoia alias pembenci becak sebaiknya jangan membaca naskah ini. Demikian pula para pendukung kebijakan memusnahkan becak dari permukaan kebudayaan Nusantara jamanow mohon berkenanmemaafkan naskah yang berupaya meletakkan becak pada porsi dan proporsi kemanusiaan ini akibat saya memang pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan.

Kendaraan Rakyat


Sanubari saya niscaya tergetar di saat melihat becak. Pada jenis kendaraan tradisional angkutan rakyat itu, saya melihat warisan peradaban dan kebudayaan Nusantara.


Dipandang dari aspek ekonomi, becak juga bukan tidak penting. Kendaraan rakyat itu merupakan sarana mencari nafkah bagi rakyat dan keluarga mereka. Secara pribadi juga pernah mencoba mengayuh becak dan gagal total karena ternyata sungguh tidak mudah mengayuh becak.

Namun di masa kini, ternyata becak dianggap sudah anakronis alias sudah ketinggalan zaman di kota Jakarta yang sering dipuja-puja sebagai metropolitan bahkan megapolitan sebab dianggap suatu kota super ultra hiper modern. Secara alasanogis, ternyata alasan alias dalih menganakroniskan becak juga sangat meyakinkan maka kaprah dogmatis dianggap sangat tepat alias tidak boleh dipermasalahkan lagi.

Becak dianggap sebagai kendaraan yang tidak manusiawi sebab terkesan semacam aliran exploitation de l’homme par l’homme , eksplotasi manusia terhadap manusia deras mengalir di situ. Becak akibat memang merupakan kendaraan rakyat jelata dicemooh sebagai lambang kemiskinan yang mempermalukan ibukota negara Indonesia. Maka tidak terbantahkan lagi bahwa memang apabolehbuat becak hukumnya wajib untuk dibasmi habis dari permukaan bumi ibukota negara Republik Indonesia sebagai kebanggaan bangsa, negara dan rakyat Indonesia.

Paris


Ternyata becak di ibukota negara Perancis, Paris malah dianggap sebagai daya tarik pariwisata dengan tarif per kilometer jauh lebih mahal ketimbang taksi. Becak di Paris sama sekali tidak dianggap exploitation de l’homme par l’homme  meski istilah itu justru berasal dari bahasa Perancis.  Pendek kata, becak di Paris sama sekali bukan lambang kemiskinan.

Dalam kunjungan ke Beijing pada tahun 2017, saya dan Ibu Ayla naik becak Beijing menelusuri lorong lorong kota tua Ibukota Republik Rakyat China. Mungkin pemikiran pemerintah DKI Jakarta memang jauh lebih modern ketimbang pemerintah kota Paris dan Beijing.

Kontrak Politik


Sebenarnya tidak perlu repot membanding-bandingkan kota Jakarta dengan kota lain, sebab Wardah Hafids sempat mengingatkan saya pada fakta sejarah bahwa ribuan tukang becak kota Jakarta pernah mengumpulkan dana sumbangsih masing-masing Rp 1.000 sebagai Koin Perubahan yang diserahkan kepada Presiden Jokowi sebagai ungkapan harapan atas perubahan nasib tentu menjadi lebih baik sesuai janji-tidak-digusur tersurat di dalam Kontrak Politik ditandatangani Ir. Joko Widodo di Penjaringan, Jakarta 15 September 2012 disaksikan rakyat tergabung di Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) Jakarta, Serikat Becak Jakarta (Sebaja), Komunitas Juang Perempuan (KJP), dan Urban Poor Consortium (UPC).

Jutaan rakyat Indonesia merupakan para saksi hidup fakta sejarah bahwa para tukang becak ngowes becak pula lah yang mengawal andong berhias bunga mengusung Presiden Jokowi dan Wapres JK dari Jalan Thamrin ke Istana Negara.  Sayang nurani kemanusiaan Jokowi tidak dilanjutkan oleh Ahok yang tampaknya bernurani lebih 'modern' ketimbang Jokowi.

Anies


Angin segar pembawa harapan bertiup setelah Anies Baswedan sebagai Gubernur Jakarta masa bakti 2017-2022 berjanji akan melanjutkan nurani kemanusiaan Jokowi untuk memperbaiki nasib para tukang becak dengan menghadirkan kembali peran becak secara tertata sebagai kendaraan rakyat mau pun kendaraan turis di  kota Jakarta.

Insya Allah, Anies yang saya kenal sebagai penguasa yang memiliki nurani kebudayaan serta kemanusiaan akan menepati janjinya.[***]


Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan



Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Steve Hanke Ungkit Lagi Keputusan IMF 1998, Klaim Rupiah Bisa Setara Dolar AS

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:12

Gibran Ingin Generasi Muda Jadi Perekat Persatuan Bangsa

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:06

Komut Pertamina Mochamad Iriawan Pastikan Kesiapan SAF dan Operasional B50 di Jawa Timur

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:57

Wall Street Berpesta! Dow Cetak Rekor

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:53

Nasib Nadiem Ditentukan di Sidang Vonis Hari Ini

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:42

Kekayaan AHY Naik Hampir Enam Kali Lipat, Kini Tembus Rp118,65 Miliar

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:29

STOXX 600 Menguat Tipis, Saham Teknologi dan Energi Topang Bursa Eropa

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:24

Jerman Tumbang, Paraguay Melaju ke Perempat Final Piala Dunia 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:14

Pimpin BEI 2026-2030, Jeffrey Hendrik Targetkan Pasar Modal Indonesia Tembus 10 Besar Dunia

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:02

Dana GCA Diklaim Bisa Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Selasa, 30 Juni 2026 | 06:48

Selengkapnya