Berita

Politik

Megawati Kagumi Karya Lukisan Berkarakter Asli Indonesia

KAMIS, 10 AGUSTUS 2017 | 18:47 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Penting bagi generasi muda Indonesia menghidupkan kembali rasa keaslian dan kemurnian karakter asli bangsa yang tergambarkan dari lukisan-lukisan karya pelukis terdahulu.
 
Demikian disampaikan Presiden Republik Indonesia ke-5 yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri saat menyaksikan pameran lukisan Koleksi Istana Kepresidenan berjudul “Senandung Ibu Pertiwi” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (Kamis, 10/8).
 
Turut mendampingi Megawati, Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dan anggota Komisi III DPR dari Fraksi PDI Perjuangan Dwi Ria Latifa. Adapun kurator lukisan yang mendampingi Megawati keliling menyaksikan lukisan diantaranya Asikin Hasan.
 

 
"Dari dulu kita tahu bahwa karya lukisan ini adalah seni dan hasil dari berpikir yang luar biasa. Sejak kecil saya terbiasa dengan seni lukis sehingga bisa menikmati keindahannya," ujar Mega.
 
Megawati juga menyebut nama pelukis legendaris Basuki Abdullah yang banyak melahirkan karya fenomenal sejak sebelum kemerdekaan hingga kemerdekaan. Menurut Megawati, banyak lukisan yang dikumpulkan Bung Karno merupakan karya Basuki Abdullah.
 
"Kebetulan kalau saya dengar dari beliau bahwa para pelukis juga ikut berjuang meraih kemerdekaan juga membuat strategi menuju kemerdekaan," ujar Megawati.
 
Presiden ke-5 RI ini menambahkan banyak juga lukisan yang dikarya sejak sebelum merdeka. Megawati kemudian menceritakan bahwa sejak kecil sudah tinggal di Istana sehingga sangat mengenal dan akrab dengan lukisan-lukisan yang dipamerkan kali ini.
 
"Kita lihat ada yang terkumpul sejak sebelum merdeka. Terbagi dari tahun ke tahun. Bung Karno suka mengumpulkan pelukis dan berdiskusi. Punya keakraban dengan seniman-seniman," jelasnya.
 
Megawati menambahkan apa yang dikaryakan oleh pelukis Basuki Abdullah juga seperti sebuah perjalanan hidup.
 
"Saya memang menghabiskan masa kecil di Istana. Jadi tahu persis. Pelukis-pelukis seperti Basuki Abdullah, saya panggilnya Om Bas itu saya kenal. Dulu saya pernah digambar oleh Om Bas saat masih kecil," kenang Megawati.
 
Dalam sebuah karya lukisan masa dulu, lanjut Megawati, apa yang digambarkan pelukis adalah yang sangat lekat dan sesuai dengan karakter asli dari objek lukisan. Misalnya lukisan wanita desa yang memang sangat sesuai dengan penampilan maupun karakter asli wanita Indonesia.
 
"Ini seperti identitas. Kalau dulu gambar wanita sesuai dengan sosoknya. Kalau sekarang terlalu dipoles. Aslinya biasa saja tapi gambarnya terlalu cantik," jelas Megawati.
 
Megawati juga menyampaikan bahwa lukisan-lukisan tersebut menjadi bahan renungan agar generasi muda harus bisa melihat betapa kaya kebudayaan Indonesia di bidang seni lukis. Dan bangsa Indonesia harus bisa mengapresiasinya.
 
"Sekarang kadang kita lihat dari kolektor masa kini, juga pelukisnya yang hanya karena trend lalu main poles. Padahal sebenarnya dalam seni lukis dalam bahasa Jawa ada namanya "roso" (rasa). Itu sekarang tak ada lagi," jelasnya.
 
Megawati mengatakan, kata-kata "roso" dalam bahasa Jawa sulit diungkapkan dengan kata-kata. Bahkan kalau ditanya secara pikiran sulit diterjemahkan karena "roso" dalam budaya itu bagian dari kehidupan peradaban.
 
"Saya lihat mentally jiwa, "roso bangsa" (rasa kebangsaan) kita berkurang. Saya tak bisa menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia. Bagaimana menjawab pertanyaa "piye rosomu?" (Bagaimana rasa kebangsaanmu?)," kata Megawati.

Salah satu karya yang menjadi perhatian adalah lukisan Pantai Flores karya Basuki Abdullah. Karya ini dibuat berdasarkan lukisan cat air Presiden Sukarno saat dalam pengasingan.
 
Kemudian saat menyaksikan lukisan Harimau Minum, karya Raden Saleh, Megawati menanyakan kepada kurator: "Lukisan ini sudah pernah direstorasi? Sudah tua jadi memang harus dijaga baik-baik," ujar Megawati mengomentari lukisan tertua yang dipamerkan.
 
Kemudian, Megawati terlihat begitu cermat mendengarkan penjelasan dari kurator mengenai lukisan Keluarga Tani karya Kosnan. Lukisan yang menggambarkan keluarga sederhana khas Indonesia ini merupakan hadiah dari Gubernur Akademi Angkatan Laut, R.S Subijakto pada tahun 1962.
 
"Yang ini kondisinya masih bagus, ya," puji Megawati. [ysa]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya