Berita

Hukum

KPK: Kematian Johannes Marliem Tanggung Jawab Pemerintah

KAMIS, 17 AGUSTUS 2017 | 14:23 WIB | LAPORAN:

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menilai kematian saksi Johannes Marliem merupakan tangung jawab pemerintah Indonesia.

Menurut Wakil Ketua KPK Saut Situmorang, Johannes merupakan salah satu anak bangsa yang patut dibanggakan lantaran bisa berkarya di luar negeri. Di samping itu, kesaksian dari Johannes juga dibutuhkan dalam menguak korupsi proyek pengadaan kartu identitas elektronik (e-KTP) yang menyeret sejumlah nama, baik pejabat Kementerian Dalam Negeri, anggota dewan dan swasta.

"Dia (Johannes Marliem) orang baik itu, pergi ke Amerika Serikat membawa nama bangsa Indonesia yang disebut sebagai diaspora itu, dari dia orang luar tahu oh ternyata orang Indonesia juga ulet. Tapi at the end kenapa dia jadi seperti itu, sebetulnya itu jadi tanggung jawab kita," jelas Saut di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (17/8).


Saut menjelaskan, kematian Johannes bukan karena KPK terus mengekspos nama-nama saksi kasus e-KTP. Melainkan Johannes sediri yang membuka identitasnya kepada media, termasuk mengungkap rekaman sejumlah pertemuan terkait proyek e-KTP yang dimilikinya.

"KPK tidak pernah membuka dia (Johannes), dia yang membuka dirinya sendiri. Kami tidak pernah membuka-buka, kan dia yang ngomong ke media. Media tahu darimana yang 500 mega (rekaman pertemuan), apa dari KPK, tidak kan," ujarnya.

Johannes merupakan direktur PT Biomorf Lone LLC. Perusahaannya menjadi pemasok produk Automated Finger Print Identification Sistem (AFIS) merek L-1 untuk Konsorsium PNRI selaku pelaksana proyek e-KTP. Belakangan diketahui Johannes meninggal dunia lantaran bunuh diri.

Terhait hal itu, Saut menilai bahwa seseorang yang sudah menduduki posisi tinggi dan namanya terseret suatu kasus akan mengalami stres. Menurutnya, Johannes merupakan korban dari skandal korupsi e-KTP.

"Kenapa kita bikin KTP yang seperti itu, sehingga kita mengorbankan diaspora kita di luar negeri. Jadi kita harus memandangnya utuh. Saya katakan dia diaspora, dia bawa nama bangsa, bisa jadi orang kaya di Amerika Serikat. Tapi ketika ada transaksional atau ada kelompok di Indonesia menggeret dia, dia kan jadi korban. Kemudian dia stres, itu kan wajar. High profile person itu tingkat stresnya tinggi," demikian Saut. [wah]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

UPDATE

Plesetan Gelar Adat Jokowi: ‘Baginda Raja Rakus Bin Tamak’

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:50

Proyek Kapal Perang Filipina di PT PAL Dongkrak Industri Lokal Naik Kelas

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:20

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

Pengelolaan Sawit Butuh ‘Nexus Baru’ Hidupkan Ekonomi Sirkular

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:39

Program BISA Biru TelkomGroup Lestarikan Ekosistem Terumbu Karang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:19

TNI dan Tentara Malaysia Perkuat Kesiapsiagaan dan Kerja Sama Kemanusiaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:57

Perjanjian Kerja Bersama Cerminkan Hubungan Industrial yang Sehat

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:45

Sultan Didapuk jadi Ketum TP Sriwidjaja Perkuat Pembangunan Daerah

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:20

Indonesia Berpotensi Terima 260 Juta Dolar AS Lindungi Ekosistem Laut

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:59

Politisi Mutan Bernama Prabowo

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:45

Selengkapnya