Berita

Luhut Pandjaitan/net

Politik

CATATAN LBP

Luhut Pandjaitan: Tidak Ada Niat Saya Mengambil Alih Urusan Pihak Lain

RABU, 01 NOVEMBER 2017 | 17:22 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Luhut Binsar Pandjaitan terlanjur dianggap sebagai tokoh politik paling berpengaruh di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Bukan hanya selalu berada di sisi presiden dalam tiap momen penting dan besar, Luhut juga dipercaya memiliki kendali atas banyak hal yang menyangkut urusan pemerintahan.

Menteri Koordinator bidang Maritim yang punya nama beken LBP itu terkesan sering ikut campur dalam wilayah-wilayah kerja dari kementerian lain, bahkan yang ada di luar koordinasinya. Sampai-sampai, ada yang menjulukinya RI 1,5 (RI Satu Setengah).


Baru-baru ini, LBP menulis catatan terbuka yang isinya menjawab tuduhan ia terlalu banyak mengambil porsi kekuasaan.

Dalam "Catatan LBP" ini, Luhut menerangkan bahwa domain kewenangan yang begitu luas "terpaksa" ia jalani demi kepentingan nasional yang lebih besar.

Berikut isi lengkapnya:

BANYAK pertanyaan dan pernyataan kepada saya sepertinya saya mengurusi semua pekerjaan yang seharusnya tanggungjawab orang lain. Dalam perjalanan Jakarta-Kupang di atas ribuan kaki di atas pesawat, saya ingin berbagi kepada teman-teman mengenai tugas sebagai Menko Maritim.

Tugas pokok sebagai menteri koordinator yaitu mengkoordinasikan dan mengendalikan tugas kementerian yang ada di bawahnya. Dalam hal ini yang berada di bawah koordinasi saya; Kementerian Perhubungan, Kementerian Pariwisata, Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Namun dalam menyelesaikan pembangunan di sektor-sektor tersebut tidak mudah karena tidak terintegrasi dengan baik.

Solusi penyelesaian pembangunan harus dilakukan secara holistik karena itu saya berkoordinasi dengan kementerian lain. Misalnya penanganan garam ternyata ada problem lingkungan dan tanah karena itu saya menggandeng Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR).

Begitu juga pengalaman menangani Mandalika. Meski pariwisata berada di bawah koordinasi saya tapi ada persoalan sengketa tanah disana maka saya mengajak Menteri ATR agar segera mendapatkan solusi. Kini Mandalika sudah dalam tahap pembangunan dan nanti kita akan mempunyai Cruise Terminal di Pelabuhan Benoa.

Contoh lain adalah dalam penanganan LRT dan MRT. Selain koordinasi dengan kementerian di bawah saya yaitu Kementerian Perhubungan, kami juga harus berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Lingkungan Hidup, Keuangan, ATR dan Pemda. Kemarin, 28 Oktober saya meresmikan jalur penerbangan Garuda Singapore ke Danau Toba untuk akses turis mancanegara ke sana, saya berkoordinasi dengan Menteri BUMN dan Garuda.

Bapak-Ibu dan teman-teman selain menangani Mandalika yang tertunda penanganannya hampir 29 tahun pemerintah juga menyelesaikan proyek pembangunan tertunda lainnya seperti Suwung lokasi pembangunan waste energy, Flight Information Region (FIR) yang hampir dilupakan orang karena 45 tahun tidak ditangani, juga reklamasi yang tidak selesai sejak jaman Pak Suharto. Kini semua dalam taraf pembangunan dan diharapkan segera selesai dengan baik. Selain itu untuk kedepan pemerintah akan membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang sedang dirancang di Cikarang, Kerawang dan Bekasi.

Pilihan kepada daerah-daerah tersebut karena hampir 60% industri ada di sana sehingga tidak perlu membangun kawasan baru, hemat biaya untuk para tenaga kerja terutama transportasi, pembangunan harus efektif dan berguna bagi masyarakat serta untuk kepentingan nasional.

Masih banyak lagi pembangunan yang harus diselesaikan melalui lintas kementerian. Kita tidak bisa berhasil jika terus mengedepankan ego sektoral. Jadi, kita harus bekerjasama dengan semua pihak.

Saya berharap Bapak-Ibu dan teman-teman kini paham bahwa tidak ada niat dari saya maupun kementerian lain ingin mengambil alih urusan pihak lain, semua yang kami lakukan semata-mata untuk kepentingan nasional.

Catatan 30 Oktober 2017

[ald]


Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Tak Perlu Takut dengan Ide Kewarganegaraan Ganda Prabowo

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:26

Cara Mengubah Desil DTSEN Secara Online dan Offline, Lengkap dengan Langkahnya

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:15

Tak Cuma Revisi, DPR Sepakat Regulasi Baru Migas

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:14

GBNI Dukung Program Kerakyatan Prabowo

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:37

B50 Perkuat Kemandirian Energi, Hemat Devisa, dan Dorong Transformasi Ekonomi

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:34

Presiden Perintahkan Penanganan Darurat, Wamensos Terjun ke Lokasi Gempa NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:28

21 Kantong Parkir Disiapkan Saat Perayaan HUT ke-81 RI di Jakarta

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:31

MBG Harus Kembali ke Tujuan Awal Bukan Jadi Ladang Bisnis

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:21

Ruas Jalan di Jakarta Direkayasa Saat Perayaan HUT ke-81 RI

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:12

Besok! Ongkos Transjakarta, MRT, dan LRT Jakarta Cuma Rp8

Minggu, 16 Agustus 2026 | 07:30

Selengkapnya