Berita

Politik

Tamasya Al-Maidah Mencederai Demokrasi

SELASA, 18 APRIL 2017 | 12:14 WIB | LAPORAN:

Pengerahan massa bertajuk Tamasya Al-Maidah ke tempat pemungutan suara (TPS) terkait Pemilihan Kepala Daerah DKI putaran kedua tidak wajar dalam proses demokrasi di Indonesia.

"Ini kan proses demokrasi elektoral di Jakarta, jadi yang menentukan ya warga Jakarta sendiri. Pengerahan massa yang berpotensi mengintimidasi ini tidak boleh ada," jelas pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Islam Negeri Jakarta Gun Gun Heryanto saat dikontak, Selasa (18/4).

Tamasya Al-Maidah digagas sejumlah ormas keagamaan yang diketahui dekat dengan pasangan calon Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Dari kacamata Gun Gun, pengerahan massa menjaga TPS bisa dikategorikan sebagai bentuk menyudutkan salah satu pasangan calon. "Harus dilarang dan ditolak, sebab kegiatannya berisiko memicu konflik," jelasnya.

Penyelenggara pemilu dan aparat harus berinisiatif menghentikan Tamasya Al-Maidah yang jelas tujuannya mengarah kepada kegiatan intimidatif. Bahkan perlu tindakan tegas jika mereka nekat melawan larangan yang diberikan.

"Pasangan calon yang terafiliasi dengan kegiatan ini juga harus bertindak, karena malah bisa menjadi bumerang jika hal yang dikhawatirkan terjadi," jelas Gun Gun.

Kepala Kepolisan RI Jenderal Tito Karnavian sebelumnya sependapat bahwa Tamasya Al-Maidah berpotensi mencederai proses demokrasi. Apalagi kegiatan itu bukan merupakan kegiatan resmi pilkada Jakarta.

Polisi, kata Tito, tak segan-segan mengambil tindakan tegas terhadap pengerahan massa ke TPS. "Datang ke TPS dalam jumlah besar membawa dampak intimidatif secara politis dan psikologis. Itu sudah kegiatan politik, dan kami akan menindak tegas dengan diskresi yang ada," ujar dia.

Gun Gun menyarankan, selain siap menang, pasangan calon juga harus bisa bersikap siap kalah. Jangan sampai kepercayaan diri yang sangat tinggi bakal memenangkan pilkada Jakarta malah memicu ekspresi tidak siap kalah. "Jangan sampai ada ekspresi dengan tindakan tidak inkonstiusional, lalu mengerahkan massa yang tak terkendali," kata Gun Gun. [sam]

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Serentak di Tiga Lokasi, KPK Periksa Pegawai Kemenag dan Bos Travel

Jumat, 17 April 2026 | 14:16

Waspadai Phishing dan Malware, BNI Tekankan Keamanan BNIdirect

Jumat, 17 April 2026 | 14:15

Bitcoin Stabil di Level 74.900 Dolar AS

Jumat, 17 April 2026 | 14:11

Ekonomi Jatim Tumbuh 5,33 Persen di 2025, Didongkrak Sektor Manufaktur

Jumat, 17 April 2026 | 14:05

KPK Periksa Direktur Kepatuhan Bank Papua dalam Kasus Korupsi Dana Operasional Papua

Jumat, 17 April 2026 | 14:01

Rekrutmen Manajer Kopdes Tak Boleh Ada Titipan

Jumat, 17 April 2026 | 13:50

Kasus Chat Cabul Mahasiswa Merebak di IPB, DPR Minta Kampus Bertindak Tegas

Jumat, 17 April 2026 | 13:41

Penahanan Harga BBM Non-Subsidi Dikhawatirkan Ganggu Kesehatan Fiskal

Jumat, 17 April 2026 | 13:39

PPIH Ujung Tombak Keberhasilan Penyelenggaraan Haji

Jumat, 17 April 2026 | 13:31

KPK Temukan Dapur MBG Tak Layak, Kasus Keracunan Jadi Alarm Serius

Jumat, 17 April 2026 | 13:22

Selengkapnya