Berita

Faisal

Hukum

Pemuda Muhammadiyah Imbau Pansus KPK Segera Sadar

JUMAT, 07 JULI 2017 | 17:12 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Panitia Khusus Hak Angket Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bekerja atas nama UU MD3 (MPR, DPR, DPRD, dan DPD). Namun, semakin hari watak aslinya menunjukkan gagal paham terhadap fokus kerjanya.

Demikian disampaikan Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Bidang Hukum, Faisal. Bahkan, sambung Faisal, sedari awal Pansus KPK tidak paham betul konstruksi Pasal 79 (3) UU MD3.

Karena sampai detik ini Pansus tidak pernah menyampaikan ke publik terkait pandangan hukum awal sebagai fokus objek penyelidikan angket.  Setidaknya hal itu akan menjadi panduan orientasi penyelidikan.


"Jelas Pansus gagal paham yang berujung pada disorientasi apa sejatinya yang hendak ditelusuri. Bahkan jika merujuk pada UU, sudah menjadi kewajiban pansus jelaskan pelaksanaan UU mana yang dituduhkan tidak dipatuhi oleh KPK, karena hal itu merupakan bagian objek penyelidikan hak angket," ucap Faisal lewat pesan singkat yang diterima sesaat lalu (Jumat, 7/7).

Faisal semakin bingung melihat kinerja Pansus yang tiba tiba-tiba menemui para narapidana kasus korupsi di LP Sukamiskin, Bandung, kemarin. Dia mempertanyakan, apa kaitannya dengan objek angket.

"Untuk menjadi napi, koruptor telah melalui proses dan putusan peradilan. Jika Pansus niat evaluasi KPK, kok malah datang ke napi koruptor. Kami justru curiga, jangan-jangan niat Pansus memang bukan untuk evaluasi tapi kompromi yang ujungnya justru mendegradasi KPK," ungkapnya.

Kandidat Doktor Hukum Universitas Diponegoro mengingatkan bahwa publik sudah cukup kesal dengan tingkah Pansus KPK tersebut.

Jika memang tersimpan niat baik mengapa mereka menunjuk Ketua Pansus yang disebut oleh Jaksa dalam sidang diduga terima aliran dana E-KTP. Apalagi di tengah itu semua, salah satu anggota DPR teriak lantang minta KPK dibubarkan," sentil Faisal.

Dia berharap Pansus KPK seharusnya secepatnya menyadari bahwa manuver politik Hak Angket ini tidak akan mungkin menjadi niat baik hendak mengevaluasi KPK jika sudah kehilangan fokus tujuannya sejak awal.

"Temui napi koruptor semakin nyata jika Pansus gagal paham terkait objek penyelidikan angket. Wajar jika kami menuding tidak ditemukan urgensi dan prinsip obyektifitas dibentuknya Pansus Angket tersebut," demikian Faisal. [zul]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Suap ke Pejabat ATR/BPN Berawal PT Summarecon Agung Tbk Caplok Lahan Warga

Selasa, 29 September 2026 | 14:21

Prabowo Panggil Mendikti Saintek hingga Kepala BNN, Bahas Pengentasan Narkoba

Selasa, 29 September 2026 | 14:18

BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Jeblok ke Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 29 September 2026 | 14:11

Pimpinan DPR Setuju Komisi XIII Periksa Lapas Cibinong

Selasa, 29 September 2026 | 14:00

Tangis Mahathir Mohamad Pecah Saat Mengantar Istri ke Peristirahatan Terakhir

Selasa, 29 September 2026 | 13:52

Prabowo-Megawati Bakal Bertemu Lagi, Dasco: Nasi Gorengnya Belum Keluar

Selasa, 29 September 2026 | 13:51

Sistem Pemungutan Pajak Digital Luar Negeri sudah Beroperasi

Selasa, 29 September 2026 | 13:48

Bitcoin Masih Stabil Meski Harga Minyak Naik Tajam

Selasa, 29 September 2026 | 13:45

Pekan Ini DPR Bertemu Parpol Non-Parlemen Bahas RUU Pemilu

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

KRI Sriwijaya-100 Bakal Dimodifikasi Dukung Penanganan Bencana

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

Selengkapnya