Berita

Setya Novanto/Net

Turbulensi Politik, Hadang Jokowi Pasca Penetapan Setya Novanto Tersangka Koruptor

SELASA, 18 JULI 2017 | 07:51 WIB | OLEH: DEREK MANANGKA

JIKA KPK serius dengan janjinya bahwa setelah penetapan Setya Novanto sebagai tersangka, nama-nama dalam surat dakwaan akan ditindaklanjuti, maka turbulensi atau gejolak politik yang cukup serius dalam beberapa waktu mendatang diperkirakan tak terhindarkan.

Di sini, Presiden Joko Widodo mendapat ujian tersulit dan terberat. Apakah dia mampu mengatasinya, setengah mampu mengatasinya, atau tidak sama sekali.

Yang pasti, waktu, enerji dan kemampuan menangani masalah “krisis”, di sinilah yang jadi ujian terberat bagi Jokowi.


Andaikata mampu, peluangnya di Pilpres 2019 tetap terbuka.

Turbulensi yang paling kuat, diperkirakan terjadi di DPR-RI. Apakah jabatan ketua lembaga legislatif itu menjadi kosong atau beralih ke pimpinan lain.

Namun baik kosong atau diambil alih oleh pimpinan lain, secara politik tetap beresiko bagi pemerintahan Joko Widodo.

Terutama karena pimpinan DPR lainnya yang tersisa, bukanlah figur dan politisi yang menjadi pendukung pemerintahan Joko Widodo.

Skenario paling buruk, DPR di bawah pimpinan tokoh politik yang berseberangan dengan Joko Widodo, bisa menciptakan situasi terjadinya pemakzulan (impeachment).

Dua Wakil Pimpinan DPR, Fadli Zon dari Gerindra dan Fahri Hamzah, yang tidak lagi diakui oleh PKS sebagai wakil, diperkirakan sosok yang merasa diuntungkan dengan perubahan pimpinan.

Mereka berdua kemungkinan besar tak akan mau menyia-nyiakan peluang emas ini sebagai kesempatan untuk ‘mengambil alih’ jabatan Ketua DPR.

Dan bukan rahasia lagi kedua tokoh muda Islam ini, punya kemampuan memainkan posisi tersebut, termasuk ‘menggoyang’ kedudukan Presiden Joko Widodo.

Mengenai kedudukan Setya Novanto di Partai Golkar, mungkin tak terlalu bermasalah. Sebab ada Ketua Hariannya. Dan Ketua Hariannya pun sohibnya Setya Novanto. Sehingga tidak gampang Golkar mengubah kebijakannya terhadap Jokowi. Termasuk dukungan awal bahwa Golkar akan mendukung Jokowi sebagai Capres 2019.

Di samping itu, di Golkar masih ada Luhut Panjaitan, Menko Kemaritiman, yang dikenal salah seorang pendukung kuat Jokowi dan yang punya kemampuan melobi serta mengontrol Golkar secara remote.

Persoalan yang cukup serius, terletak di PDIP. Sejumlah nama yang tercantum dalam dakwaan skandal korupsi e-KTP, terdapat kader PDIP.

Menteri Hukum dan HAM Yasona Laoly. Jika Laoly menjadi tersangka dan harus pindah ke hotel pordeo, mau tak mau Jokowi harus melakukan perombakan kabinet.

Nah siapapun yang akan direkrut Jokowi kalau personelnya berasal dari PDIP, tetap saja perekrutan ini memiliki persoalan psikologis.

Demikian halnya kalau Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey, juga ikut terjerat bersama Setya Novanto, paling tidak pemerintahan di dua daerah tersebut akan mengalami gangguan.

Perkiraan turbelensi dibuat, sebab biasanya kalau seseorang sudah menjadi tersangka KPK, sama dengan 99 persen fisiknya sudah akan menjadi penghuni penjara.

Turbelensi politik yang cukup kuat terjadi, sebab persoalan lain yang dihadapi Jokowi relativ. cukup banyak. Mulai dari perlawanan kekuatan oposisi yang terlihat maupun yang tak nampak.

Terorisme yang menggunakan agama sebagai kendaraan, ekonomi yang stagnan, pengampunan pajak yang tidak mencapai target, gonjang-ganjing soal angket KPK oleh Pansus DPR dan penyelesaian RUU Pemilu 2019, merupakan sejumlah beban ikut memperberat turbelensi. [***]

Penulis adalah wartawan senior

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya