Berita

Politik

Rakyat Butuh Tuntunan Bukan Tontonan

JUMAT, 29 SEPTEMBER 2017 | 10:41 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

BULAN September, sepertinya menjadi bulan isu kebangkitan PKI. Walaupun di negara asalnya, yakni Rusia dan China, komunis itu telah bangkrut, demikian antara lain dikemukakan oleh Buya Syafii Maarif, tapi di negri ini komunisme itu seperti akan bangkit kembali. Utamanya terkait dengan Gerakan 30 September 1965, atau dalam istilah Bung Karno Gerakan 1 Oktober 1965 (Gestok).

Hantu komunis itu semakin menakutkan, ketika Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menginstruksikan kepada seluruh jajarannya untuk menonton kembali Film G 30 S PKI. Entah apa yang ada dalam benak pikiran Panglima TNI kita, sehingga muncul ide mewajibkan jajarannya menonton film tersebut. Padahal isi dalam film tersebut tidak sepenuhnya benar, karena dibuat oleh rezim Orde Baru yang tengah berkuasa ketika itu.  History has been written by the victors. Inilah adagium yang konon pertama kali dikemukakan oleh Winston Churchil yang mendominasi asasi modern dan post modern mengenai natur dari sejarah.   

Pro dan kontrapun bermunculan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) termasuk yang menolak pemutaran film tersebut ditonton oleh anak-anak SD dan SMP. Sebab tayangan dalam film tersebut banyak mengandung unsur kekerasan yang tidak layak ditonton oleh anak-anak. Tapi instruksi Panglima TNI kepada jajarannya jalan terus. Beberapa daerah yang mengadakan nonton bareng (nobar) film tersebut bahkan diputar di tanah lapang, ditonton oleh semua kalangan tak terkecuali anak-anak. Padahal film tersebut ditujukan untuk usia remaja, bukan anak-anak. Bayangkan anak-anak nonton film yang mengandung unsur kekerasan tanpa didampingi orang tuanya, tentu ini sangat memprihatinkan.


Jika film tersebut dimaksudkan agar generasi muda mengetahui dan memahami sejarah bangsa, kenapa harus dengan nonton film saja? Bukankah di negeri ini ada institusi pendidikan, mulai dari PAUD sampai Perguruan Tinggi. Kenapa Panglima TNI tidak menggandeng Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi untuk bersinergi mengajarkan sejarah perjuangan bangsa yang komprehensif secara baik dan benar kepada seluruh generasi muda?

Jika mengacu kepada strategi menyampaikan pesan dalam Al Qur’an, Allah  menggunakan kata basyiran (kabar gembira) dan nadziran (ancaman). Menariknya, pesan yang disampaikan Allah selalu mendahulukan kabar gembira dari pada ancaman. Ketika menyampaikan kabar gembira, Al Qur’an menggunakan kabar basysyara-yubassyiru yang dalam gramatika Arab mengandung arti berulang-ulang. Namun ketika menyampaikan ancamana, Al Qur’an menggunakan kata andzara-yundziru yang mengandung arti sekali saja.

Artinya, dalam menyampaikan pesan, Allah selalu membangun situasi informasi yang positif, didominasi oleh kabar gembira, bukan kabar yang merepotkan (Amalee, 2017).

Ancaman dan peringatan memang ada dalam Al Qur’an, tapi tidak dominan. Untuk mengubah perilaku manusia, pendekatan paling banyak diterapkan Al Qur’an adalah -modeling, memberikan contoh yang baik untuk ditiru. Itulah sebabnya Nabi Muhammad Saw menjadi suri tauladan yang baik (uswatun hasanah), baik dalam ucapan maupun perbuatan (QS. Al Ahzab ; 21). Yaitu dengan mengangkat sosok-sosok teladan yang inspiratif dan mencerahkan umat. Karena itu, lebih dari sepertiga isi Al Qur’an adalah kisah.  

Dalam dunia periklanan, pendekatan menakut-nakuti kini mulai ditinggalkan. Konsumen yang makin kritis, membuat iklan-iklan gaya lama tak efektif. Dalam studi The Ethicalilty of Using Fear for Social Advertising, Damien Arthur dan Pascale Quester mengungkap bahwa iklan-iklan yang manakut-nakuti setidaknya memiliki tiga masalah besar; 1). Menyebarkan depresi pada audiens, 2). Seringkali pesan inti dari iklan malah tidak tertangkap oleh audiens, 3). Iklan jenis ini menunjukan rendahnya kepekaan sosial. Karena itu, sekarang kita sering melihat iklan-iklan yang lebih inspiratif, positif dan inspiratif (Amalee, 2017).

 Idealnya, mengajak generasi muda untuk menonton film sejarah juga dilakukan dengan tuntunan yang baik bukan dengan akrobat politik yang bisa kontra produktif dengan ajakan untuk menonton film tersebut. Apalagi, isi film G 30 S PKI oleh sebagian kalangan menampakkan propoganda rezim Orde Baru. Sehingga tidak semua orang sependepat dengan isi yang terkandung di dalamnya.

Di sinilah pentingnya tuntunan yang baik dari para pemimpin negeri ini dalam mengajak kepada kebaikan. Dalam kaidah fiqh disebutkan apa yang lebih banyak perbuatannya, tentu lebih banyak keutamaanya. Itulah sebabnya rakyat butuh tuntunan nyata dalam bentuk perbuatan baik yang bisa menjadi tontonan, bukan cuma tontonan yang justru bisa menjadi tuntunan yang memuakkan. Wallahualam. [***]

Penulis adalah Direktur Eksekutif Al Wasath Insititute dan Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia


Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

UPDATE

Momen Haru, Teddy Kenang Perjalanan Gubernur Pramono di Kantor Setkab

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:16

Fondasi Membangun Ekosistem Informasi yang Sehat di Era Digital

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:14

Jangan Sampai Pengunduran Diri Gubernur BI Picu Gejolak Pasar

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:11

PDIP Soroti Kasus Febrie: Penegakan Hukum Tidak Boleh Tebang Pilih

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:07

Kuasa Hukum Nadiem Laporkan Dugaan Pelanggaran Etik dan Intimidasi Saksi ke KY

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:04

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KDKMP Diklaim Bisa Tambah Pendapatan Petani hingga Rp263 Triliun

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:59

Transformasi Digital BRI Pacu Pertumbuhan Bisnis Merchant dan Transaksi QRIS

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:51

Chad Ikuti Jejak Burkina Faso, Mali, dan Niger Keluar dari ICC

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:49

Hasto Ogah Tanggapi Kaesang Maju Nyaleg di Jateng

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:36

Selengkapnya