Berita

Lieus Sungkharisma/Net

Jaya Suprana

Mohon Jangan Hujat Lieus

MINGGU, 23 APRIL 2017 | 06:58 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

JURNALIS handal, Dar Edi Yoga menulis  tentang Lieus Sungkharisma dalam RMOL 10 April 2017 sebagai berikut: Pernyataan Sikap Majelis Adat Budaya Tionghoa Indonesia yang mengatasnamakan masyarakat Tionghoa Indonesia, mendapat reaksi serius dari Koordinator Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KomTak) Lieus Sungkharisma.

Apalagi pernyataan sikap yang ditandatangani Harso Utomo Suwito dan Chandra Kirana itu menuduh Lieus Sungkharisma mencatut dan mendompleng nama Tionghoa untuk kepentingan pribadinya, terutama dalam setiap demo anti cagub tertentu .

Atas adanya pernyataan sikap itu, Lieus mengatakan meski dirinya sama sekali tidak menganggap majelis adat budaya Tionghoa itu ada, namun pernyataan itu telah menyadarkannya betapa saat ini sebutan Tionghoa  telah disalahgunakan untuk kepentingan politik golongan tertentu.


Ditambahkan Lieus, pernyataan sikap semacam itu semakin menguatkan pandangannya selama ini bahwa penyebutan Tionghoa itu memang hanya untuk kamuflase tujuan licik belaka.   

Menurut catatan sejarah politik Indonesia sejak Orde Baru hingga Orde Reformasi, sebagai orang Cina Lieus memang telah melakukan banyak hal dibanding orang-orang Tionghoa yang sekarang ini sok berkoar-koar tentang  persatuan dan kebhinnekaan. Lieus sudah aktif di KNPI dan merupakan salah satu eksponen 6 OKP yang keras menentang rezim Orde Baru.

Lieus aktif menggalang aksi demo terhadap kasus ketidakadilan dan kesewenang-wenangan penguasa menindas rakyat. Atas aktivitas dan kiprahnya itulah sejumlah media kemudian menobatkannya sebagai tokoh Tionghoa.

Lieus memang tidak menolak penobatan itu tetapi kini setelah menyadari penyebutan Tionghoa itu tak  sesuai dengan harapannya, Lieus justru menolak dirinya disebut Tionghoa. "Cukup sudah saya disebut Tionghoa. Saya tak mau lagi dikelompokkan pada orang Tionghoa yang licik, pengkhianat dan tak tau berterima kasih. Tionghoa saat ini sangat bertolak belakangan dengan Tionghoa yang saya perjuangkan dulu. Sekarang panggil saja saya Cina. Itu lebih terhormat buat saya," demikian ungkap Lieus.

Saya tidak berani melibatkan diri ke dalam perbedaan paham antara Lieus Sungkharisma dengan Majelis Adat Budaya Tionghoa. Saya sekedar mencoba meluruskan kekeliruan persepsi tentang diri Lieus Sungkharisma. Setelah tabayyun mengenal Lieus secara lebih dekat saya memperoleh kesan bahwa sosok insan bermata sipit  berbadan gendut ini  adalah seorang warga Indonesia yang tulus mencintai negara, bangsa dan rakyat Indonesia.
Malah kelebihan Lieus ketimbang saya adalah dalam hal keberpihakan ke kaum tertindas. Sementara saya bisanya cuma meratap atau maksimal menulis tentang penderitaan rakyat tertindas, terbukti Lieus  mewujudkan keberpihakan  ke rakyat tertindas menjadi kenyataan sikap dan perilaku. Akibat membela rakyat tergusur di kawasan Mangga Besar malah Lieus pernah dijebloskan ke rumah tahanan.

Bahkan ketika tokoh nasional, Din Syamsuddin berhasil membujuk polisi untuk membebaskan Lieus  ternyata Lieus menolak akibat yang akan dibebaskan hanya Lieus seorang diri saja sementara para rakyat tergusur  tetap ditahan.

Saya  saksi hidup bagaimana Lieus secara ragawi berpihak ke rakyat miskin tergusur di Kampung Pulo, Pasar Ikan, Luar Batang, Bukit Duri sebagai ungkapan solidaritas bagi rakyat tergusur sekaligus koreksi kekeliruan opini publik menggeneralisir kaum keturunan Tionghoa adalah kaum penggusur rakyat.

Maka dengan penuh kerendahan hati, saya memohon kepada sesama warga Indonesia yang berseberangan paham dengan Lieus berkenan menghentikan hujatan terhadap Lieus.

Lieus adalah seorang warga Indonesia yang dari lubuk sanubari terdalam tulus mencintai negara, bangsa dan rakyat Indonesia selaras dengan teks lagu Indonesia Pusaka:  di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda, tempat berlindung di hari tua, tempat akhir menutup mata.[***]

Penulis adalah pembelajar semangat nasionalisme dan kerakyatan
    

 

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Istana Minta Kritik terhadap BI Dijadikan Evaluasi Penguatan Komunikasi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:23

Kursi Dua Wamen Kosong, Pemerintah Belum Siapkan Pengganti

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:10

Mensesneg soal Kabar Said Iqbal Masuk Kabinet: Masih Didiskusikan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:59

Mubes V Kosgoro 1957 Digoyang Penolakan Daerah

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:52

AS Hantam Iran dengan Sanksi Baru, Jaringan Penyelundupan LPG Jadi Target

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:37

Istana Bantah Isu Menkeu dan Gubernur BI Bakal Dicopot

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:31

Prasetyo Hadi: Sinergi Pemerintah, DPR, dan BI Kunci Jaga Stabilitas Ekonomi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:20

Bank Indonesia Sudah Intervensi, Mengapa Rupiah Tetap Melemah?

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:08

Menkeu Purbaya Bantah Omzet Warteg Turun Jadi Bukti Daya Beli Lesu

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:47

Daftar Komoditas Dirilis, Danantara SDI Siap Kendalikan Rezim Baru Ekspor RI

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:21

Selengkapnya