Berita

Politik

Ketika Sekjen PDIP Buka Dialog Megawati Dan Jokowi

JUMAT, 01 SEPTEMBER 2017 | 19:40 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

RMOL. Sekjen DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, mengikuti perayaan Idul Adha 1938 Hijriyah di Masjid Al-Huda, Teggumung Wetan, Surabaya, yang juga dihadiri Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf.

Saat menyampaikan sambutan, Hasto Kristiyanto mengisahkan dialog antara Ketua Umum PDI Perjuangan yang juga Presiden RI Kelima, Megawati Soekarnoputri, dengan Presiden RI Joko Widodo. Kata Hasto, dialog itu didasari oleh Pancasila sila pertama soal Ketuhanan yang Maha Esa. Ketuhanan yang dimaksud adalah ketuhanan yang berkebudayaan, penuh toleransi, berbudi pekerti, tanpa egoisme.

Megawati dan Jokowi lalu berdialog soal bagaimana membumikannya, demi kesejahteraan rakyat Indonesia. Saat itu, kata Hasto, Jokowi bertanya kepada Megawati soal bagaimana susunan kabinet akan dibentuk. Megawati lalu berkata dengan jelas kepada Jokowi, bahwa republik ini dibangun dengan perjuangan, tetesan keringat, darah dan air mata. 


Lalu, siapa yang berkeringat bagi republik? Pada 1912, didirikanlah Muhammadiyah. Pada 1926, didirikanlah Nahdatul Ulama. Pada1927, didirikan Partai Nasional Indonesia. Dan pada 1945, Bung Karno membangun Tentara Nasional Indonesia.

Megawati lalu menekankan kepada Jokowi, bahwa kalau keempat kekuatan ini bersatu, maka ‎Indonesia yang adil dan makmur akan terwujud dengan baik. Selanjutnya, kata Hasto, Megawati juga mengingatkan Jokowi, bahwa Islam yang masuk ke Indonesia adalah Islam yang membangun peradaban, Islam yang masuk dengan tradisi perdagangan.

"Karena itulah perkuat ekonomi rakyat, libatkanlah umat Islam dalam kegiatan ekonomi itu. Karena inilah subjek sejati Islam yang ada di Indonesia," kata Hasto mengutip pernyataan Megawati.

Hasto secara pribadi mengatakan, sikap demikian berbeda dengan tradisi di Orde Baru, dimana Islam dijauhkan dari perdagangan.

Dilanjutkan dia, oleh karena itulah Presiden Jokowi, bersama Nahdatul Ulama dan Ketua Majelis Ulama Indonesia KH Mar'uf Amin, membangun ekonomo untuk Ummat.

"Itulah prinsip ketuhanan yang menyatu dengan tradisi kemanusiaan yang adil dan beradab. Tanpa ketuhanan yang bicara soal keadilan dan beradab, tak ada artinya," kata Hasto.

Hasto juga menyampaikan bahwa Idul Adha bukan sekedar jalan pengorbanan demi keyakinan‎ kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tapi juga sebagai cerminan bagaimana kepasrahan jiwa sebagai umat kepada Sang Maha Pencipta. Melalui itu, Ummat tak hanya menempuh jalan  keimanan, tetapi juga menempuh jalan pengabdian bagi bangsa dan negara.

‎Dia mengaku sudah tiga tahun terakhir berada di Jawa Timur untuk merayakan Idul Adha, demi menyatu dengan Wong Cilik. Dan bicara Wong Cilik, yang di bawah adalah adanya kaum Nahdliyin dan Marhaen.

Jawa Timur memang punya arti yang bersejarah bagi partainya. Sebab di Jawa Timur, Bung Karno lahir dan belajar Islam sebagai semangat pembebasan dengan HOS Tjokroaminoto. Islam lah yang memberikan inspirasi kepada watak patriotisme dan nasionalisme Bung Karno.

Jawa Timur juga merekam jejak historis kultural PDIP dengan Nahdatul Ulama. Pada Oktober 1945, Bung Karno berkonsultasi dengan para ulama yang menghasilkan Resolusi Jihad. Lahirlah inspirasi untuk menggerakkan rakyat membela kemerdekaan dengan mengorbankan jiwa dan raga pada 10 November 1945.

"Oleh Pak Jokowi kemudian dijadikanlah momen itu sebagai peringatan Hari Santri, demi memperingati bagaimana Resolusi Jihad menggerakkan rakyat di Jatim menjadi benteng kemerdekaan," ujar Hasto.

"Dengan semangat Idul Adha ini, mari bumikan Pancasila, kita kobarkan ‎ semangat pengorbanan untuk bangsa dan negara, dengan semangat dedication of life," tandasnya.

Selain Syaifullah Yusuf, hadir juga Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur yang Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Kusnadi. Dilakukan penyembelihan hewan kurban berupa 10 ekor sapi dan 10 ekor kambing. Hasto dan Kusnadi disambut dengan meriah di mesjid yang dibangun dengan gotong royong itu. [ysa]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya